Oleh: Yusran Darmawan*
Pada musim panas 2007, seorang fotografer mengabadikan sebuah momen yang nyaris terlupakan. Lionel Messi, pemuda berusia 20 tahun yang baru mulai dikenal dunia, menggendong seorang bayi dalam sesi pemotretan kalender amal Barcelona.
Messi memandikannya dengan hati-hati, sementara sang bayi menatap dunia tanpa mengetahui bahwa suatu hari namanya akan memenuhi halaman depan surat kabar di berbagai penjuru bumi.
Bayi itu adalah Lamine Yamal.
Bertahun-tahun kemudian, ketika foto tersebut kembali beredar, banyak orang menyebutnya sebagai perpindahan magis. Mereka percaya sentuhan Messi telah mewariskan sesuatu kepada bayi itu: keberanian, bakat, kaki kiri yang memesona, dan kemampuan membuat sepak bola terlihat sederhana.
Namun, ayah Yamal, Mounir Nasraoui, justru tersenyum. "Mungkin justru Messi yang diberkati oleh Lamine," katanya.
Tentu saja, itu kebanggaan seorang ayah. Namun setelah Yamal membawa Spanyol menyingkirkan Prancis dan melangkah ke final Piala Dunia, kalimat itu terdengar tidak lagi sepenuhnya seperti lelucon.
Malam itu, Yamal bukan sekadar membantu Spanyol mengalahkan salah satu tim terkuat di dunia. Ia seperti membawa sepak bola melewati batas waktu: dari Messi yang pernah menggendongnya menuju sebuah generasi yang kini sedang membangun kerajaannya sendiri.
Prancis datang dengan nama-nama besar, pengalaman, dan kekuatan fisik. Mereka menyerupai sebuah imperium yang telah mapan.
Di hadapan mereka berdiri Spanyol, sebuah kesebelasan yang dihuni wajah-wajah muda. Mereka bermain tanpa rasa gentar. Bola mengalir dari satu kaki ke kaki lain dengan ketenangan yang terasa melampaui usia mereka.
Barangkali, keberanian terbesar memang sering dimiliki oleh mereka yang belum cukup lama hidup untuk dihantui kegagalan.
Di tengah semuanya, Yamal menjadi wajah yang paling mudah dikenali. Sejak pertama kali muncul, ia terus dibandingkan dengan Messi. Keduanya sama-sama dibesarkan Barcelona, sama-sama berkaki kiri, sama-sama mampu membuat pemain bertahan kehilangan keseimbangan.
Bahkan, foto masa kecil itu membuat perbandingan mereka seolah menjadi takdir. Namun, Yamal tidak sedang berusaha menjadi Messi berikutnya. Ia sedang menjadi Lamine Yamal yang pertama.
Jorge Luis Borges pernah menulis, "Setiap orang perlahan-lahan menciptakan wajahnya sendiri."
Kalimat itu terasa dekat dengan perjalanan Yamal dan generasi baru Spanyol. Mereka tumbuh menyaksikan Xavi, Andrés Iniesta, Sergio Busquets, dan Messi. Mereka belajar dari para legenda, tetapi tidak datang untuk menjadi salinan.
Pedri tidak harus menjadi Iniesta kedua. Gavi tidak perlu menjadi Xavi baru. Yamal tidak berkewajiban menjadi Messi berikutnya. Mereka sedang membangun identitasnya sendiri. Di situlah letak keberhasilan Spanyol.
Mereka tidak membangun kembali kerajaan lama yang telah runtuh. Mereka mendirikan kerajaan baru di atas fondasi yang diwariskan generasi sebelumnya. Filosofinya tetap sama, menguasai bola dan ruang, tetapi dijalankan dengan keberanian yang lebih bebas.
Generasi Xavi dan Iniesta membangun kejayaan melalui kesabaran. Generasi Yamal mempertahankan filosofi itu, tetapi menambahkan keberanian berimprovisasi. Mereka tidak sekadar mengendalikan pertandingan. Mereka juga menikmatinya.
Isaac Newton pernah menulis, "If I have seen further, it is by standing on the shoulders of giants."
Barangkali, itulah yang sedang dilakukan generasi baru Spanyol. Mereka berdiri di atas bahu para raksasa—Xavi, Iniesta, Busquets, bahkan Messi—namun mereka tidak tinggal di sana. Dari tempat yang lebih tinggi, mereka berusaha melihat cakrawala yang belum pernah dijangkau generasi sebelumnya.
Kini Spanyol telah berada di ambang takhta. Mereka tinggal menunggu siapa yang datang dari semifinal lainnya.
Mungkin Inggris. Mungkin Argentina. Namun, ada satu kemungkinan yang diam-diam membuat dunia sepak bola menahan napas. Bagaimana jika yang datang adalah Argentina?
Bagaimana jika bayi yang pernah digendong Lionel Messi benar-benar berdiri di hadapan lelaki yang dahulu memandikannya?
Sebagian besar anak-anak Spanyol ini tumbuh bersama keajaiban Messi. Mereka menonton gol-golnya sebelum tidur, meniru dribelnya di halaman rumah, dan bermimpi mengenakan seragam Barcelona seperti dirinya.
Messi bukan sekadar lawan. Ia adalah bagian dari masa kecil mereka.
Namun, jika takdir benar-benar mempertemukan Spanyol dan Argentina di partai final, anak-anak itu harus melakukan sesuatu yang paling sulit dalam perjalanan setiap generasi: melawan sosok yang pernah mereka kagumi.
Mereka harus berhenti menjadi penggemar selama sembilan puluh menit. Mereka harus menghadapi Messi bukan sebagai idola, melainkan sebagai penghalang terakhir menuju takhta dunia. Sanggupkah Yamal merebut bola dari lelaki yang pernah menggendongnya?
Sanggupkah anak-anak itu menundukkan sosok yang selama ini menjadi inspirasinya?
Mungkin itulah babak terakhir yang sedang disiapkan sepak bola. Seorang legenda hidup Barcelona berdiri di satu sisi lapangan. Di sisi lain, berdiri anak-anak yang tumbuh karena mimpinya.
Jika peluit final benar-benar mempertemukan mereka, dunia tidak hanya akan menyaksikan perebutan trofi Piala Dunia. Dunia akan menyaksikan estafet paling indah dalam sepak bola: ketika inspirasi berhadapan dengan mereka yang pernah terinspirasi olehnya.
Hampir dua puluh tahun lalu, Lamine Yamal berada dalam gendongan Lionel Messi. Mungkin, jika takdir mempertemukan mereka di partai final, dunia akan menyaksikan saat pertama kali anak itu berdiri di hadapan lelaki yang pernah menggendongnya.
Sebab begitulah sejarah bekerja. Setiap generasi lahir dari pelukan generasi sebelumnya, lalu pada suatu hari, dengan penuh hormat, mengambil alih panggung yang ditinggalkannya.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan Knowledge Strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.
Foto yang menampilkan Messi sedang menggendong bayi Lamine Yamal


-300x200.webp)





