Budaya
Mahasiswa
Pendidikan

Wisudawan Unhas Tampil Beda, Ada Outfit Tradisional Janggan Ala Gadis Kretek hingga Tenun Tanimbar

Marisca Joan Beay dan Afifah Nur Assyifa, lulusan Psikologi Unhas mengenakan outfit tradisional hingga modern saat wisuda April 2026. (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Wisuda Universitas Hasanuddin periode April 2026, yang digelar di Baruga A.P. Pettarani, Makassar, Rabu-Kamis (1-2/4/2026), tak hanya menjadi panggung seremoni akademik.

Di tengah toga dan prosesi formal, momen itu juga berubah menjadi ruang ekspresi diri bagi para wisudawan lewat busana yang mereka kenakan.

Dari balutan unsur tradisional hingga paduan gaya modern, pilihan outfit para lulusan menghadirkan warna lain dalam perayaan kelulusan.

Sejak pagi, suasana wisuda tampak lebih beragam dibandingkan perhelatan akademik biasa. Para wisudawan tidak sekadar mengenakan toga sebagai penanda kelulusan, tetapi juga menambahkan unsur personal melalui pakaian yang dipilih secara khusus.

Busana itu bukan hanya pelengkap penampilan, melainkan pernyataan identitas, latar budaya, dan cara masing-masing lulusan memaknai hari penting dalam hidup mereka.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah Marisca Joan Beay, lulusan Psikologi Unhas. Ia tampil dengan konsep tradisional-modern.

Joan memadukan kain tenun khas Tanimbar dengan unsur busana modern seperti blazer, vest, dan sepatu bot. Perpaduan itu membuat tampilannya tampak formal, tetapi tetap menyimpan penanda kuat atas asal-usul budayanya.

Bagi Joan, pilihan busana tersebut bukan dibuat secara kebetulan. Ia menyebut outfit itu sebagai hasil rancangan keluarganya sendiri, sehingga memiliki nilai personal yang lebih dalam dibanding sekadar pakaian wisuda biasa.

Joan menjelaskan kain yang ia gunakan merupakan bagian dari busana tradisional adat Tanimbar dari sukunya. Kain itu kemudian dipadukan dengan material lain berwarna hitam agar tampil lebih modern dan sesuai untuk suasana wisuda.

Menurut dia, proses menjahit pakaian itu menelan biaya sekitar Rp700 ribu. Namun karena dibuat oleh keluarga sendiri, biaya tersebut dapat ditekan.

Sudah Direncanakan 2 Tahun Sebelumnya

Persiapan outfit itu pun bukan hal yang mendadak. Joan mengatakan gagasan mengenakan busana adat sudah dipikirkan keluarganya sejak sekitar dua tahun lalu, lalu diwujudkan dalam bentuk pakaian yang lebih kontekstual untuk dipakai saat kelulusan.

Bagi Joan, outfit bukan perkara pinggiran dalam hari wisuda. Ia menilai penampilan menjadi bagian dari cara seseorang memancarkan diri pada momen yang istimewa.

Ia bahkan menyebut pentingnya tampil total pada hari kelulusan, karena wisuda merupakan salah satu titik penting yang menandai hasil perjalanan panjang di bangku kuliah.

Dalam pandangannya, busana adalah medium untuk menunjukkan kesiapan, rasa syukur, sekaligus penghargaan terhadap pencapaian diri sendiri.

Pilihan berbeda ditunjukkan Afifah Nur Assyifa, juga lulusan Psikologi Unhas. Jika Joan memadukan tenun Tanimbar dengan gaya modern, Afifah tampil dengan nuansa kebaya janggan yang terinspirasi dari budaya Jawa.

Ia mengenakan kerudung putih, atasan bergaya kebaya, bros, batik, serta sepatu model selop. Penampilan itu memberi kesan klasik, rapi, dan kuat secara simbolik.

Afifah mengaku inspirasinya datang dari budaya Jawa, yang ia anggap dekat dengan identitas personalnya sebagai anak rantau.

Biaya Outfit Ditanggung Orang Tua

Afifah mengatakan busana itu telah disiapkan sejak setahun lalu. Seluruh perlengkapan dibeli oleh orang tuanya, sehingga ia mengaku tidak mengetahui persis kisaran biayanya.

Namun yang lebih penting baginya bukan soal harga, melainkan makna di balik pilihan pakaian tersebut. Ia menyebut inspirasi itu muncul antara lain setelah menonton serial “Gadis Kretek”.

Di luar itu, ia juga ingin merepresentasikan Jawa sebagai salah satu ruang hidupnya. Meski tinggal di Tangerang, yang menurutnya lebih dominan bercorak Sunda, ia merasa punya kedekatan dengan Pulau Jawa dan ingin membawa unsur itu ke panggung wisudanya di Makassar.

Menurut Afifah, outfit wisuda cukup penting karena dapat menunjukkan autentisitas seseorang. Namun ia juga menilai cara mengekspresikan diri tidak harus seragam.

Ada yang memilih tampilan sederhana, ada yang menonjolkan unsur tradisional, dan ada pula yang memadukan tradisi dengan gaya modern.

Dalam pandangannya, setiap pilihan tetap sah selama merepresentasikan diri pemakainya. Wisuda, dengan demikian, bukan hanya ruang formal untuk menerima ijazah, tetapi juga panggung simbolik untuk memperlihatkan cerita masing-masing.

Fenomena ini memperlihatkan pergeseran makna wisuda di kalangan mahasiswa. Seremoni akademik tidak lagi dipahami semata sebagai ritual penutup masa studi, melainkan juga sebagai peristiwa personal yang sarat makna identitas.

Busana menjadi bahasa visual yang menyimpan narasi tentang keluarga, daerah asal, tempat tumbuh, hingga cara lulusan melihat dirinya sendiri.

Di Baruga A.P. Pettarani, hari itu, toga tetap menjadi simbol kelulusan. Tapi di balik toga, ada cerita tentang tradisi, modernitas, dan upaya para wisudawan merumuskan siapa diri mereka pada hari yang mereka anggap istimewa.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)