Pendidikan
Sulsel

Tim PKM Lintas Kampus Kembangkan Bakso Bandeng Kelor, Cegah KEK dan Anemia di Gowa



PEMBERDAYAAN PKK - Tim PKM Kolaborasi Kampus STIK Makassar dan Polipangkep menggelar pelatihan dan pemberdayaan bagi ibu PKK dalam pembuatan bakso ikan bandeng dan kelor di Desa Je’nemadinging, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, 4 Juli 2026. Bakso ikan bandeng dan daun kelor ini dapat mencegah kekurangan energi kronik dan anemia pada ibu hamil. (Dok PKM Polipangkep)


Penerapan teknologi pembuatan bakso bandeng kelor dilaksanakan pada 4 Juli 2026. Demonstrasi dipandu Ikbal Syukroni dari Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan.

Peserta memulai praktik dengan memilih ikan bandeng dan daun kelor yang layak digunakan. Mereka kemudian mempelajari penimbangan bahan, penyusunan formulasi, penggilingan ikan, pencampuran adonan, pencetakan, perebusan, hingga penyajian.

Pelatihan juga menekankan prinsip higiene dan keamanan pangan. Kebersihan tangan, alat, bahan, ruang produksi, serta ketepatan penyimpanan menjadi bagian yang harus diperhatikan dalam setiap tahap pengolahan.

Metode praktik langsung atau learning by doing digunakan agar peserta memperoleh pengalaman teknis. Tim ingin anggota PKK mampu mengulang proses produksi tanpa selalu bergantung pada pendamping.

Penguasaan formulasi menjadi bagian penting dalam pelatihan. Komposisi ikan, daun kelor, tepung, bumbu, dan air harus disesuaikan agar produk memiliki tekstur yang baik, mudah dibentuk, serta dapat diterima dari sisi rasa.

Tim tidak hanya menempatkan bakso bandeng kelor sebagai makanan tambahan bagi ibu hamil. Produk tersebut juga diarahkan menjadi pilihan lauk keluarga yang dapat dibuat dalam jumlah tertentu, disimpan, dan disajikan kembali sesuai kebutuhan.

Pada 18 Juli 2026, tim melakukan pendampingan intensif kepada seluruh peserta. Anggota PKK diminta memproduksi bakso bandeng kelor secara mandiri, sementara tim mengamati hasil dan memberikan umpan balik.

Penilaian dilakukan terhadap proses pencampuran, bentuk bakso, tingkat kematangan, tekstur, kebersihan, rasa, dan kemasan. Kekurangan yang ditemukan saat praktik diperbaiki agar peserta mampu menjaga mutu produk.

Anggota PKK juga mendapat penjelasan mengenai penyimpanan produk dan pengemasan. Tahapan tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas bakso sekaligus membuka peluang pengembangan sebagai produk usaha rumah tangga.

Suarni mengatakan peningkatan kepercayaan diri peserta menjadi salah satu sasaran pendampingan. Anggota PKK diharapkan dapat mengajarkan kembali keterampilan tersebut kepada warga lain dan menyampaikan pesan mengenai pentingnya gizi ibu hamil.

Efektivitas program diukur melalui pre-test dan post-test. Pre-test dilaksanakan sebelum penerapan teknologi pada 4 Juli 2026, sedangkan post-test dilakukan setelah rangkaian pendampingan pada 25 Juli 2026.

Menurut tim, hasil evaluasi memperlihatkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai KEK dan anemia. Kemampuan peserta mengolah bakso bandeng kelor juga meningkat setelah mengikuti penyuluhan, demonstrasi, serta praktik mandiri.

Tim tidak menyebutkan angka rinci perubahan nilai pre-test dan post-test dalam keterangan yang disampaikan. Namun evaluasi tersebut digunakan untuk menilai kemampuan peserta memahami masalah gizi dan menguasai teknologi pengolahan pangan.

Sebagai penguatan keberlanjutan program, Kelompok PKK Desa Je’nemadinging akan menyerahkan Surat Keterangan Adopsi Teknologi kepada tim PKM STIK Makassar dan Polipangkep pada 27 Juli mendatang. Dokumen itu menandai penerimaan teknologi pengolahan bakso bandeng kelor oleh mitra.

Suarni mengatakan keberhasilan program tidak cukup diukur dari pelaksanaan pelatihan. Perubahan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan sumber pangan lokal menjadi ukuran yang lebih penting.

“Dengan demikian, program ini tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut menjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui inovasi tersebut, STIK Makassar dan Polipangkep mendorong hilirisasi pengetahuan perguruan tinggi menjadi produk yang dapat diterapkan di tingkat rumah tangga. Kelompok PKK ditempatkan sebagai penggerak utama karena memiliki jaringan langsung dengan keluarga dan ibu hamil.

Program itu juga diarahkan untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama tujuan kedua mengenai tanpa kelaparan dan tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera.

Bakso bandeng kelor kini tidak sekadar menjadi produk hasil pelatihan. Tim berharap inovasi tersebut dapat terus dibuat, dikonsumsi, dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai bagian dari upaya memperbaiki gizi ibu hamil dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di desa. (*)