Pendidikan

Unhas Perkuat Barisan Mahasiswa Peduli Wasting untuk Lindungi Balita Sulsel dari Ancaman Gizi Buruk dan Stunting

Kebersamaan, semangat pengabdian, dan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia menyatu dalam momen Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting yang diikuti mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin di Makassar sebagai langkah nyata mencetak generasi muda yang siap menjadi garda terdepan pendampingan balita gizi buruk bersama UNICEF Indonesia, Dinas Kesehatan, dan ICONS untuk memperkuat perjuangan melawan wasting di Sulawesi Selatan. (Foto: Dok.Pribadi). Kebersamaan, semangat pengabdian, dan harapan bagi masa depan anak-anak Indonesia menyatu dalam momen Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting yang diikuti mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin di Makassar sebagai langkah nyata mencetak generasi muda yang siap menjadi garda terdepan pendampingan balita gizi buruk bersama UNICEF Indonesia, Dinas Kesehatan, dan ICONS untuk memperkuat perjuangan melawan wasting di Sulawesi Selatan. (Foto: Dok.Pribadi).

MAKASSAR,UNHAS.TV — Sebanyak 47 mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin mengikuti Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting selama dua hari pada 16–17 Mei 2026 di Hotel Harper Perintis Makassar sebagai bagian dari penguatan kapasitas mahasiswa dalam mendampingi keluarga balita gizi buruk di masyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Mahasiswa Peduli Wasting yang diinisiasi oleh ICONS bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas serta mendapat dukungan dari UNICEF Indonesia untuk memperkuat upaya penanganan wasting di tingkat akar rumput.

Wasting sendiri merupakan kondisi kekurangan gizi akut pada balita yang ditandai dengan rendahnya berat badan dibanding tinggi badan sehingga memerlukan penanganan cepat dan terukur.

Berbeda dengan stunting yang bersifat kronis, wasting menjadi penanda kondisi kegawatan gizi yang dapat meningkatkan risiko kematian anak hingga 12 kali lebih tinggi dibanding balita dengan status gizi baik.

Anak yang mengalami wasting juga memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar mengalami stunting sehingga intervensi dini menjadi langkah yang sangat menentukan masa depan tumbuh kembang anak.

Data terbaru menunjukkan sebanyak 223 balita di Kota Makassar masih mengalami gizi buruk sehingga Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah prioritas nasional dalam program penanganan wasting.

Orientasi tersebut menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan akademisi, pemerintah, dan praktisi kesehatan guna membekali mahasiswa dengan keterampilan teoritis maupun praktik lapangan.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin mengikuti Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting di Hotel Harper Perintis Makassar sebagai bagian dari penguatan kapasitas pendampingan keluarga balita gizi buruk bersama UNICEF Indonesia, Dinas Kesehatan, dan ICONS guna memperkuat upaya penanggulangan wasting di Sulawesi Selatan. (Foto:  Dok. Pribadi)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin mengikuti Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting di Hotel Harper Perintis Makassar sebagai bagian dari penguatan kapasitas pendampingan keluarga balita gizi buruk bersama UNICEF Indonesia, Dinas Kesehatan, dan ICONS guna memperkuat upaya penanggulangan wasting di Sulawesi Selatan. (Foto: Dok. Pribadi).


Prof. dr. Veni Hadju, M.Sc., PhD menegaskan bahwa mahasiswa gizi harus memiliki pemahaman yang holistik mengenai berbagai persoalan gizi balita sebelum terjun langsung ke tengah masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa orientasi tersebut diharapkan menjadi fondasi penting bagi mahasiswa dalam memperkuat kapasitas ilmiah sekaligus keterampilan praktis pendampingan keluarga balita gizi buruk.

Kegiatan orientasi secara resmi dibuka oleh Prof. Sukri Palutturi, SKM., M.Kes., M.ScPH., PhD yang menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam mengawal program intervensi gizi pemerintah di tingkat masyarakat.

“Mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengawal program intervensi gizi dengan membangun perspektif yang positif, kolaboratif, dan berbasis solusi,” ujar Prof. Sukri Palutturi.

Pada hari pertama orientasi, peserta mendapatkan materi tentang konsep dasar masalah gizi balita yang mencakup stunting, wasting, dan underweight serta indikator antropometri untuk penilaian status gizi.

Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Nurzakiah, SKM., M.Kes., Dietisien yang juga memperkenalkan pendekatan ilmiah dalam deteksi dini masalah gizi pada anak.

Peserta juga memperoleh pembekalan mengenai Pengelolaan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT/IMAM) dari Fitriah, S.ST., M.KM dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Sementara Wahyuni dari Dinas Kesehatan Kabupaten Maros menjelaskan tata laksana rawat jalan bagi balita gizi buruk tanpa komplikasi sebagai bagian penting dari penanganan wasting di masyarakat.

Suasana orientasi semakin hidup ketika mahasiswa melakukan praktik pengukuran antropometri bersama probandus nyata yang meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang badan, Lingkar Lengan Atas (LiLA), hingga pemeriksaan edema bilateral.

Keterampilan tersebut menjadi kemampuan dasar yang sangat penting dalam proses skrining dan deteksi dini wasting di lapangan.

Mahasiswa juga dilatih melakukan interpretasi status gizi menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) sesuai standar Permenkes Nomor 2 Tahun 2020.

Memasuki hari kedua, fokus pelatihan bergeser pada penguatan komunikasi, konseling, dan pendekatan emosional terhadap keluarga balita.

Peserta Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting dari Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin berfoto bersama usai mengikuti pelatihan intensif pendampingan keluarga balita gizi buruk di Makassar yang didukung UNICEF Indonesia, Dinas Kesehatan, dan ICONS sebagai upaya memperkuat peran mahasiswa dalam penanganan wasting di Sulawesi Selatan. (Foto: Dok.Pribadi)
Peserta Orientasi Mahasiswa Peduli Wasting dari Program Studi Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin berfoto bersama usai mengikuti pelatihan intensif pendampingan keluarga balita gizi buruk di Makassar yang didukung UNICEF Indonesia, Dinas Kesehatan, dan ICONS sebagai upaya memperkuat peran mahasiswa dalam penanganan wasting di Sulawesi Selatan. (Foto: Dok.Pribadi).

Sitti Rahmatia, SKM., M.Kes dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menjelaskan penggunaan RUTF atau Ready to Use Therapeutic Food sebagai bagian dari tata laksana rawat jalan balita wasting.

Materi kemudian dilanjutkan dengan pelatihan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) yang dibawakan oleh Manjilala, S.Gz., M.Gz guna membangun kemampuan mahasiswa dalam melakukan pendekatan persuasif kepada keluarga balita.

Sesi konseling gizi dipandu oleh Rahayu Indriasari, SKM., MPHCN., PhD bersama Dian Resky, S.Gz., Dietisien yang menekankan pentingnya empati dan komunikasi yang menyentuh keluarga sasaran.

Sebagai penutup kegiatan, Dr. dr. Anna Khuzaimah, M.Kes selaku perwakilan UNICEF Indonesia menekankan bahwa keberhasilan pendampingan sangat ditentukan oleh kemampuan mahasiswa membangun kepercayaan dengan keluarga balita.

Menurutnya, hubungan emosional yang baik akan membuat keluarga lebih terbuka menerima edukasi dan lebih patuh menjalankan intervensi yang diberikan.

Usai mengikuti orientasi, para mahasiswa dijadwalkan turun langsung ke masyarakat untuk melakukan pendampingan keluarga balita gizi buruk sebagai bentuk nyata pengabdian sekaligus kontribusi generasi muda dalam mendukung penanggulangan wasting di Sulawesi Selatan.(*)