SIDRAP, UNHAS.TV — Pagi itu, Rabu (5/8/2026), sekitar 300 petani andalan Sidrap memenuhi Lantai 3 Kantor Bupati Sidenreng Rappang untuk mengikuti pelatihan Harvesting the Future yang digelar Universitas Hasanuddin, University of Newcastle Australia, dan Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Mereka datang bukan sekadar untuk mendengarkan teori pertanian, melainkan mempelajari cara kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan teknologi sensor mengubah data lapangan menjadi dasar pengambilan keputusan.
Pelatihan selama empat hari tersebut membawa satu pesan besar bahwa masa depan pertanian tidak lagi hanya bergantung pada pengalaman, tetapi juga pada kemampuan membaca kondisi lahan secara cepat, akurat, dan ilmiah.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Sidrap, Patahangi Nurdin, S.IP., membuka kegiatan tersebut mewakili Bupati Sidrap.
Di tengah ratusan peserta, hadir pula fasilitator University of Newcastle, Dr. Shaleeza Sohail dan Dr. Teuku Geumpana, bersama tim Universitas Hasanuddin.
Dari Pengalaman Menuju Keputusan Berbasis Data
Ketua Tim Harvesting the Future sekaligus Kepala Subdirektorat Penguatan Jejaring Unhas, Muhammad Junaid, S.P., M.P., Ph.D., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari program pendampingan yang telah berjalan selama dua tahun di Sidrap.
Kabupaten yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan itu dipilih sebagai proyek percontohan penerapan teknologi pertanian untuk mendorong peningkatan produktivitas secara berkelanjutan.
Junaid menegaskan bahwa pelatihan bukanlah akhir program, melainkan bagian dari komitmen Unhas dan para mitra untuk terus mendampingi petani menghadapi perubahan zaman.

Sekitar 300 petani Sidrap mengikuti pelatihan Harvesting the Future untuk mempelajari pertanian berbasis data, Rabu (5/8/2026). (Foto: Ismail Basri).
“Kami berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” ujar Junaid.
Melalui AI, IoT, dan teknologi sensor, para petani diperkenalkan pada sistem yang mampu merekam kondisi tanaman dan lingkungan pertanian secara waktu nyata.
Data tersebut kemudian diolah menjadi informasi yang dapat membantu petani menentukan waktu tanam, penggunaan air, pemberian pupuk, pengendalian gangguan tanaman, dan tindakan budidaya lainnya secara lebih tepat.
“Ke depan, pengambilan keputusan di sektor pertanian harus berbasis data yang berasal dari kondisi nyata di lapangan,” katanya.
Agar teknologi itu tidak berhenti sebagai konsep di ruang kelas, peserta juga diajak menyaksikan demonstrasi langsung proses pengambilan data tanaman di lahan pertanian.
Mengubah Pola Pikir Petani
Di hadapan peserta, Patahangi Nurdin mengingatkan bahwa pengalaman bertani yang diwariskan secara turun-temurun tetap berharga, tetapi tidak lagi memadai untuk menjawab seluruh tantangan pertanian modern.
Menurutnya, perubahan iklim, keterbatasan air, dinamika hama, biaya produksi, dan tuntutan peningkatan hasil membuat petani harus terus belajar mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Jangan berpikir bahwa karena nenek dan bapak kita petani, kita sudah memahami semuanya, sebab kita harus terus belajar untuk memperoleh ilmu baru,” ujarnya.
Pelatihan tersebut, menurut Patahangi, membuka kesempatan bagi petani untuk mengenali persoalan sejak dini, memperkirakan risiko, dan menemukan solusi berdasarkan data yang terukur.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sidrap terus memperkuat sektor pertanian melalui penyediaan pengairan, benih, pupuk, serta perbaikan infrastruktur pendukung.
Pemerintah daerah juga menargetkan persoalan ketersediaan air di sejumlah wilayah dapat diselesaikan secara bertahap hingga 2028.
Membidik Produktivitas 12 Ton Per Hektare
Harapan besar mengemuka ketika Patahangi mengungkapkan hasil pengamatan pakar pertanian yang menunjukkan bahwa produktivitas padi di Sidrap berpotensi mencapai 12 ton per hektare.
Potensi Tersebut diyakini dapat diwujudkan apabila petani memperoleh dukungan teknologi, sarana produksi, pengairan, dan pengelolaan budidaya yang tepat.

Para petani Sidrap serius menyerap pengetahuan AI, IoT, dan teknologi sensor dalam pelatihan Harvesting the Future. (Foto: Ismail Basri).
Bagi Patahangi, pertanian bukan sekadar aktivitas mempertahankan tradisi, melainkan sektor ekonomi strategis yang mampu menghadirkan pendapatan menjanjikan.
Karena itu, ia mengajak generasi muda mengubah pandangan lama yang menempatkan pertanian sebagai pekerjaan kurang menarik dan mulai melihatnya sebagai profesi modern berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan kewirausahaan.
“Kalau pertanian dikelola dengan baik, pendapatannya bisa jauh lebih tinggi sehingga masyarakat tidak perlu ragu menjadikannya sebagai profesi yang menjanjikan,” katanya.
Menjelang berakhirnya pembukaan, Patahangi meminta seluruh peserta mengikuti setiap sesi secara serius dan memanfaatkan kesempatan berdiskusi langsung dengan para narasumber.

Sensor yang ditanam pada tanah di sekitar tanaman terhubung ke komputer untuk membaca kandungan hara melalui dasbor, sekaligus memberikan rekomendasi penambahan pupuk NPK secara tepat meski dioperasikan secara offline atau dengan akses internet terbatas. (Foto: Muhammad Junaid).
Pendampingan juga dirancang tetap berjalan setelah pelatihan selesai melalui pembentukan grup komunikasi yang memungkinkan petani terus berkonsultasi dengan tim pelaksana.
Dari ruangan di Kantor Bupati Sidrap itu, sebuah perubahan mulai ditanam: petani tetap menjadi pengendali sawahnya, tetapi setiap keputusan kini diperkuat oleh data, teknologi, dan pengetahuan. (*)
Tim Unhas, University of Newcastle, Pemerintah Kabupaten Sidrap, dan peserta mengabadikan kebersamaan seusai pembukaan pelatihan Harvesting the Future. (Foto: Ismail Basri).
-300x171.webp)
 Unhas Prof Dr Eng Muhammad Niswar ST MT-300x169.webp)






