News

Unhas Gelar Simposium Nasional Mineral Kritis, Kolaborasi dengan University of Queensland

undefined

UNIVERSITAS Hasanuddin (Unhas) menggelar Simposium Nasional Mineral Kritis yang mempertemukan unsur pemerintah, pelaku industri pertambangan, serta akademisi dari Indonesia dan Australia. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Rektorat Unhas, Makassar, Senin (12/10/2026).

Mengangkat tema “Optimalisasi Peran Institute for Critical Mineral Universitas Hasanuddin (ICM-UNHAS) dalam Rangka Sinergitas Pemangku Kepentingan untuk Mendukung Program Hilirisasi Mineral Kritis di Indonesia”, simposium ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi nasional dalam pengembangan industri mineral kritis.

Kegiatan yang akan disiarkan live oleh Unhas TV mulai pukul 09.00 hingga 20.00 WITA tersebut menghadirkan perwakilan sejumlah lembaga pemerintah, perusahaan pertambangan nasional dan internasional, serta akademisi dari Universitas Hasanuddin dan The University of Queensland, Australia.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., dijadwalkan memberikan sambutan pada pembukaan simposium.

Simposium ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat peran Institute for Critical Mineral Universitas Hasanuddin (ICM-UNHAS) sebagai pusat kolaborasi riset, pengembangan teknologi, dan kebijakan hilirisasi mineral kritis di Indonesia.

Indonesia Timur Jadi Pusat Perhatian

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan mineral kritis, termasuk nikel, kobalt, skandium, dan logam tanah jarang (LTJ). Komoditas tersebut semakin dibutuhkan industri global, terutama untuk pengembangan kendaraan listrik, energi terbarukan, teknologi elektronik, hingga industri pertahanan.

Sulawesi dan kawasan Indonesia Timur dinilai memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu pusat kegiatan pertambangan dan pengolahan mineral nasional.

Kedekatan geografis Universitas Hasanuddin dengan kawasan industri pertambangan memberikan peluang besar bagi pengembangan riset terapan, pengujian teknologi pengolahan mineral, serta penyiapan sumber daya manusia yang dibutuhkan industri.

Melalui pembentukan ICM-UNHAS, Universitas Hasanuddin berupaya menjembatani kebutuhan dunia industri dengan kemampuan riset perguruan tinggi.

Lembaga ini diarahkan menjadi simpul kolaborasi nasional yang menghubungkan pengetahuan sumber daya mineral, pengembangan teknologi, kebijakan pemerintah, dan penerapan hasil penelitian pada skala industri.

Hadirkan Kementerian hingga Perusahaan Tambang

Simposium dibagi menjadi tiga sesi panel utama yang membahas kebijakan pemerintah, kesiapan industri, serta pengembangan riset dan sumber daya manusia.



Panel pertama menghadirkan unsur pemerintah, dengan sasaran peserta dari Dewan Energi Nasional (DEN), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Industri Mineral (BIM), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Geologi.

Diskusi difokuskan pada harmonisasi regulasi, penguatan kebijakan mineral kritis, pembiayaan riset, serta penyusunan peta jalan pengembangan industri mineral strategis nasional.

Panel kedua melibatkan sejumlah perusahaan besar, antara lain MIND ID, PT Perminas, PT Vale Indonesia, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang (Antam), dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).

Pembahasan diarahkan pada kesiapan teknologi, investasi fasilitas pengolahan, serta pemanfaatan mineral ikutan dan material hasil samping industri pertambangan.

Salah satu gagasan yang akan dibahas adalah pembentukan konsorsium investasi untuk mendukung pembangunan fasilitas percontohan atau pilot plant pengolahan logam tanah jarang di Indonesia.

Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi penghubung antara hasil penelitian laboratorium dan kebutuhan pengolahan mineral pada skala industri.

Sementara itu, panel ketiga mempertemukan akademisi Universitas Hasanuddin dengan The University of Queensland, Australia.

Diskusi difokuskan pada pengembangan pusat keunggulan mineral kritis, riset terapan, pertukaran mahasiswa, pelatihan tenaga ahli, serta kerja sama pengembangan teknologi pengolahan mineral.

Dorong Hilirisasi Bernilai Tambah

Salah satu isu penting yang menjadi perhatian dalam simposium adalah peningkatan nilai tambah mineral kritis melalui penguasaan teknologi pengolahan.

Selama ini, pengembangan industri mineral tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Indonesia juga membutuhkan kemampuan teknologi pemisahan, pemurnian, dan pengembangan produk akhir yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dokumen penyelenggaraan simposium menyoroti potensi peningkatan nilai tambah logam tanah jarang, mulai dari tahap pengolahan oksida hingga produksi magnet permanen yang digunakan dalam berbagai teknologi modern.

Karena itu, pengembangan mineral kritis membutuhkan kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pelaksana, dan perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Selain aspek ekonomi, simposium juga memberikan perhatian terhadap pengelolaan lingkungan, keselamatan, pengurangan emisi karbon, dan manfaat industri bagi masyarakat.

Targetkan Proyek Kolaborasi

Simposium ini tidak hanya diarahkan sebagai forum pertukaran gagasan, tetapi juga diharapkan menghasilkan agenda kerja sama yang dapat ditindaklanjuti.

Salah satu targetnya adalah penyusunan dua hingga tiga konsep proyek kolaboratif yang mencakup karakterisasi mineral, pemulihan unsur bernilai, teknologi pemisahan, maupun validasi produk hasil pengolahan.

Forum ini juga diharapkan menghasilkan pemetaan kebutuhan fasilitas riset bersama, pengembangan sumber daya manusia, pendanaan, serta peluang kemitraan nasional dan internasional.

Rangkaian kegiatan dijadwalkan ditutup dengan executive dinner yang mempertemukan delegasi The University of Queensland, perwakilan kementerian, dan pimpinan perusahaan industri.

Pertemuan tersebut diarahkan untuk memperkuat jejaring kerja sama, membahas peluang pendanaan fasilitas penelitian, serta menjajaki finalisasi Letter of Intent (LoI) antarpihak.

Melalui simposium nasional ini, Universitas Hasanuddin berharap ICM-UNHAS dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung agenda hilirisasi mineral kritis nasional, khususnya dengan menghubungkan potensi sumber daya Indonesia Timur dengan kebutuhan teknologi, investasi, dan pengembangan industri masa depan.