Laporan EKA SASTRA dari World Economic Forum di Davos, Swiss*
Memasuki hari kedua World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, suasana diskusi terasa lebih tegang dan lebih jujur. Ruang-ruang panel masih dipenuhi jas gelap dan lencana delegasi, tetapi nada percakapan tidak lagi sekadar teknokratis.
Jika hari pertama diisi dengan pemetaan risiko global, mulai dari perlambatan ekonomi, volatilitas pasar, hingga eskalasi konflik geopolitik, maka hari kedua bergerak ke wilayah yang lebih mendasar dan lebih sensitif, yakni perdebatan tentang fondasi sistem itu sendiri.
Di lorong-lorong pusat kongres, di ruang panel yang penuh, hingga dalam percakapan informal antardelegasi, satu pertanyaan berulang muncul, dunia memang masih tumbuh, tetapi untuk siapa pertumbuhan itu bekerja? Dan sampai kapan ketimpangan bisa ditoleransi tanpa menimbulkan gejolak politik yang lebih luas?
Kapitalisme dalam Sorotan
Salah satu nada paling kuat pada hari kedua adalah kritik terbuka terhadap praktik kapitalisme global yang selama ini dominan. Menariknya, kritik ini tidak hanya datang dari kalangan aktivis atau akademisi, tetapi justru dari para pemimpin korporasi besar dan lembaga keuangan global.
Mereka mengakui bahwa logika bisnis yang hanya berfokus pada efisiensi, margin keuntungan, dan nilai pemegang saham semakin sulit dipertahankan di tengah tekanan sosial yang meningkat. Ketimpangan pendapatan, ketidakpastian kerja akibat otomatisasi, hingga krisis iklim telah menggerus kepercayaan publik terhadap sistem pasar.
Dalam beberapa sesi, muncul konsensus baru yang semakin eksplisit, persoalan utama ekonomi global hari ini bukan semata bagaimana menciptakan pertumbuhan, tetapi bagaimana memastikan manfaat pertumbuhan itu dirasakan secara lebih merata.
Tanpa distribusi yang adil dan sistem perlindungan sosial yang kuat, pertumbuhan justru dapat menjadi sumber ketegangan politik dan polarisasi sosial.
Kapitalisme, dalam diskusi-diskusi itu, tidak lagi diperdebatkan sebagai sistem yang harus dipertahankan atau ditinggalkan, melainkan sebagai sistem yang harus diubah dari dalam, lebih inklusif, lebih berkelanjutan, dan lebih bertanggung jawab secara sosial.
Geopolitik dan Ekonomi yang Kian Menyatu
Hari kedua juga memperlihatkan dengan jelas bahwa ekonomi dan geopolitik kini semakin sulit dipisahkan. Isu tarif, subsidi industri, kontrol ekspor teknologi, hingga pengamanan rantai pasok strategis menjadi topik yang terus berulang dalam berbagai panel.
Negara-negara besar tidak lagi menyembunyikan penggunaan kebijakan ekonomi sebagai instrumen kekuasaan politik dan keamanan nasional. Perdagangan, investasi, bahkan standar teknologi, kini menjadi bagian dari persaingan geopolitik terbuka.

Dalam konteks ini, globalisasi tidak sepenuhnya berhenti, tetapi berubah bentuk. Dunia tidak lagi bergerak menuju integrasi tanpa batas, melainkan menuju globalisasi yang lebih selektif, berbasis aliansi, dan penuh pertimbangan strategis. Fragmentasi bukan lagi anomali, melainkan bagian dari arsitektur baru sistem global.
Bagi banyak negara berkembang, situasi ini menciptakan dilema, peluang untuk menarik investasi tetap ada, tetapi risiko ketergantungan dan tekanan geopolitik juga semakin besar.
AI dan Paradoks Produktivitas
Selain geopolitik, teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), menjadi tema besar lain pada hari kedua. Optimisme terhadap AI sebagai penggerak produktivitas masih kuat, tetapi diskusi juga semakin realistis.
Banyak pemimpin perusahaan mengakui bahwa lonjakan investasi pada AI belum otomatis diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas yang signifikan. Organisasi masih berjuang dengan persoalan adaptasi tenaga kerja, perubahan proses bisnis, serta tantangan etika dan regulasi.
Pesan yang mengemuka cukup jelas, teknologi tidak pernah bekerja di ruang hampa. Tanpa institusi yang adaptif, sumber daya manusia yang siap, dan tata kelola yang kredibel, AI justru berisiko memperlebar kesenjangan antara mereka yang mampu memanfaatkannya dan mereka yang tertinggal.
Bagi dunia pendidikan dan kebijakan publik, ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus dipahami sebagai proyek sosial dan kelembagaan, bukan sekadar proyek teknologi.
Relevansi bagi Indonesia
Bagi Indonesia, dinamika diskusi hari kedua WEF terasa sangat relevan. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian, kapasitas institusional menjadi kunci. Bukan hanya untuk menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga untuk memastikan bahwa pembangunan memiliki legitimasi sosial yang kuat.
Pertumbuhan ekonomi tetap penting, tetapi tidak cukup. Tanpa kebijakan yang mampu menekan ketimpangan, memperluas akses terhadap kesempatan, dan membangun kepercayaan publik, pertumbuhan justru dapat memicu ketegangan sosial yang merusak stabilitas jangka panjang.
Di Davos, semakin jelas bahwa negara yang mampu bertahan dan maju bukan hanya yang memiliki angka pertumbuhan tinggi, tetapi yang mampu mengelola perubahan dengan institusi yang kredibel dan komunikasi publik yang jujur.
Penutup: Dunia yang Masih Mencari Kompas
Hari kedua WEF Davos 2026 menegaskan bahwa dunia sedang berada di tengah transisi besar. Kapitalisme sedang dinegosiasikan ulang, globalisasi sedang berubah bentuk, dan teknologi sedang menantang cara lama kita bekerja dan hidup.
Di tengah ketidakpastian itu, Davos kembali berfungsi sebagai ruang cermin, tempat dunia melihat kegelisahannya sendiri. Tidak ada peta jalan tunggal, tidak ada resep instan. Yang ada hanyalah kesadaran kolektif bahwa arah lama tidak lagi cukup, sementara arah baru masih terus dicari.
Saat senja turun di pegunungan Alpen dan butir-butir salju kembali melayang pelan, satu kesan terasa kian menguat, dunia memang sedang mencari kompas baru. Arah lama tak lagi sepenuhnya menjawab kegelisahan zaman, sementara arah baru belum benar-benar menemukan bentuknya.
Di antara jeda itulah, pekerjaan terbesar kita, sebagai negara, sebagai institusi, dan sebagai masyarakat, bukan hanya menemukan arah, tetapi memastikan bahwa dalam perjalanan menuju masa depan itu, tidak ada yang tertinggal di belakang. No one left behind!
*Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Ekonomi (IKAIE) Unhas
_1-300x169.webp)







