Kesehatan
News

Waspada Kasus Cacar Air Meningkat! Dokter Unhas Sebut Penularan Naik Saat Musim Hujan

Ilustrasi penderita cacar air. Orang tua diminta waspada kasus meningkat di musim hujan. (freepick)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta masyarakat untuk mewaspadai penyakit cacar air dan herpes zoster.

Imbauan ini dilakukan menyusul adanya peningkatan kasus yang terjadi pada anak-anak di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Menanggapi hal tersebut, Dokter Umum Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas), dr Fadhil Kurniawan, membenarkan bahwa kasus cacar air atau varicella memang cenderung meningkat, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia.

“Cacar air merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada musim hujan maupun kemarau, penyebaran virus di negara tropis meningkat, sehingga memang banyak ditemukan kasus cacar air,” ujar dr Fadhil saat ditemui di ruangannya, pada Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan, gejala cacar air umumnya diawali dengan keluhan mirip flu, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, hingga nyeri tenggorokan.

Dua hingga tiga hari kemudian, akan muncul bintil-bintil kecil berisi cairan bening di seluruh tubuh yang disertai rasa gatal.

Menurut dr Fadhil, cacar air memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan pada bintil, droplet saat batuk atau bersin, bahkan melalui udara, terutama jika sirkulasi ruangan kurang baik.

“Kalau berada di satu ruangan dengan anak yang terkena cacar air, itu sangat memungkinkan untuk tertular. Karena itu, anak yang dicurigai mengalami cacar harus dipisahkan dan dirawat di kamar tersendiri,” katanya.


Dokter Umum Klinik FK Unhas dr Fadhil Kurniawan mmeinta orang tua untuk waspadai penyakit cacar air dan herpes zoster. (dok unhas tv)


Ia menambahkan, meski lebih sering menyerang anak-anak, cacar air juga dapat menular kepada orang dewasa. Oleh karena itu, isolasi menjadi langkah penting untuk mencegah penularan di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Terkait pencegahan, dr Fadhil menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh anak melalui asupan makanan bergizi, pemberian multivitamin, serta pola hidup sehat. Namun, upaya pencegahan paling efektif tetap melalui vaksinasi cacar air.

“Vaksinasi cacar air sudah tersedia dan dianjurkan mulai usia 12 bulan dengan dua dosis. Ini yang paling penting untuk mencegah cacar pada anak,” jelasnya.

Ia menyebutkan, hingga saat ini vaksin cacar air belum ditanggung oleh pemerintah dan masih bersifat berbayar. Vaksin tersebut dapat diperoleh melalui dokter umum, dokter spesialis anak, maupun rumah sakit.

Apabila anak sudah terinfeksi, dr Fadhil menjelaskan bahwa cacar air termasuk penyakit yang bersifat self-limiting atau dapat sembuh dengan sendirinya seiring meningkatnya kekebalan tubuh.

Penanganan umumnya bersifat simptomatik, seperti pemberian obat penurun demam, obat batuk dan pilek, serta obat untuk mengurangi rasa gatal.

“Untuk gatal, bisa diberikan obat topikal yang mengandung mentol atau kalamin. Pada kasus tertentu yang berat, dapat diberikan obat antivirus, tetapi harus melalui resep dokter,” ujarnya.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa seseorang yang pernah terkena cacar air tidak akan terkena lagi. Menurutnya, virus cacar air telah mengalami mutasi sehingga memungkinkan infeksi berulang oleh strain yang berbeda.

“Anggapan itu sudah tidak relevan. Sekarang cacar air bisa terjadi lebih dari satu kali,” katanya.

Di akhir keterangannya, dr Fadhil mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala yang menyerupai cacar air.

Ia juga menekankan pentingnya isolasi selama masa sakit serta vaksinasi bagi anak yang belum pernah terinfeksi.

“Cacar air yang tidak tertangani dengan baik bisa menetap di ujung saraf dan berisiko menyebabkan herpes zoster di kemudian hari. Karena itu, pencegahan dan penanganan yang tepat sangat penting,” pungkasnya.

(Achmad Ghiffary M / Moh Resha Maharam / Unhas TV)