Pendidikan

Tiga Bidang Ilmu Unhas Masuk Peringkat Dunia QS 2026, dari Pertanian hingga Kedokteran

PERINGKAT UNHAS - QS World University Rankings by Subject 2026 melalui Quacquarelli Symonds merilis pemeringkatan baru secara global pada Rabu, 25 Maret 2026. Unhas pada bidang keilmuan Agriculture & Forestry menempati peringkat 251–300 dunia. (dok QS World Ranking)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali masuk radar pemeringkatan global. Kali ini dalam QS World University Rankings by Subject 2026 yang diumumkan Quacquarelli Symonds pada Rabu, 25 Maret 2026.

Adapun tiga bidang ilmu di bawah naungan Unhas yang masuk pemeringkatan QS World University Rankings, yakni bidang keilmuan Agriculture & Forestry, Politics & International Studies, dan Medicine.

Untuk Agriculture & Forestry atau Pertanian dan Kehutanan, Unhas menempati peringkat 251–300 dunia. Bidang Politics & International Studies (Politik dan Studi Internasional) berada pada peringkat 301–400 dunia. Adapun Medicine menempati peringkat 601–650 dunia.

Dari tiga bidang itu, capaian paling menonjol terjadi pada Medicine, yang naik dari posisi 701–850 pada tahun lalu. Sementara Politics & International Studies baru pertama kali masuk dalam daftar. Posisi Agriculture & Forestry bertahan pada rentang yang sama seperti tahun sebelumnya.

Masuknya tiga bidang ilmu itu memperlihatkan penguatan posisi Unhas pada peta akademik internasional. Secara nasional, capaian tersebut juga tergolong kompetitif.

Agriculture & Forestry berada di kelompok tiga besar nasional, Politics & International Studies di peringkat keempat, sedangkan Medicine menempati posisi kelima.

Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa mengatakan hasil itu tidak semestinya dibaca hanya sebagai simbol prestise. Menurut dia, pemeringkatan tersebut merupakan representasi kuantitatif atas kinerja akademik, riset, dan reputasi institusi di tingkat global.

“QS World University Rankings by Subject pada dasarnya merupakan instrumen komparatif yang mengukur posisi relatif suatu program studi atau disiplin ilmu dalam ekosistem global," ujarnya.

"Oleh karena itu, capaian ini merefleksikan kekuatan akademik Unhas dalam bidang-bidang tertentu yang telah memenuhi standar kompetisi internasional,” kata Jamaluddin.

Edisi QS tahun 2026 mencakup lebih dari 18.300 program studi pada lebih dari 1.700 universitas di 100 negara. Penilaian dilakukan terhadap 55 disiplin ilmu yang dikelompokkan ke dalam lima bidang utama.

Di tengah kompetisi yang makin padat, keberhasilan Unhas menempatkan tiga bidang ilmu dalam daftar dinilai menunjukkan dinamika yang positif.

QS menggunakan lima indikator utama dalam penilaian, yakni reputasi akademik, reputasi pemberi kerja, sitasi per publikasi, H-index, dan jejaring riset internasional.

Bobot masing-masing indikator berbeda untuk tiap disiplin ilmu, menyesuaikan karakter produksi pengetahuan dan budaya publikasi dalam bidang tersebut.

Dalam kerangka itu, reputasi akademik dan reputasi pemberi kerja menjadi cerminan persepsi global terhadap mutu lulusan dan kontribusi keilmuan sebuah institusi.

Adapun sitasi per publikasi serta H-index digunakan untuk mengukur produktivitas dan dampak riset melalui data bibliometrik. Sementara itu, jejaring riset internasional menilai intensitas serta keluasan kolaborasi antarnegara.

“Dengan demikian, posisi Unhas dalam pemeringkatan ini menunjukkan bahwa pada bidang-bidang tertentu, kita telah memiliki kapasitas riset yang diakui, jejaring kolaborasi internasional yang berkembang, serta tingkat kepercayaan global yang semakin meningkat,” ujar Jamaluddin.

Pandangan itu sejalan dengan analisis Senior Vice President QS Ben Sowter. Ia menilai lanskap pendidikan tinggi global kini makin kompetitif dan semakin terspesialisasi.

Menurut dia, reputasi perguruan tinggi dunia tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan institusi secara umum, tetapi juga oleh keunggulan pada bidang-bidang tertentu.

“QS World University Rankings by Subject 2026 menunjukkan bahwa lanskap pendidikan tinggi global semakin kompetitif dan terfokus. Di tengah dominasi negara-negara tradisional, terlihat peningkatan signifikan dari kawasan Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin," ujar Ben Sowter.

"Reputasi global kini semakin ditentukan oleh keunggulan pada bidang tertentu, melalui penguatan riset, kolaborasi, serta keterlibatan dengan industri,” jelas Sowter dalam rilis QS World University Rankings by Subject 2026.

Bagi Unhas, capaian ini disebut bukan tujuan akhir. Rektor menegaskan orientasi kampus tidak berhenti pada perbaikan posisi di tabel pemeringkatan, tetapi pada pembangunan sistem akademik yang berkelanjutan dan memiliki daya saing global.

“Menjadi world class university bukan hanya tentang peringkat, tetapi tentang konsistensi dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan lulusan yang relevan dengan kebutuhan global.

"QS memberikan kerangka ukur, namun substansi utamanya tetap pada kualitas dan dampak yang kita bangun,” kata Jamaluddin.

Hasil QS 2026 itu sekaligus menempatkan Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi Indonesia yang ikut memperkuat visibilitas dan daya saing nasional dalam lanskap pendidikan tinggi dunia yang makin kompetitif dan terdiferensiasi. (*)