Kesehatan
News

Waspada, Ini Gejala Awal Masalah Kulit Kaki Akibat Sepatu Tanpa Kaos Kaki

Ilustrasi perempuan menggunakan separu tanpa mengenakan kaos kaki. (dok freepik)

UNHAS.TV - Tren mengenakan sepatu tanpa kaus kaki—sering disebut gaya bare-ankle—memang memberikan kesan kasual dan trendi bagi pemakainya.

Namun, di balik tampilan yang necis itu, tersembunyi sebuah ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian.

Tanpa lapisan kain yang menyerap keringat, sepatu bisa berubah menjadi inkubator bakteri dan jamur yang siap menyerang kulit kaki.

Gejala awal masalah kulit ini sebenarnya cukup kentara, namun sering diabaikan. Rasa gatal yang menggigit, munculnya rona kemerahan, atau lecet pada area tumit dan sela-sela jari adalah alarm pertama dari tubuh. Keluhan ini biasanya memuncak setelah kaki terperangkap di dalam sepatu seharian.

"Kondisi kaki yang lembap dan tertutup menjadi faktor utama," ujar Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dr. Andi Nurhaerani Zainuddin SpDVE.

Menurut dokter yang akrab disapa dr. Nini ini, sepatu yang tidak memiliki sirkulasi udara baik—ditambah absennya kaus kaki—menciptakan lingkungan ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang biak.

Tak hanya rasa gatal, bau kaki yang semakin menyengat pun menjadi indikator penting. Bau tersebut bukanlah sekadar sisa keringat, melainkan tanda nyata adanya aktivitas bakteri atau jamur yang mulai berkoloni di atas permukaan kulit. Jika dibiarkan, infeksi ini bisa merasuk lebih dalam.

Banyak orang menganggap remeh lecet kecil atau gatal di sela jari. Mereka mengira cukup dengan mengoleskan krim sembarangan, masalah akan selesai.

Padahal, dr. Nini memperingatkan bahwa pengobatan infeksi kulit kaki, terutama yang disebabkan oleh jamur, bukanlah perkara instan.


Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi di Klinik dan Apotek Saoraja Medika, dr Andi Nurhaerani Zainuddin SpDVE. (dok unhas tv)


"Jika sudah terkena infeksi jamur, pengobatannya tidak singkat. Membutuhkan waktu minimal dua minggu, bahkan bisa sampai berbulan-bulan," jelas dr. Nini saat ditemui di sela-sela praktiknya.

Ia menekankan bahwa biaya dan waktu yang dihabiskan untuk pengobatan jauh lebih besar dibandingkan harga sepasang kaus kaki berkualitas.

Risiko akan semakin meningkat jika terjadi pembengkakan di sekitar kuku atau perubahan warna kulit yang drastis. Deteksi dini menjadi kunci.

"Alangkah baiknya segera memeriksakan diri jika muncul bengkak atau gatal berkepanjangan. Lebih baik menghindari daripada harus menjalani pengobatan yang lumayan lama," tambahnya.

Langkah Preventif

Bagi mereka yang tetap ingin mengikuti tren tanpa harus mengorbankan kesehatan, solusinya sebenarnya sederhana.

Penggunaan kaus kaki jenis no-show socks atau kaus kaki tersembunyi bisa menjadi jalan tengah. Kaus kaki ini berfungsi sebagai pembatas mekanis antara kulit dan sepatu, sekaligus penyerap kelembapan yang efektif.

Selain itu, dr. Nini mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh. Jangan menunggu hingga luka terbuka atau infeksi meluas baru mencari pertolongan medis.

Dalam dunia dermatologi, pepatah "mencegah lebih baik daripada mengobati" bukan sekadar klise, melainkan sebuah kebutuhan untuk menjaga produktivitas sehari-hari.

Sore itu di Klinik Saoraja Medika, pesan sang dokter terdengar jelas: jangan biarkan gaya mengalahkan kesehatan. Sebab, setiap langkah yang kita ambil seharusnya membawa kenyamanan, bukan lara yang berkepanjangan.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)