News

Tim Unhas Belajar Pengelolaan Bisnis Kampus di UGM, Siapkan Fondasi Holding Company Hadin

YOGYAKARTA, UNHAS.TV – Tim penyusun road map PT Hadin Metavisi Akademika (Hadin) Universitas Hasanuddin melakukan kunjungan benchmarking ke Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (3/6.2026), untuk mempelajari praktik terbaik pengelolaan badan usaha perguruan tinggi.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Unhas menyusun portofolio bisnis dan tata kelola holding company yang profesional, modern, dan berkelanjutan. 

Ketua Tim Seleksi Direksi Hadin sekaligus anggota tim penyusun road map Hadin, Dr. Eka Sastra, mengatakan bahwa UGM dipilih sebagai salah satu tujuan utama karena memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan badan usaha universitas hingga menjadi salah satu model yang paling sukses di Indonesia.

“UGM memiliki pengalaman yang sangat kaya dalam mengelola badan usaha kampus. Kami mempelajari bagaimana mereka membangun holding company, mengembangkan portofolio bisnis, mengoptimalkan aset universitas, hingga menerapkan tata kelola perusahaan yang profesional,” kata Eka Sastra.

Dalam pertemuan tersebut, tim Unhas berdiskusi mengenai perjalanan transformasi bisnis UGM melalui Gama Multi Group. Holding company milik UGM itu awalnya dibentuk untuk mengoptimalkan berbagai aset kampus yang belum produktif setelah UGM memperoleh status otonomi sebagai perguruan tinggi berbadan hukum.

Seiring waktu, Gama Multi berkembang menjadi salah satu kelompok usaha universitas terbesar di Indonesia dengan omzet yang telah melampaui Rp100 miliar per tahun. 

Saat ini, Gama Multi Group mengelola berbagai unit usaha di sektor teknologi informasi, konsultan, properti, perhotelan, media, jasa perjalanan, hingga layanan keuangan.

Beberapa unit usaha yang dikenal luas antara lain PT Gamatechno Indonesia yang menjadi penyedia sistem informasi bagi lebih dari 100 perguruan tinggi di Indonesia, PT Aino Indonesia yang bergerak di bidang sistem pembayaran digital, Radio SwaraGama, Gama Konsultan, Gama Wisata, serta berbagai bisnis akomodasi dan properti kampus. 

Menurut Eka Sastra, salah satu pelajaran penting yang diperoleh dari UGM adalah pentingnya membangun fondasi organisasi dan tata kelola sebelum melakukan ekspansi bisnis.

“Yang menarik dari UGM adalah mereka lebih dahulu merapikan struktur holding dan tata kelolanya. Setelah fondasi kuat, baru dilakukan diversifikasi bisnis dan hilirisasi hasil-hasil riset kampus. Ini menjadi pelajaran yang sangat relevan bagi Hadin,” ujarnya.

Tim Unhas juga mempelajari bagaimana Gama Multi mengembangkan model bisnis yang tidak hanya bertumpu pada aset fisik, tetapi juga pada pengetahuan, inovasi, dan hasil riset kampus.

Pendekatan ini dinilai sejalan dengan visi Universitas Hasanuddin yang ingin menjadikan Hadin sebagai penghubung antara kekuatan akademik, riset, dan kebutuhan industri. 

Kunjungan ke UGM merupakan bagian dari rangkaian benchmarking ke enam perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang dinilai memiliki praktik terbaik dalam pengelolaan badan usaha universitas.

Setelah dari Yogyakarta, tim melanjutkan kunjungan ke Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 4 Juni dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 5 Juni. 

Secara paralel, tim lainnya melakukan benchmarking ke Universitas Airlangga (UNAIR), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Brawijaya.

Pada masing-masing kampus, tim melakukan pertemuan dan diskusi mengenai model holding company, strategi pengembangan portofolio bisnis, pengelolaan aset, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). 

Eka Sastra menjelaskan bahwa studi banding tersebut merupakan bagian dari tahapan penyusunan road map Hadin. Saat ini tim telah menyelesaikan tahap assets mapping dan sedang memasuki tahap penyusunan portofolio bisnis yang akan menjadi dasar pengembangan holding company Universitas Hasanuddin.

“Hasil benchmarking ini akan menjadi bahan penting dalam menyusun model bisnis Hadin. Kami ingin memastikan bahwa holding company yang dibangun memiliki fondasi yang kuat, tata kelola yang baik, serta mampu menjadi mesin penggerak ekonomi Universitas Hasanuddin,” katanya.

Ke depan, hasil kunjungan ke enam PTNBH tersebut akan dirumuskan menjadi rekomendasi strategis untuk penyusunan portofolio bisnis, struktur organisasi holding, dan sistem tata kelola Hadin.

Bersamaan dengan itu, Universitas Hasanuddin juga tengah menjalankan proses seleksi Direktur Utama Hadin yang nantinya akan memimpin pengembangan holding company tersebut menuju fase pertumbuhan berikutnya.