
Tim KKN-TB Unhas hadir menyerahkan bantuan dan memberikan pelayanan kesehatan untuk 64 warga serta pendampingan psikososial 13 anak di Manggarai Timur, Sabtu (22/8/2026). BMKG mencatat terjadi 4.638 gempa susulan pascagempa Flores M 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu. (Dok Humas Unhas)
Ketua Pendamping Tim Unhas, Ilham Alimuddin ST MGis PhD terus melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait. Pendampingan, kata dia, selalu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Situasi kebencanaan di NTT masih jauh dari kata normal. Berdasarkan pembaruan kanal utama BMKG pada Jumat (21/8) pukul 17.00 WIB, tercatat 4.638 gempa susulan pascagempa Flores berkekuatan M 7,7.
Gempa susulan terbesar mencapai M 6,2, dan 119 di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Data itu menunjukkan ancaman di lapangan masih nyata dan membutuhkan kewaspadaan tinggi dari semua pihak.
Ilham mengatakan penyaluran bantuan sekaligus menjadi kesempatan bagi tim untuk melihat langsung kondisi warga dan kebutuhan yang masih diperlukan.
"Kami menyalurkan bantuan langsung kepada warga terdampak. Selain itu, kami juga melihat kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengetahui kebutuhan masyarakat yang masih mendesak," ujar Ketua Pusat Studi Kebencanaan Unhas itu dalam rilis humas Unhas.

Tim KKN-TB Unhas memberikan pelayanan kesehatan untuk 64 warga dan pendampingan psikososial 13 anak di Manggarai Timur, Sabtu (22/8/2026). BMKG mencatat terjadi 4.638 gempa susulan pascagempa Flores M 7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu. (Dok Humas Unhas)
Kehadiran Tim KKN-TB Unhas di Manggarai Timur diarahkan pada respons berbasis kebutuhan masyarakat. Selain distribusi logistik, mahasiswa melakukan pemantauan kondisi lapangan dan membangun koordinasi dengan berbagai pihak.
Tim berencana melanjutkan pemantauan dan koordinasi sebagai bagian dari kontribusi Unhas dalam mendukung respons serta proses pemulihan masyarakat pascabencana di Nusa Tenggara Timur.
Di tengah gempa susulan yang tak kunjung berhenti, layanan kesehatan dan pendampingan psikososial bagi anak-anak menjadi titik masuk yang strategis. Anak-anak adalah kelompok paling rentan dalam bencana.
Kehadiran tim yang secara khusus mendampingi mereka mewarnai dan bermain puzzle mungkin tampak sederhana. Namun, di balik itu, ada upaya memulihkan rasa aman yang hilang.
Dan di saat rumah-rumah masih berguncang, rasa aman adalah kebutuhan yang tak kalah mendesak dari sekadar logistik. (*)








