Pendidikan
Sulsel

Tim PKM Lintas Kampus Kembangkan Bakso Bandeng Kelor, Cegah KEK dan Anemia di Gowa

PEMBERDAYAAN PKK - Tim PKM Kolaborasi Kampus STIK Makassar dan Polipangkep menggelar pelatihan dan pemberdayaan bagi ibu PKK dalam pembuatan bakso ikan bandeng dan kelor di Desa Je’nemadinging, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, 4 Juli 2026. Bakso ikan bandeng dan daun kelor ini dapat mencegah kekurangan energi kronik dan anemia pada ibu hamil. (Dok PKM Polipangkep)

GOWA, UNHAS.TV - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Makassar mengembangkan bakso berbahan ikan bandeng dan daun kelor sebagai alternatif pangan bergizi untuk membantu mencegah kekurangan energi kronik dan anemia pada ibu hamil.

Inovasi tersebut diperkenalkan kepada Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Je’nemadinging, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa.

Anggota PKK dilatih memilih bahan, menyusun formulasi adonan, mengolah, menyimpan, hingga mengemas bakso bandeng kelor secara mandiri.

Program ini dipimpin Suarni SKep Ns MKep, dosen STIK Makassar, dengan melibatkan Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan atau Polipangkep.

Kolaborasi lintas disiplin ilmu itu memadukan edukasi kesehatan ibu hamil dengan penerapan teknologi pengolahan pangan berbasis sumber daya lokal.

Suarni mengatakan ikan bandeng dan daun kelor dipilih karena mudah ditemukan serta memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi pangan keluarga. Ikan bandeng menjadi sumber protein, sedangkan daun kelor mengandung zat besi, vitamin, mineral, dan antioksidan.

Kedua bahan tersebut kemudian diolah menjadi bakso agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Bentuk produk yang praktis juga memungkinkan bakso bandeng kelor dikonsumsi sebagai lauk keluarga atau dikembangkan menjadi usaha rumah tangga.

“Kami berharap Kelompok PKK dapat menjadi agen perubahan di masyarakat dengan terus mengedukasi ibu hamil mengenai pentingnya gizi seimbang serta mampu memproduksi bakso bandeng kelor secara mandiri sebagai salah satu alternatif pangan bergizi,” kata Suarni.

Program bertajuk “Pemberdayaan Kelompok PKK melalui Pelatihan Pembuatan Bakso Bandeng Kelor untuk Mencegah Kekurangan Energi Kronik dan Anemia pada Ibu Hamil” itu berlangsung secara bertahap sejak 30 Mei hingga 27 Juli 2026.

Kegiatan memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.

Dana disalurkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun 2026 yang dikelola lewat Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat atau BIMA.

Tim PkM menilai inovasi pangan lokal diperlukan karena risiko kekurangan energi kronik atau KEK dan anemia masih menjadi persoalan bagi ibu hamil. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, persalinan prematur, serta gangguan pertumbuhan anak.

Persoalan itu tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan. Pengetahuan keluarga mengenai kebutuhan gizi selama kehamilan, pemilihan sumber protein dan zat besi, serta cara mengolah bahan pangan juga menentukan kualitas asupan ibu hamil.

Daun Kelor Belum Dioptimalkan

Di Desa Je’nemadinging, ikan bandeng dan daun kelor tersedia sebagai bagian dari sumber pangan masyarakat. Namun keduanya belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk pangan fungsional yang praktis dan dapat diproduksi berulang kali oleh keluarga.

Tim kemudian merancang bakso bandeng kelor sebagai teknologi tepat guna. Produk tersebut dibuat dengan peralatan yang relatif sederhana, seperti blender atau pengolah makanan, timbangan, alat pencetak bakso, kompor, dan panci.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan koordinasi tim pada 30 Mei 2026. Koordinasi membahas jadwal pelaksanaan, pembagian tugas, penyelesaian administrasi, serta persiapan teknis sebelum tim mendatangi lokasi mitra.



PENYULUHAN - Dosen STIK Makassar, Suarni bersama Hardianti memberikan penyuluhan mengenai kebutuhan gizi ibu hamil untuk warga Desa Jenemadinging, Kabupaten Gowa, pada 20 Juni 2026 lalu. (Dok PKM STIK Makassar)


Pada 10 Juni 2026, tim menggelar sosialisasi dan identifikasi awal bersama Kelompok PKK Desa Je’nemadinging. Kegiatan itu digunakan untuk menjelaskan tujuan program dan mengetahui pemahaman awal peserta mengenai KEK, anemia, serta pemanfaatan pangan lokal bergizi.

Tim juga mengadakan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion. Dari diskusi tersebut, tim menggali kebutuhan masyarakat, kebiasaan pengolahan makanan, serta kesiapan anggota PKK mengikuti penyuluhan, pelatihan, praktik mandiri, dan evaluasi.

Tiga hari kemudian, tim mengadakan bahan dan peralatan produksi. Peralatan yang disiapkan meliputi pengolah makanan, alat pencetak bakso, timbangan digital, kompor gas, dan panci berbahan baja tahan karat.

Bahan yang disediakan antara lain ikan bandeng, daun kelor, tepung, bumbu, dan perlengkapan pengemasan. Pengadaan sarana itu ditujukan agar anggota PKK tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi dapat mempraktikkan proses produksi secara langsung.

Pada 20 Juni 2026, Suarni bersama Hardianti memberikan penyuluhan mengenai kebutuhan gizi ibu hamil. Peserta mendapatkan penjelasan tentang penyebab dan dampak KEK serta anemia, pentingnya konsumsi protein dan zat besi, serta manfaat bahan pangan lokal.

Materi disampaikan melalui media edukasi sederhana dan diskusi interaktif. Anggota PKK dapat menyampaikan persoalan yang kerap ditemukan di lingkungan mereka, termasuk keterbatasan variasi makanan dan kebiasaan konsumsi ibu hamil.

Dari Dapur PKK Menjadi Teknologi Pangan Lokal

>> Baca Selanjutnya