News

Tim Unhas Serap Praktik Terbaik Pengelolaan Bisnis Kampus di UNESA

undefined

SURABAYA, UNHAS.TV – Universitas Hasanuddin melakukan benchmarking ke Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dalam rangka memperkuat pengembangan usaha, optimalisasi pemanfaatan aset, serta penyusunan model bisnis PT Hadin Metavisi Akademika (Hadin) sebagai holding company Universitas Hasanuddin.

Di antara rombongan Universitas Hasanuddin  terdapat Direktur Logistik dan UKPBJ Unhas Fadly Rivai, Direktur Pengembangan Usaha dan Pemanfaatan Aset Dr. Ir. Syahriadi Kadir, Direktur Inkubasi Bisnis Teknologi dan Science Techno Park Dr. Fauzi R. Rahim, Kepala Bagian Hukum Biro Hukum dan Kelembagaan Asmita.

Turut hadir tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang terdiri atas Andi Raina Ananda Herdiyana, Rianda Ridho Hafizh Thaha, Muhammad Try Dharsana, dan Fakhrul Indra Hermansyah.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian benchmarking ke sejumlah perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) yang dinilai berhasil mengembangkan badan usaha universitas secara profesional.

Dalam pertemuan tersebut, tim Unhas mempelajari berbagai aspek pengelolaan usaha di lingkungan UNESA, mulai dari tata kelola Badan Pengelola Usaha (BPU), pemanfaatan aset kampus, pengembangan unit bisnis, pengelolaan tenant, hingga sistem pengawasan dan akuntabilitas usaha.

Direktur Logistik dan UKPBJ Unhas, Fadly Rivai, mengatakan salah satu pelajaran penting yang diperoleh dari UNESA adalah pentingnya memahami potensi aset dan fasilitas yang dimiliki universitas sebelum menentukan arah pengembangan bisnis.

“UNESA menunjukkan bahwa pengembangan usaha harus dimulai dari pemetaan aset yang dimiliki kampus. Setelah itu baru disusun strategi bisnis yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan potensi yang tersedia,” ujarnya.

Menurut Fadly, UNESA tidak hanya berorientasi pada penciptaan pendapatan, tetapi juga pada optimalisasi aset, inovasi layanan, perluasan pasar, dan pembangunan kemitraan strategis dengan berbagai pihak.

Dalam diskusi tersebut, UNESA juga memaparkan model pengelolaan usaha yang dijalankan melalui tiga jalur, yakni Badan Pengelola Usaha (BPU), unit kerja lainnya, dan entitas anak berbentuk perseroan terbatas.

Salah satu entitas bisnis yang menjadi perhatian tim Unhas adalah PT Corporanesa Sangdipa Sahwahita yang berfungsi sebagai instrumen badan usaha milik universitas (BUMU) untuk mendukung pengembangan bisnis secara lebih profesional dan fleksibel.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Fakhrul Indra Hermansyah, menilai model yang diterapkan UNESA memberikan perspektif menarik mengenai pengelolaan holding company universitas.

“UNESA menerapkan pendekatan satu PT multiusaha. Ini menarik karena universitas tidak perlu membentuk terlalu banyak perusahaan. Dengan satu entitas yang kuat, berbagai unit usaha masih bisa dikelola secara efektif, sekaligus mengurangi beban administrasi, perpajakan, dan pengawasan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa model tersebut memungkinkan universitas memperoleh pendapatan dari berbagai sumber, seperti dividen, sewa aset, royalti, dan berbagai bentuk kerja sama bisnis lainnya.

Selain itu, tim Unhas juga mempelajari sistem tata kelola dan pengawasan yang diterapkan UNESA. Pengelolaan keuangan dilakukan secara terintegrasi melalui rekening induk dan virtual account untuk masing-masing unit usaha sehingga arus pendapatan dapat dipantau secara lebih transparan dan akuntabel.

Menurut Fakhrul, aspek tata kelola menjadi salah satu poin penting yang relevan bagi pengembangan Hadin ke depan.

“UNESA memberikan contoh bagaimana fungsi pengawasan, pelaporan kinerja, dan akuntabilitas keuangan dapat dibangun sejak awal. Ini penting agar pertumbuhan bisnis universitas tetap berjalan seiring dengan prinsip tata kelola yang baik,” katanya.

Fadly menambahkan bahwa hasil benchmarking tersebut akan menjadi bahan penting dalam penyusunan arah pengembangan Hadin sebagai holding company Universitas Hasanuddin.

“Kami memperoleh banyak masukan mengenai struktur tata kelola, konsolidasi portofolio usaha, pengelolaan aset, hingga hubungan antara universitas dan entitas bisnis. Semua ini akan menjadi referensi penting dalam memperkuat Hadin sebagai strategic holding yang mampu menghubungkan potensi akademik dan aset universitas dengan kebutuhan pasar dan industri,” ujarnya.

Melalui rangkaian benchmarking ke berbagai PTNBH, Universitas Hasanuddin berharap dapat membangun model bisnis yang terintegrasi, profesional, dan berkelanjutan, sehingga Hadin mampu menjadi salah satu motor penggerak pengembangan ekonomi dan inovasi universitas di masa mendatang.