MAKASSAR, UNHAS.TV – Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc, mengajak masyarakat menjaga kesehatan dan tetap produktif selama menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan 1447 H.
Ia menegaskan, Ramadan bukan sekadar momentum spiritual, tetapi kesempatan memperbaiki kualitas diri secara menyeluruh.
Di tengah dinamika itu, Jamaluddin Jompa menilai bulan suci justru menjadi ruang terbaik untuk membangun disiplin, mengatur waktu, dan memperkuat energi positif dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam wawancara khusus dengan Unhas TV, Prof JJ --sapaan akrabnya, menyebut Ramadan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menurunkan produktivitas.
Sebaliknya, bulan puasa dapat menjadi momentum memperkuat mental dan spiritual sekaligus meningkatkan efektivitas kerja.
“Ramadan ini, dan lebih dari itu, kita diberi kesehatan, kekuatan iman, dan kesempatan untuk tetap beribadah serta beraktivitas. Bulan suci ini diturunkan bukan untuk tidur, bukan hanya untuk berpuasa, tetapi untuk tetap produktif,” kata Prof Jamaluddin, Kamis (26/2/2026).
Menurut guru besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan ini, efisiensi waktu selama Ramadan justru lebih terjaga.
Ia mencontohkan, tidak adanya jeda seperti coffee break atau lunch break sebagaimana hari biasa membuat waktu kerja lebih fokus dan minim gangguan.
“Banyak yang bertanya kepada saya, bagaimana menghadapi Ramadan? Jawabannya sederhana: justru Ramadan adalah bulan yang paling produktif. Tidak ada coffee break, morning break, atau lunch break seperti di bulan lain, jadi waktu kita lebih efisien,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran tubuh. Pola tidur yang teratur, asupan makanan bergizi saat sahur dan berbuka, serta manajemen aktivitas harian menjadi kunci menjalani puasa secara optimal.
Ia menyarankan agar setelah salat tarawih masyarakat segera beristirahat sehingga dapat bangun sahur dalam kondisi segar.
“Setelah salat tarawih kita harus cepat tidur, supaya bisa bangun sahur dalam keadaan fresh. Setelah itu salat subuh, dan pagi harinya kita bisa kembali bekerja atau beraktivitas dengan semangat,” katanya.
Selama Ramadan, tantangan yang kerap muncul antara lain rasa lelah, perubahan pola makan, hingga berkurangnya waktu istirahat.
Namun, menurut Prof JJ, semua itu dapat diatasi dengan manajemen waktu yang baik. Mengurangi begadang, tidak melewatkan sahur, serta menjaga hidrasi pada waktu yang diperbolehkan akan membantu tubuh tetap bugar sepanjang hari.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan tanggung jawab sehari-hari. Baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun kampus, kedisiplinan dan komitmen selama Ramadan dinilai dapat membentuk karakter yang lebih kuat.
“Saya yakin semua umat muslim punya cara masing-masing, tapi intinya adalah menjaga keseimbangan ibadah dan tugas sehari-hari,” ujarnya.
Lebih jauh, Rektor Unhas mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai sarana refleksi dan pembenahan diri.
Nilai-nilai seperti kesabaran, ketekunan, dan konsistensi yang dilatih selama sebulan penuh diyakini akan berdampak panjang, bahkan setelah Ramadan berakhir.
Ia berharap semangat menjaga kesehatan dan produktivitas tidak berhenti di bulan suci. “Produktivitas yang kita jaga selama Ramadan akan memberikan efek positif setelahnya,” kata Jamaluddin.
Dengan pendekatan itu, Ramadan diharapkan tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi momentum memperkuat kualitas pribadi dan etos kerja masyarakat.
(Rahmatia Ardi / Unhas TV)
PRODUKTIF - Rektor Unhas Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc saat menghadiri kegiatan antimager di halaman PKM Unhas, awal Februari 2026 lalu. Selama Ramadan ini, Prof JJ mengajak mahasiswa Unhas tetap produktif. (dok unhas tv)








