MAKASSAR, UNHAS.TV - Yayasan Masyarakat Peduli Tuberkulosis (Yamali TB) bekerja sama dengan United Nations Children's Fund (UNICEF) menggelar Pertemuan Orientasi Tuberkulosis (TBC) Anak tingkat Kota Makassar.
Pertemuan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Golden Tulip Makassar, Lantai 5 Jasmine Room, Kamis (8/1/2026).
Ketua Yamali TB, Kasri Riswadi, menjelaskan pertemuan tersebut bertujuan membangun sinergi antarinstansi dalam mendukung program eliminasi tuberkulosis, khususnya pada kelompok anak dan remaja yang tergolong rentan.
Menurutnya, TBC bukan hanya persoalan sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Kegiatan hari ini merupakan pertemuan stakeholder tingkat Kota Makassar. Kami menghadirkan lintas sektor agar bisa terbangun kolaborasi dalam mewujudkan program eliminasi tuberkulosis, khususnya TBC anak,” ujar Kasri.
Ia menyebutkan, selain Dinas Kesehatan, kegiatan ini juga melibatkan Dinas Sosial, Kementerian Agama, BKKBN, BKPRMI, serta sejumlah kelurahan di Kota Makassar.
Keterlibatan lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat kontribusi masing-masing pihak sesuai dengan kapasitas dan kewenangannya.
Kasri menegaskan, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah kasus TBC terbesar kedua di dunia setelah India. Karena itu, upaya penanggulangan TBC harus dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan, termasuk melalui pendekatan berbasis komunitas.
“Tuberkulosis bisa menyerang semua kelompok usia, dan anak serta remaja merupakan kelompok yang paling rentan. Oleh karena itu, kegiatan ini kami fokuskan pada TBC anak dan remaja melalui kerja sama Yamali TB dengan UNICEF Indonesia,” jelasnya.
Pertemuan orientasi ini merupakan bagian dari program berjenjang yang sebelumnya telah dilaksanakan di tingkat provinsi, kemudian diinternalisasi ke tingkat kabupaten/kota, termasuk Kota Makassar.
Selain Makassar, program serupa juga dijalankan di Kabupaten Gowa dan Kabupaten Pinrang, sebelum nantinya menyasar sekolah serta komunitas berbasis kelurahan dan desa.
Sementara itu, Penanggung Jawab Program TB Dinas Kesehatan Kota Makassar, Sierli Natar, menilai kegiatan tersebut sebagai langkah strategis di awal tahun 2026 untuk meningkatkan penemuan kasus TBC anak di Kota Makassar.
“Kegiatan ini luar biasa karena melibatkan organisasi pemerintah, komunitas, hingga kelurahan. Harapannya, dukungan dari semua pihak dapat meningkatkan penemuan kasus TBC anak, yang selama ini masih terkendala rendahnya pemahaman masyarakat,” kata Sierli.
Ia menambahkan, keterlibatan RT/RW, kader posyandu, serta petugas kesehatan sangat penting karena mereka memahami kondisi wilayah dan masyarakat secara langsung.
Menurutnya, tingginya angka penemuan kasus TBC di Makassar juga dipengaruhi oleh posisinya sebagai pintu masuk berbagai layanan kesehatan.
“Makassar memiliki cakupan layanan kesehatan yang luas, mulai dari puskesmas, rumah sakit, hingga praktik dokter swasta. Jika semua aktif melakukan skrining dan pelaporan, maka penemuan kasus bisa lebih optimal,” ujarnya.
Dari tingkat provinsi, Penanggung Jawab Program TB Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Julia Yunis, menekankan bahwa TBC anak masih membutuhkan upaya yang lebih agresif karena cenderung sulit terdeteksi di masyarakat.
“Kasus TBC anak biasanya baru ditemukan ketika sudah berada di layanan kesehatan. Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan penemuan kasus bisa dilakukan lebih dini melalui peran kader kelurahan, posyandu, dan sekolah,” jelas Andi Julia.
Ia juga menjelaskan bahwa tren kasus TBC di Sulawesi Selatan masih berada pada angka temuan sekitar 64 persen berdasarkan data sementara.
Meski demikian, peningkatan penemuan kasus justru dipandang positif sebagai upaya menekan penularan di masyarakat.
Untuk mendukung eliminasi TBC, Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel telah melakukan berbagai intervensi, seperti skrining menggunakan portable X-ray di 16 kabupaten/kota, skrining di Lapas dan Rutan, hingga edukasi dan skrining di sekolah-sekolah.
“Kami berharap dengan dukungan multisektor dan anggaran pemerintah daerah, Sulawesi Selatan dapat mempercepat langkah menuju eliminasi TBC pada tahun 2030,” pungkasnya.
(Achmad Ghiffary M / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)
Penanggung Jawab Program TB Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Julia Yunis, saat memaparkan kasus TBC di Sulawesi Selatan di Hotel Golden Tulip Makassar, Kamis (8/1/2026). (unhas tv / ahmad giffary)
-300x169.webp)







