Oleh: Nurlin Muhammad*
Kematian Khamenei bukanlah akhir dari konflik — melainkan awal dari babak yang lebih berbahaya. Dunia kini berhadapan dengan pertanyaan yang lebih serius: ke mana eskalasi ini akan berujung?
Sabtu, 28 Februari 2026, akan dikenang sebagai salah satu hari paling mencekam dalam sejarah Timur Tengah modern. Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran dengan sandi operasi "Lion's Roar" (singa mengaum).
Singa pun benar-benar mengaum, Teheran bergetar dan dunia ikut tersentak. Hasilnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan itu.
Tokoh yang telah lebih dari tiga dekade menjadi wajah kekuasaan Iran, berpulang di tengah hujan bom. Kompleks perumahannya luluh lantak oleh serangan bom yang sangat presisi.
Ia bisa saja bersembunyi di bunker yang aman, tapi kabarnya Khamenei lebih memilih jalan syahid. Ia tidak gentar dengan ancaman bertubi-tubi atas keselamatan jiwanya dari AS dan Israel. Seperti leluhurnya Imam Husein yang tewas di padang Karbala, ia memilih menjadi martir dalam melawan hegemoni AS.
Serangan udara itu benar-benar sukses mengenai sasaran yang telah direncanakan. Radar Iran seolah lumpuh dan membiarkan hujan bom itu menyerang kediaman Pemimpin Tertingginya. AS adalah raksasa militer dengan senjata berpemandu yang canggih dan presisi.
Tingkat akurasinya mencapai 80 – 90 persen, atau kemungkinan melesetnya kurang dari 3 meter dari titik yang telah dikunci.
Bunker komando bisa dihancurkan tanpa harus menghancurkan seluruh Kawasan. Para pemimpin bisa dibidik tanpa mengerahkan Angkatan Darat dengan biaya mahal.
Cukup dengan drone-drone super canggih yang bisa melayang selama berjam-jam lalu menyerang dalam hitungan detik. Bisa dikatakan senjata Amerika hampir bisa membidik semua hal yang terlihat. Operasi di Venezueala dan Iran adalah bukti mutakhir kecanggihan teknologi persenjataan militer Amerika.
Tapi apakah senjata canggih dan presesi selalu mendatangkan hasil kemenangan yang niscaya? Jawabannya belum tentu. Ada banyak faktor yang bisa membuat kalkulasi risiko meleset dan katastrofik. Salah satunya adalah “perangkap bom cerdas” atau The Smart Bomb Trap.
Perangkap Bom Cerdas (The Smart Bomb Trap)
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel itu sepertinya tidak bertujuan untuk menjadi konflik jangka Panjang. Alasannya karena pada serangan pertama mereka langsung menyasar jantung kekuasaan, Pimpinan Tertinggi Iran.
Kemungkinan mereka berharap dengan wafatnya Khamenei, Iran akan lumpuh karena jatuh pada konflik internal: perebutan kekuasaan yang kosong dan menguatnya gerakan sosial anti rezim.
Dugaan ini tidak sulit untuk diverifikasi. Pasca kematian Khamenei, Donald J. Trump secara terang-terangan di akun media sosial miliknya (Truth Social) menyerukan kepada rakyat Iran untuk segera bergerak menjatuhkan rezim.
Tapi apa hasilnya? tujuan menyingkirkan Khamenei memang tercapai dengan senjata yang presisi, tetapi konflik internal tidak terjadi. Kematian Khamenei justru memicu aksi pembalasan militer yang semakin sengit dan brutal, True Promise IV.
Iran mengerahkan Ratusan rudal dan ribuan drone untuk menyerang Israel dan pangkalan-pangkalan militer Amerika di Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, dan Arab Saudi. Eskalasi terjadi, Kawasan membara, dan stabilitas perekonomian global terancam.
Bandara-bandara di tutup, kilang minyak Arab Saudi diserang rudal dan selat Hormus—jalur pelayaran yang mengangkut 20 persen pasokan minyak dunia—ditutup oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Apakah Amerika Serikat dan Israel sejak awal tidak memperhitungkan dampak dari serangan mereka?
Tentu saja mereka punya tim analis militer yang hebat dan berpengalaman. Negara sebesar AS memiliki analis, simulasi, dan pemodelan eskalasi yang canggih. Tapi kemungkinan mereka jatuh pada apa yang disebut Robert Pape sebagai “Perangkap Bom Cerdas”.
Ya, serangan bom dengan pemandu AI yang presisi bisa menghancurkan target dengan mudah, tapi itu tidak selalu bisa membendung konsekuensinya. Dengan kata lain, presisi tidak selalu sama dengan berhasil.
Menurut Pape, Perangkap Bom Cerdas tidak terletak pada konteks kecanggihan teknologinya, GPS akurat, AI bekerja dengan sempurna, dan rudal jelajah tepat sasaran. Masalahnya ada pada asumsi yang tersembunyi di balik rencana operasi: bahwa presisi di tingkat taktis secara otomatis akan menghasilkan kendali di tingkat strategis.
Kecanggihan persenjataan membuat penggunanya tergoda untuk percaya bahwa mereka dapat menyerang dengan keras dan karena itu dapat mengendalikan hasilnya. Inilah “perangkap bom cerdas”.
Dalam konteks Iran, cukup dengan memperbanyak serangan yang akurat dan membunuh pemimpinnya, maka mereka akan tunduk dan bersedia mengakhiri program pengayaan uraniumnya. Misi selesai. Inilah asumsi berbahaya yang diam-diam tumbuh dalam benak negara-negara dengan kekuatan militer yang digdaya.
Semakin canggih dan presisi senjata yang digunakan semakin besar godaan untuk menggunakannya. Dan semakin besar godaannya, semakin tinggi risiko kesalahan perhitungan yang katastrofik, kata Pape. Kesalahan perhitungan yang katastrofik itu terjadi ketika rezim yang diserang menolak untuk kalah.
Iran tidak membaca buku panduan yang sama dengan Amerika Serikat dan Israel. Kematian Khamenei bagi AS dan Israel bisa meruntuhkan Iran. Tapi bagi Iran, martir lebih kuat daripada politisi yang hidup. Martir adalah daya yang menyatukan semua kekuatan tersisa untuk terus melawan secara asimetris.
Di atas kertas, Iran hampir tidak mungkin menang di hadapan kekuatan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel. Tapi ia akan terus mengobarkan perlawanan dan memberikan pukulan telak pada lawan-lawannya.
Nasionalisme sebagai Senjata Perlawanan
Jika ada satu hal yang sering diabaikan oleh para arsitek serangan udara, maka itu adalah nasionalisme. Nasionalisme merupakan bahan bakar paling efisien yang pernah dikenal dalam sejarah umat manusia.
Ketika negara diserang, konflik internal seringkali membeku, perbedaan politik ditangguhkan, dan bersatu dalam kepentingan yang sama.
Demikianlah yang terjadi di Iran saat ini. Sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran, gerakan protes sedang tumbuh di Iran. Ekonominya terpuruk di bawah sanksi dan legitimasi Rezim Mullah sedang dipertanyakan dari dalam.
Lalu bom-bom itu jatuh dan membunuh Pemimpin Tertinggi mereka. Alih-alih menyatukan kekuatan untuk meruntuhkan rezim, masyarakat Iran justru tumpah ruah di jalan-jalan untuk meratapi kepergian Khamenei.
Kepergiannya memang menciptakan luka, tapi luka itu justru adalah senjata paling ampuh mengobarkan perlawanan.
AS sebenarnya tidak perlu membaca buku-buku politik untuk memahami hal ini. Cukup ingat apa yang terjadi pasca serangan 11 September 2001: bahkan mereka yang paling kritis terhadap George W. Bush, tiba-tiba berdiri tegak untuk menyanyikan lagu kebangsaan Amerika.
Sekalipun Venezuela merupakan pengecualian, ada satu hal yang bisa kita pelajari di sini, hukum gravitasi politik: serangan dari luar berpotensi menciptakan kohesi dari dalam.
Lalu Apa Selanjutnya?
Melihat eskalasi yang terjadi saat ini, sulit membayangkan konflik ini akan berakhir dengan cepat. Sementara itu, kemungkinan meluasnya terbuka sangat lebar. Sekutu-sekutu AS di Eropa dikabarkan akan ikut serta menyerang Iran.
Jika itu terjadi, ada beberapa kemungkinan: Iran akan dipaksa menyerah dengan cepat dan konflik selesai, perang terbatas yang berkepanjangan dengan sisa-sisa kekuatan yang Iran miliki, diplomasi akan diupayakan secara lebih serius, atau negara-negara sekutu Iran juga akan ikut membantu dan memperluas konflik ini menjadi Perang Dunia III.
Kita tidak menginginkan hal itu terjadi. Karena perang bagaimanapun adalah bencana besar bagi kemanusiaan. Tapi jalan keluarnya juga sangat sulit untuk dicapai.
Jika kita melihat ke belakang, salah satu pemicu perang ini adalah program pengayaan uranium yang dilakukan oleh Iran. Bagi Amerika Serikat dan Israel, program itu adalah ancaman keamanan bagi Kawasan.
Logika perang ini adalah menghilangkan ancaman sebelum tumbuh menjadi kekuatan yang lebih besar. Tapi itu argumen klise bagi agersi militer Amerika Serikat. Tentu kita masih ingat alasan yang sama juga pernah digunakan untuk menginvansi Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein tahun 2003.
Agak sulit membedakan motivasi perang ini dengan kegandurungan AS akan perang. Anthony J. Marsella dalam artikelnya The Unitet State of America: “A Culture of War” menyebut perang bagi AS adalah bagian dari identitas dan budaya bangsa.
Budaya perang ini adalah gagasan utama yang memungkinkan penggunaan kekerasan sebagai sesuatu yang perlu dan dapat dibenarkan demi kepentingan hegemonik AS.
Budaya perang ini dapat dilihat dari data Congressional Research Service (CRS) sejak 1798 – 2023, AS telah melakukan 469 perang atau intervensi militer. Dan menurut Cristian Oord, sejak merdeka pada 1776, AS hanya mengalami 17 tahun masa damai tanpa peperangan.
Bagi Maresella AS bukan sekadar negara adikuasa, ia adalah “Kekaisaran Global” dengan jaringan pangkalan militer di seluruh dunia. Dengan cara itu AS mengejar kontrol hegemonik di bidang ekonomi, politik, dan budaya.
Jika Iran benar-benar mengembangkan senjata nuklir, kita harus melihatnya dalam kacamata hegemoni ini. Dengan kata lain, program nuklir bagi Iran adalah bagian dari kalkulasi ancaman keamanan yang dihadapinya di Kawasan. Iran dikelilingi Pangkalan Militer AS di negara-negara teluk dan dihadapkan pada fakta agresi Israel di Palestina.
Jadi untuk menghentikan program itu, tidak cukup dengan menjatuhkan bom dan membunuh petinggi-petinggi Iran. Sekalipun terdengar seperti jalan buntu, yang perlu dilakukan adalah diplomasi yang serius untuk saling menghilangkan ancaman masing-masing pihak.
Selama ada hegemoni dan penjajahan atas Palestina oleh Israel, akan selalu ada kalkulasi ancaman keamanan, dan Iran akan terus memperkuat persenjataannya terlepas ia ditekan atau tidak oleh AS dan dunia.
*Penulis adalah alumni S2 Antropologi Unhas, kini tinggal di Buton Utara
undefined

-300x200.webp)






