UNHAS.TV - Tepat 77 tahun lalu, penyair besar Indonesia Chairil Anwar wafat di usia muda. Namun pengaruhnya tak pernah mati. Untuk mengenang jasanya, pemerintah menetapkan 28 April sebagai Hari Puisi Nasional.
Sepanjang hidupnya, Chairil Anwar menghasilkan sekitar 94 karya, di antaranya 70 puisi. Puisi terakhirnya berjudul Cemara Menderai Sampai Jauh yang ditulis pada 1949.
Mengutip buku Chairil Anwar Hasil Karya dan Pengabdian karya Dra Siti Sutjianingsih, puisi-puisi Chairil Anwar menggambarkan beragam sisi kehidupan, seperti kematian, cinta tanah air, semangat perjuangan, keagamaan, kasih sayang, suasana batin, dan tema lainnya.
Adapun puisi pertama yang ditulis Chairil Anwar berjudul Nisan, yang lahir saat ia baru kehilangan nenek tercintanya.
Dari Medan, Lahir Seorang Pemberontak Kata
Chairil Anwar lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dari pasangan Tulus dan Saleha. Ia tumbuh dalam keluarga Minangkabau yang menjunjung tinggi nilai agama dan tradisi. Sejak kecil, Chairil kerap berpindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan ayahnya sebagai pegawai pemerintahan.
Saat pendudukan Jepang pada 1942, Tulus menjabat sebagai komis dan kemudian menjadi kontrolir hingga 1945. Pada masa Perang Kemerdekaan, ia sempat ditahan oleh para pemuda, namun kemudian dibebaskan.
Jabatan terakhirnya adalah bupati di Rengat, sebelum akhirnya gugur ditembak Belanda pada 5 Januari 1949 dalam Agresi Militer Belanda II.
Lingkungan keluarga yang konservatif dan taat ajaran agama membuat masa kecil Chairil dipenuhi aturan dan tradisi yang ketat, sehingga ia kerap merasa terkungkung. Keadaan semakin berat karena hubungan kedua orang tuanya tidak harmonis.
Namun di samping itu, Chairil kecil sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya, segala kebutuhan dan keinginannya selalu dipenuhi. Kakak perempuan Chairil, Chairani, juga sangat menyayanginya dan kerap memanjakannya.
Saat Chairil masih menempuh pendidikan, Chairani telah lebih dulu bekerja sebagai guru di Medan. Kedekatan hubungan keduanya terlihat sangat kuat.
Di lingkungan luar rumah, Chairil kecil pun dikenal sebagai anak yang disukai banyak orang. Selain karena ayahnya memiliki kedudukan terpandang, kepribadian Chairil sendiri membuat orang-orang menaruh simpati kepadanya.
Ia dikenal sebagai anak yang menarik, cerdas, berpikiran tajam, lincah, terbuka, serta berani dan tidak pemalu. Karena sifat-sifat itulah, di sekolah ia juga disenangi para guru maupun teman-temannya.
Dikutip dari buku Chairil Anwar Hasil Karya dan Pengabdian, Chairil Anwar memulai pendidikannya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Medan.
Setelah itu, ia melanjutkan sekolah ke MULO di kota yang sama. Namun, pendidikannya di sana hanya sampai kelas dua, sebelum kemudian meninggalkan Medan dan pergi ke Batavia yang kini dikenal sebagai Jakarta.
Saat beranjak remaja, Chairil dikenal mudah bergaul dengan berbagai kalangan dan memiliki banyak kenalan. Ia mempunyai kepedulian sosial yang tinggi serta tidak bersikap sombong, meskipun dalam dirinya tersimpan rasa percaya diri yang besar dan keyakinan atas kemampuan sendiri.
Sejak duduk di HIS, ia sudah gemar membaca. Selain itu, Chairil juga menguasai bahasa Belanda dengan baik. Pada masa liburan sekolah, ia kerap pulang ke rumah orang tuanya di Pangkalan Brandan.
Jejak Si Binatang Jalang di Dunia Sastra
Setelah kedua orang tuanya berpisah pada 1940, Chairil bersama ibunya menetap di Jakarta. Di kota tersebut, ia mulai serius menapaki dunia sastra. Bahkan sejak usia 15 tahun, ia telah bercita-cita menjadi seorang seniman.
Perjalanan Chairil sebagai penyair dimulai pada 1942 melalui puisi berjudul Nisan. Setelah itu, lahir berbagai karya lain yang semakin mengukuhkan namanya, di antaranya Penghidupan (1942), Aku (1943), dan Karawang-Bekasi (1948).
Puisi Aku menjadi salah satu karya paling terkenal dan melahirkan julukan “Si Binatang Jalang” yang hingga kini identik dengan sosoknya.
Di tengah-tengah perjuangan revolusi yang ia ikuti, Chairil menikahi seorang gadis bernama Hapsyah pada 6 September 1946. Namun perkawinan tersebut tidak berjalan mulus, sebab persoalan ekonomi yang menerpa mereka.
Pada periode Januari hingga Maret 1948, Chairil Anwar sempat bekerja sebagai redaktur di majalah Gema Suasana. Setelah itu, ia memilih mundur dan kemudian bergabung dengan majalah Siasat sebagai redaktur pengelola rubrik kebudayaan bernama Gelanggang.
Selama berkarya sebagai penulis, Chairil juga pernah merancang penerbitan majalah kebudayaan yang akan diberi nama Air Pasang dan Arena. Namun, gagasan tersebut tidak sempat terwujud hingga akhir hayatnya.
Akhir Hidup Sang Penyair di Usia 27 Tahun
Karena pola hidupnya yang kurang teratur, Chairil Anwar akhirnya terserang berbagai penyakit. Kondisinya memburuk dan ia jatuh sakit serius pada April 1949.
Pada masa itu, Chairil sudah tidak lagi tinggal bersama istrinya dan menumpang di rumah beberapa temannya. Saat kesehatannya menurun, ia sedang menetap di kamar milik seorang sahabat bernama S. Suharto di kawasan Jalan Paseban 36.
Selama menjalani masa sakit, Chairil Anwar dirawat dan didampingi sejumlah sahabat dekatnya, di antaranya M. Balfas, Rivai Apin, dan H.B. Jassin. Mereka bergantian menjenguk serta membantu kebutuhannya.
H.B. Jassin bahkan sempat mengirim surat kepada ibu dan kakak ipar Chairil yang saat itu berada di Medan, agar Chairil dapat dibawa pulang untuk memperoleh perawatan yang lebih baik. Namun rencana tersebut tidak sempat terlaksana.
Chairil Anwar wafat di Jakarta pada 28 April 1949 pukul 14.30 dalam usia 27 tahun. Kabar duka itu mengejutkan keluarganya setelah menerima telegram tentang kepergiannya. Diketahui, Chairil menderita beberapa penyakit, antara lain gangguan paru-paru, infeksi darah, dan penyakit usus.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Hari Puisi Nasional Chairil Anwar, diperingati setiap tanggal 28 April. (Dok UMJ)


-300x170.webp)




