Sport

Vozinha Menangis Setelah Cape Verde Tahan Spanyol 0-0, Medsosnya Tembus Sejuta Pengikut

TEMBOK KOKOH - Kiper Cape Verde Vozinha tampil luar biasa menjadi tembok kokoh timnya melawan Spanyol di babak penyisiihan Grup H Piala Dunia 2026 di Atlanta, Senin (15/6/2026) malam. (Screenshot The Sun)

ATLANTA, UNHAS.TV — Penjaga gawang Cape Verde, Vozinha, tak hanya menahan gempuran Spanyol di lapangan. Dalam 90 menit yang berakhir tanpa gol di Atlanta, Senin (15/6/2026) waktu setempat, pria 40 tahun itu juga berubah menjadi bintang media sosial.

Cape Verde, yang tampil untuk pertama kali di Piala Dunia, sukses menahan tim bertabur bintang Spanyol dengan skor 0-0 dalam laga pembuka yang segera dicatat sebagai kejutan besar.

Vozinha menjadi tokoh utamanya. Ia membuat tujuh penyelamatan, menjaga gawangnya tetap bersih, dan memperoleh nilai 8,4 dari WhoScored.

Begitu peluit panjang berbunyi, rekan-rekannya langsung berhamburan untuk memeluknya. Wajahnya basah, nyaris tak mampu menahan tangis.

Drama lain berlangsung di telepon genggamnya. Saat jeda babak pertama, para komentator kanal Brasil, Caze TV, mengajak pemirsa mengikuti akun Instagram Vozinha dan mendorong jumlah pengikutnya menembus 100 ribu. Ajakan itu meledak.

Dalam tempo sekitar satu menit, akun kiper klub Chaves di divisi dua Portugal itu melonjak ke 220 ribu pengikut. Pada menit ke-60, angkanya mencapai 350 ribu. Saat pertandingan selesai, jumlahnya 389 ribu, lalu bertambah sekitar 500 ribu hanya dalam lima menit.

Ketika Vozinha masuk ruang ganti, jumlah pengikutnya sudah melewati satu juta. Ia baru mengetahui kabar itu dalam wawancara dengan Caze TV setelah pertandingan.

“Saya sebelumnya hampir 50 ribu pengikut. Wow,” katanya, sebelum seorang pewawancara memperlihatkan layar ponsel yang menunjukkan angka lebih dari satu juta. Vozinha terdiam sejenak. “Itu gila,” ujarnya.

Vozinha, yang memperkuat Cape Verde sejak 2012, menjalani pertandingan ke-89 untuk negaranya malam itu.

Bagi negara kepulauan kecil di Afrika Barat tersebut, hasil imbang melawan Spanyol bukan sekadar satu poin. Itu adalah pernyataan bahwa debutan pun bisa mengguncang panggung terbesar sepak bola dunia.

Spanyol sebenarnya lebih banyak menguasai bola dan terus menekan, tetapi tembok Cape Verde, dengan Vozinha sebagai penjaga terakhir, tak runtuh.

Dalam sepak bola modern, satu pertandingan cukup untuk mengubah pemain pinggiran menjadi pusat perhatian dunia. Dan itu ada pada diri Vozinha.

Tangis Vozinha bukan hanya karena penyelamatan dan tepuk tangan. Ia mengenang kakek-nenek yang membesarkannya ketika kecil. Mereka sudah meninggal beberapa tahun lalu.

Ibunya juga tidak dapat hadir karena persoalan visa dan biaya yang tak sempat diselesaikan. Di tengah stadion yang riuh, kehilangan pribadi itu tiba-tiba terasa dekat, menyelinap di balik sorak para pemain Cape Verde.

“Saya menangis setelah pertandingan karena saya tumbuh bersama kakek dan nenek saya ketika kecil, dan mereka tidak bisa berada di sini,” kata Vozinha. “Ibu saya juga tidak bisa hadir karena masalah visa dan uang yang harus kami bayar.”

Ia lalu menyampaikan terima kasih kepada pendukung Brasil yang membuat namanya membubung. “Orang Brasil selalu sangat sayang kepada kami,” katanya. Dukungan itu, menurut dia, sudah terasa sejak Cape Verde menjalani babak kualifikasi.

Sebelum turnamen, Vozinha menulis di Instagram bahwa ia sedang menghitung hari menuju mimpi yakni tampil di panggung terbesar sepak bola.

Dan hari ini, usai laga pembuka Grup H Piala Dunia 2026 di Atlanta, Cape Verde atau dikenal juga sebagai Tanjung Verde mencetak sejarah, menahan Juara Eropa Spanyol. (*)