Internasional

Trump Serius Mempertimbangkan Serang Iran

Presiden AS Donald Trump berdiskusi dengan para pejabatnya di Gedung Putih di tengah pertimbangan opsi militer terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump berdiskusi dengan para pejabatnya di Gedung Putih di tengah pertimbangan opsi militer terhadap Iran.

AMERIKA SERIKAT, UNHAS.TV- The New York Times melaporkan pada Sabtu setempat  (10/1) bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menerima pengarahan mengenai berbagai opsi serangan militer terhadap Iran di tengah gelombang protes yang masih berlangsung di negara tersebut. Pada hari yang sama, Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Teheran dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat “siap membantu” terkait situasi yang terjadi.

Menanggapi hal tersebut, seorang pakar asal China memperingatkan bahwa tindakan semacam itu berpotensi memicu eskalasi besar ketegangan kawasan dan kecil kemungkinan memberikan keuntungan strategis bagi Amerika Serikat.

Mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat yang mengetahui persoalan ini, The New York Times melaporkan bahwa Trump dalam beberapa hari terakhir telah menerima paparan mengenai opsi-opsi baru untuk melakukan serangan militer terhadap Iran, seiring pertimbangannya untuk menindaklanjuti ancaman menyerang negara itu karena menindak para pengunjuk rasa.

The New York Times mencatat bahwa Trump belum mengambil keputusan akhir, namun para pejabat tersebut menyebut ia secara serius mempertimbangkan pemberian izin serangan sebagai respons terhadap upaya rezim Iran menekan demonstrasi yang dipicu oleh keluhan ekonomi yang meluas. Presiden disebut telah disodori berbagai opsi, termasuk kemungkinan serangan terhadap target nonmiliter di Teheran, menurut para sumber yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas percakapan yang bersifat rahasia.

“Iran sedang menatap KEBEBASAN, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu!!!” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social pada Sabtu, sembari memperbarui ancamannya terhadap negara di Timur Tengah tersebut, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Xinhua.

“Jika mereka mulai membunuh orang … kami akan terlibat,” kata Trump kepada wartawan pada Jumat, seraya menambahkan bahwa keterlibatan itu “bukan berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi berarti memukul mereka sangat, sangat keras di titik yang paling menyakitkan.”

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada Jumat menyerukan rakyat Iran untuk menjaga persatuan dan mengatakan bahwa sebagian pengunjuk rasa berupaya menyenangkan Amerika Serikat, menurut laporan Xinhua.

Para pengunjuk rasa tersebut, kata Khamenei, “merusak jalan-jalan mereka sendiri demi membuat presiden negara lain senang.”

Khamenei juga meminta pemimpin Amerika Serikat agar fokus pada persoalan di dalam negerinya sendiri dan menegaskan bahwa Iran “tidak akan mundur” menghadapi apa yang ia sebut sebagai para “perusak.”

Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu mengecam pernyataan pemerintahan Trump yang mereka sebut sebagai “intervensionis dan menyesatkan” terkait kerusuhan, seraya menyatakan bahwa pernyataan tersebut mencerminkan permusuhan Washington yang terus berlanjut terhadap rakyat Iran.

Aksi protes dilaporkan meletus di sejumlah kota di Iran sejak akhir Desember akibat anjloknya nilai tukar rial serta tekanan ekonomi yang telah berlangsung lama. Otoritas Iran mengakui adanya demonstrasi tersebut dan menyatakan kesediaan untuk menanggapi keluhan ekonomi, sembari memperingatkan agar tidak terjadi kekerasan dan vandalisme, menurut Xinhua.

Reuters melaporkan pada Jumat waktu setempat bahwa Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan Amerika Serikat bertanggung jawab atas “perubahan aksi protes damai menjadi tindakan kekerasan, subversif, dan vandalisme yang meluas” di Iran. Iran mengecam “tindakan Amerika Serikat yang berkelanjutan, melanggar hukum, dan tidak bertanggung jawab, yang dilakukan bersama dengan rezim Israel, dalam mencampuri urusan dalam negeri Iran melalui ancaman, hasutan, serta dorongan sengaja terhadap ketidakstabilan dan kekerasan.”

Ia menuduh Washington melakukan “praktik-praktik destabilisasi” yang merusak Piagam PBB, melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional, serta mengancam fondasi perdamaian dan keamanan internasional, menurut Reuters.

“Jika Amerika Serikat melakukan intervensi militer di Iran, dampaknya akan sangat signifikan,” kata Lü Xiang, peneliti di Akademi Ilmu Sosial China, kepada Global Times pada Minggu. “Jika serangan dilancarkan terhadap Iran, Iran pasti akan melakukan pembalasan dengan cara yang paling keras,” ujarnya.

Langkah tersebut, menurut Lü, akan menyeret kawasan ke dalam ketegangan baru yang lebih tinggi setelah sempat mengalami periode relatif tenang, seraya mengkritik potensi intervensi kekerasan terhadap urusan dalam negeri negara lain.

“Dilihat dari kebijakan dan perhitungan Amerika Serikat saat ini, meskipun AS memiliki kemampuan militer untuk menyerang Iran, langkah tersebut tidak akan memberikan keuntungan strategis apa pun,” tambahnya.

Karena Iran merupakan situasi yang kompleks dan sulit untuk didominasi, setiap serangan terhadap Iran bukan hanya tidak akan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dapat berbalik merugikan dengan memicu eskalasi konflik antara Iran dan Israel, sehingga melemahkan posisi strategis garis depan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah, menurut pakar tersebut.(*)