Oleh: Yusran Darmawan*
Seulas senyum tampak di wajah pria itu setelah hampir setengah jam berdoa di Masjid Tua Tosora, di kawasan bekas ibu kota Kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan. Ia datang jauh-jauh dari Tulungagung bersama sekitar 30 rekannya.
Seusai berdoa, ia berjalan menuju makam yang berdampingan dengan masjid. Di tempat itulah bersemayam seorang tokoh yang selama berabad-abad dikenal masyarakat setempat sebagai Petta WalliE, dan belakangan dikenali para peziarah sebagai Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al-Husain.
Pria itu berdiri di sisi makam, merapal doa, lalu menangkupkan kedua tangan ke wajah. Ketika menurunkannya kembali, ia tersenyum seperti seseorang yang baru saja menuntaskan perjalanan panjang. “Saya senang karena bisa berdoa di makam kakek saya,” katanya.
Tanpa saya minta, ia mulai merunut silsilah. Menurut tradisi genealogis yang diyakininya, Sayyid Jamaluddin berasal dari Malabar, pesisir selatan India, dan mempunyai garis keturunan yang tersambung kepada Nabi Muhammad.
Namanya ditempatkan sebagai salah satu leluhur penting dari jaringan ulama yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk sejumlah tokoh yang dikenal dalam tradisi Wali Songo.
Silsilah itu panjang dan tidak seluruh bagiannya mudah diverifikasi, tetapi justru di situlah daya tarik Tosora. Makam ini menjadi titik pertemuan antara sejarah, silsilah keluarga, ingatan lokal, dan keyakinan para peziarah.
Ambo Tang Daeng Mattenru, yang akrab dipanggil Ambo Tang, bertahun-tahun menelusuri jejak Sayyid Jamaluddin. Ia mencatat bahwa masyarakat Tosora pada mulanya tidak mengenal nama panjang tersebut. Mereka mengenalnya sebagai Petta WalliE. Dalam bahasa Bugis, Petta merupakan bentuk penghormatan yang kurang lebih berarti “Tuan Kita”, sedangkan WalliE berarti “Sang Wali”.
Nama Sayyid Jamaluddin muncul lebih jelas belakangan. Ketika pertama kali berziarah ke makam itu, Ambo Tang memperoleh selembar silsilah berukuran poster dari H. Abd. Salam Mas’ud, Kepala Desa Tosora. Menurut Salam Mas’ud, silsilah tersebut dibawa rombongan peziarah dari Jawa Timur. Bagi Ambo Tang, dokumen itulah yang kemudian “menginspirasi untuk merajut tulisan ini.”
Salah satu tokoh yang membuat makam Petta WalliE dikenal lebih luas adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ambo Tang mencatat kunjungan ziarah Gus Dur pada 1997. Tidak lama kemudian, datang rombongan peziarah dari Jawa Timur yang membawa silsilah tersebut. Menurut Ambo Tang, setelah rangkaian peristiwa itulah “baru terungkap secara jelas bahwa sosok misterius itu bernama Sayyid Jamaluddin Al-Akbar Al-Husain.”
Dalam ingatan lain yang pernah saya baca dan dengar, Gus Dur sebelumnya pernah berusaha menuju Tosora tetapi terhalang jembatan yang putus sehingga ia berdoa di tengah perjalanan. Detail kronologi cerita itu masih perlu diperiksa. Namun yang jelas, kunjungan Gus Dur ikut membawa makam yang sebelumnya lebih banyak hidup dalam ingatan lokal ke dalam jaringan ziarah Islam Nusantara.
Setiap tahun, saya melihat sendiri bagaimana jaringan itu bekerja. Kompleks Masjid Tua Tosora dan makam Sayyid Jamaluddin dipenuhi manusia dalam peringatan Maulid Nabi sekaligus haul sang wali.

Peziarah datang dari berbagai daerah di Sulawesi, Jawa, bahkan Malaysia dan Singapura. Sebagian menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk duduk beberapa puluh menit di dekat makam seorang ulama yang hidup ratusan tahun lalu.
“Saya datang untuk mengambil berkah,” kata pria dari Tulungagung tadi.
Dalam tradisi Jawa, praktik itu dikenal sebagai ngalap berkah. Dalam bahasa Bugis ada kata yang terasa sangat akrab: barakka'. Orang datang membawa harapan dan kegelisahan, bahkan persoalan yang sangat duniawi, lalu menghubungkannya dengan tempat yang diyakini mempunyai jejak kesalehan.
Saya teringat George Quinn dalam Bandit Saints of Java. Quinn memperlihatkan bagaimana masjid dan makam keramat, dua ruang yang secara teologis kadang dipertentangkan, justru hidup berdampingan dalam praktik keberagamaan masyarakat.
Masjid menghadirkan Al-Quran, syariah, imam, dan ulama, sedangkan makam menghidupkan wali lokal, sejarah setempat, cerita keluarga, mimpi, dan pengalaman spiritual. Di Nusantara, orang dapat salat di masjid lalu berziarah ke makam, membaca Al-Quran sekaligus mendengarkan kisah tentang wali. Islam hadir sebagai agama dunia, tetapi memperoleh bentuk sosialnya melalui tempat-tempat yang sangat lokal.
Tosora memperlihatkan proses itu dengan jelas. Sosok Petta WalliE telah hidup dalam ingatan orang Wajo jauh sebelum identitas historisnya diperdebatkan. Ambo Tang sendiri lahir di Tancung Alau, kawasan di Wajo yang juga menyimpan makam yang oleh masyarakat disebut makam Petta WalliE. Mengenai siapa yang sebenarnya dimakamkan di sana, Ambo Tang mengakui, “sampai saat ini belum penulis temukan data dan informasinya.”
Pengakuan itu penting karena memperlihatkan bahwa tidak semua cerita dipaksanya menjadi kepastian sejarah. Sejak kecil, Ambo Tang telah mendengar orang-orang tua bercerita tentang Petta Walli, sosok yang dikenang karena kebaikan dan kesediaannya menolong.
Karakternya dirangkum dalam syair Bugis: Nallettuki tau poole, menerima mereka yang datang; Naddakkari tau perii, menolong orang dalam kesulitan; Narapiisi tau malaasa, membantu orang yang sakit; dan Nacongari tau puusa, menunjukkan jalan kepada mereka yang kebingungan.
Syair itu memberi petunjuk tentang bagaimana masyarakat menyimpan seseorang dalam ingatan. Mereka mungkin tidak mengingat tahun kelahiran, jalur pelayaran, atau dinasti yang berkuasa pada zamannya, tetapi mereka mengingat wataknya. Dalam masyarakat yang sejarahnya banyak diwariskan secara lisan, karakter terkadang bertahan lebih lama daripada kronologi.
Ambo Tang berusaha membawa ingatan itu ke wilayah sejarah dengan mengumpulkan silsilah, cerita keluarga, makam, data tempat, dan berbagai sumber tertulis. Ia menempatkan kelahiran Sayyid Jamaluddin di Malabar pada 1270 dan wafatnya di Tosora pada 1453, sehingga usianya disebut mencapai 183 tahun.
Angka tersebut tentu membutuhkan pengujian historiografis lebih jauh, sebab setiap informasi ibarat kepingan puzzle yang perlu dipertautkan untuk memahami gambaran besar sejarah. Ambo Tang sendiri mengingatkan bahwa catatannya disusun dengan “data yang sangat terbatas, sarat perbedaan, tumpang tindih atau bahkan bertentangan.”
Justru pengakuan itu membuat pencarian ini menarik. Sejarah Sayyid Jamaluddin belum selesai. Ia tersusun dari dokumen, silsilah, makam, tradisi keluarga, dan cerita lisan yang kadang tidak mudah dipertemukan.
Martin van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat juga menunjukkan kerumitan nama dalam tradisi genealogis para wali. Ambo Tang merujuk telaah van Bruinessen ketika membahas berbagai nama dan gelar yang dikaitkan dengan Sayyid Jamaluddin.
Bentangan geografis dalam kisah hidupnya tidak kalah menarik. Ambo Tang menggambarkan Sayyid Jamaluddin sebagai pengembara yang bergerak antara Asia Selatan, Semenanjung Melayu, dan kepulauan Nusantara. Menurutnya, perjalanan itu bukan sekali jalan, melainkan mobilitas hilir-mudik yang berkaitan dengan dakwah, keluarga, dan mungkin perdagangan.
Ia hidup pada zaman ketika laut bukan pemisah, melainkan jalan raya. Kapal-kapal menghubungkan India, Selat Malaka, Sumatera, Jawa, Sulawesi hingga Maluku.
Yang bergerak bukan hanya lada, kain, keramik, rempah, dan emas, tetapi juga manusia beserta bahasa, kitab, keyakinan, teknologi, dan gagasannya. Islamisasi Nusantara karena itu lebih mudah dipahami sebagai proses panjang perjumpaan manusia daripada sebagai satu peristiwa dengan satu tanggal dan satu pelaku.
Ambo Tang mempunyai istilah menarik untuk menggambarkan proses tersebut: “Dakwah Peradaban.” Menurutnya, dakwah jaringan Sayyid Jamaluddin tidak berhenti pada urusan ibadah, melainkan “menyentuh seluruh aspek kehidupan dan kebutuhan manusia”, termasuk pemikiran, kebudayaan, ekonomi, dan pembangunan.
Hubungan langsung antara perubahan di Wajo dan kehadiran Sayyid Jamaluddin memang masih memerlukan pembuktian lebih jauh. Ambo Tang sendiri mengakui bahwa penyebab perubahan tersebut tidak tercatat dan hubungannya dengan armada dakwah tidak terdokumentasikan.
Namun gagasan itu menarik karena menempatkan Islamisasi sebagai proses sosial melalui keteladanan, pengetahuan, hubungan keluarga, perdagangan, dan dialog dengan masyarakat setempat.
Tosora menjadi panggung penting dari cerita itu. Kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan dan perdagangan Wajo. Jejak masa lalunya masih terlihat pada masjid tua, makam, bekas benteng, parit, dan jaringan perairan yang dahulu menopang kehidupan kota.
Kini Tosora berada sekitar 16 kilometer di sebelah timur Sengkang dan menyimpan sejumlah situs cagar budaya, termasuk makam Sayyid Jamaluddin atau Petta Walli MallenrungE ri Tosora.
Namun Tosora dan sekitarnya tidak hanya menyimpan sejarah yang dapat dicari melalui dokumen. Ia juga menyimpan legenda. Di Tancung Alau, Ambo Tang merekam cerita tentang seorang Petta WalliE yang konon, tiga hari setelah dimakamkan, bangkit dan berjalan menuju Tappareng Karaja.
Di tepi air, ia mengambil setangkai pohon waru, menancapkannya, kemudian menyeberangi danau. Masyarakat memaknai tindakan itu melalui kata makkawaru, berusaha atau berikhtiar. Pesannya diwariskan dalam bahasa Bugis:“Yamaneng idi' kalaki usalaie, pada makkawaruki.” Kalian yang saya tinggalkan, berusaha atau berikhtiarlah.
Bagi sejarawan, kisah orang yang bangkit dari makam tentu tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai fakta. Namun pertanyaan yang tidak kalah menarik adalah mengapa masyarakat mempertahankan cerita tersebut selama beberapa generasi.
Legenda mungkin tidak membuktikan apa yang terjadi ratusan tahun lalu, tetapi ia memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat memilih mengingat seseorang. Dalam kisah Petta WalliE, yang diwariskan bukan kekuasaan atau kekayaan, melainkan ikhtiar.
***
Malam mulai merayap ketika salawat dan doa berkumandang dari tanah lapang dekat Masjid Tua Tosora. Sekitar tiga ribu jemaah memenuhi kawasan itu. Di sebuah rumah panggung Bugis, saya duduk bersama orang-orang dengan latar belakang beragam: pegawai negeri, pedagang, akademisi, anggota dewan, direktur BUMN, hingga praktisi pengobatan alternatif.

Seorang kawan mengatakan bahwa haul Sayyid Jamaluddin terasa lebih Jawa daripada Bugis. Saya memahami maksudnya. Salawat ala pesantren dan rombongan peziarah dari Jawa menghadirkan suasana yang tidak sepenuhnya berasal dari tradisi Bugis.
Namun begitulah kebudayaan bekerja. Sesuatu datang dari luar, bertemu dengan tradisi setempat, dinegosiasikan dan diubah, hingga suatu hari tidak lagi dianggap asing.
Tosora malam itu seperti simpang budaya tempat tradisi pesantren Jawa bertemu masyarakat Bugis, silsilah bertemu lontara, serta sejarah tertulis bertemu legenda. Masjid berdiri hanya beberapa langkah dari makam yang didatangi para peziarah. Semuanya saling memengaruhi seperti jaringan sungai dan danau yang dahulu menghidupi kota tua itu.
Saya kemudian memahami mengapa orang datang membawa begitu banyak keinginan. Ada pedagang yang berharap usahanya berkembang, politisi yang ingin masuk parlemen, nelayan yang mengharapkan tangkapan lebih banyak, serta orang-orang yang membawa persoalan masing-masing. Semua mencari satu hal yang sama: barakka', berkah.
Barangkali ziarah memang bekerja sebagai jeda dalam kehidupan. Orang meninggalkan rutinitas, melakukan perjalanan, duduk di dekat makam, mendengar salawat dan mengucapkan doa, lalu kembali ke dunia yang sama. Persoalannya belum tentu selesai, tetapi dirinya mungkin tidak persis sama. Ada harapan yang diperbarui dan keberanian yang ditata kembali.
Di tengah orang-orang yang tampaknya tahu apa yang hendak diminta, justru saya yang kebingungan. Kekayaan, ketenaran, atau keberhasilan? Saya merasa tidak benar-benar menginginkan ketiganya. Saya hanya ingin menitipkan satu niat: semoga manusia dapat hidup lebih damai dan sentosa.
Ketika suara doa memenuhi malam Tosora, saya kembali memandang makam Petta WalliE. Saya teringat batang waru dalam cerita Ambo Tang dan pesan yang ditinggalkan sang wali: makkawaru, berusaha dan berikhtiar.
Tiba-tiba saya merasa pesan itu lebih penting daripada segala permintaan yang dibawa ke makam. Barakka' mungkin bukan hanya sesuatu yang kita tunggu datang setelah doa selesai diucapkan. Berkah bisa berupa kekuatan untuk kembali menjalani kehidupan, bekerja, menolong orang lain, dan tidak menyerah kepada keadaan.
Malam semakin larut. Para peziarah akhirnya akan meninggalkan Tosora dan kembali ke kehidupan masing-masing. Mereka datang membawa doa dan harapan. Namun dari sebuah cerita tua tentang Petta WalliE, ada pesan sederhana yang rasanya masih pantas dibawa pulang: Pada makkawaruki. Teruslah berikhtiar.
undefined




-300x171.webp)



