Sport

Terkuak Latar Belakang Pemecatan Pelatih United, Konflik Internal Antara Wilcox dan Amorim

Konflik dengan Direktur Teknis United, Jason Wilcox, disebut menjadi pemicu pemecatan Rubern Amorim dari posisi pelatih. (the sun)

MANCHESTER, UNHAS.TV - Ketegangan di balik layar Manchester United menjelang pemecatan Ruben Amorim mulai terkuak.

Sebuah pertemuan internal antara Amorim dan Direktur Teknis United, Jason Wilcox, pada Jumat lalu disebut menjadi pemicu utama memburuknya hubungan kerja keduanya dan berakhir dengan dipecatnya pelatih asal Portugal tersebut.

Sumber internal klub menyebutkan, dalam pertemuan itu Wilcox melontarkan kritik tajam terhadap Amorim, termasuk menyatakan bahwa sang pelatih “tidak berada pada level atau pedigree yang sama” dengan sejumlah pelatih elite Eropa.

Rupanya, ucapan itu memicu reaksi keras dari Amorim, yang disebut “meledak” atas evaluasi tersebut. Diketahui, Wilcox adalah pendukung terbesar sang pelatih.

Menurut sumber yang sama, Wilcox mempertanyakan pendekatan taktik Amorim dan menyampaikan evaluasi dengan nada yang dianggap terlalu merendahkan.

Padahal, secara struktural, Wilcox memang berada di atas Amorim dan berwenang memberikan umpan balik kinerja. “Wilcox adalah atasannya dan merasa berhak menyampaikan evaluasi,” kata sumber klub.

Namun, cara penyampaian itulah yang dinilai menjadi persoalan. Amorim, yang direkrut dengan biaya kompensasi sekitar £30 juta (senilai Rp680 miliar), merasa otoritasnya sebagai manajer digerogoti.

Ketegangan itu kemudian tercermin dalam konferensi pers pra-pertandingan pada Jumat sore, ketika Amorim tampil tidak seperti biasanya. Ia muram dan penuh komentar sindiran, seraya mengisyaratkan adanya masalah serius di balik layar.

Ledakan emosi Amorim mencapai puncaknya dalam konferensi pers terakhirnya. Ia secara terbuka menyebut nama Thomas Tuchel, Antonio Conte, dan Jose Mourinho, seolah menegaskan posisinya tidak kalah dengan mereka.

“Saya tahu nama saya bukan Tuchel, bukan Conte, bukan Mourinho,” kata Amorim. “Tapi saya adalah manajer Manchester United,” komentarnya yang seolah menyebut ia sama hebatnya dengan nama-nama itu. 

Pernyataan itu dipandang sebagai respons langsung atas komentar Wilcox soal pedigree alias silsilah kepelatihannya.

Amorim menegaskan dirinya datang ke Old Trafford sebagai “manajer”, bukan sekadar pelatih, dan menolak anggapan bahwa posisinya dapat direduksi oleh hirarki internal klub.

Ia bahkan menyatakan tidak akan mengundurkan diri dan siap menjalankan tugas hingga dewan memutuskan sebaliknya.

Dari sisi performa, posisi Amorim sendiir memang rapuh. Manchester United hanya meraih tiga kemenangan dari 11 laga terakhir di bawah kepemimpinannya.

Secara statistik, ia mencatatkan persentase kemenangan terendah dibandingkan seluruh manajer United di era Premier League. Angka-angka itu memperlemah posisinya di hadapan manajemen yang sejak awal menuntut perbaikan cepat.

Meski demikian, pemecatan Amorim ternyata tidak sepenuhnya sejalan dengan suasana ruang ganti. Sumber yang dekat dengan tim menyebutkan mayoritas pemain tidak puas dengan keputusan klub.

Amorim dinilai populer di kalangan pemain dan masih mendapat dukungan dari sebagian besar skuad utama. Para pemain diberi tahu soal pemecatan tersebut pada Senin pagi.

Meski begitu, beberapa di antara pemain mengaku telah merasakan tanda-tanda kepergian Amorim dalam beberapa hari terakhir, seiring memanasnya situasi internal.

Sepanjang hari Senin (5/1/2026), sejumlah pemain United menyampaikan ucapan terima kasih kepada Amorim melalui unggahan media sosial.

Konflik Wilcox dan Amorim ini kembali menyoroti dinamika kekuasaan di Manchester United, klub yang dalam beberapa tahun terakhir kerap terjebak dalam tarik-menarik antara manajer, direktur, dan pemilik.

Pertemuan singkat namun eksplosif antara Wilcox dan Amorim kini dipandang sebagai simbol retaknya komunikasi. Debat keduanya menjadi salah satu episode penentu yang mengakhiri masa jabatan Amorim di Old Trafford. (*)