Mahasiswa
Pendidikan

Dari Culture Shock hingga Pakai Toga, Kisah Mahasiswa Asing Jalani Wisuda di Baruga AP Pettarani Unhas

Osama Adnan Mohd Shalash SKG, lulusan program Sarjana Kedokteran Gigi asal Yordania. (Unhas TV/Moh Resha)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar wisuda periode April 2025 hari pertama di Baruga AP Pettarani, Kampus Unhas, Tamalanrea, Makassar, Rabu (1/4/2026). Prosesi yang dimulai pukul 08.00 Wita itu berlangsung dalam suasana Idulfitri.

Di tengah seremoni akademik itu, perhatian peserta wisuda tertuju pada sejumlah wisudawan internasional yang ikut menuntaskan tahap penting perjalanan studinya di Unhas.

Kehadiran mahasiswa asing dalam wisuda kali ini memberi warna tersendiri. Di balik toga dan senyum pada hari wisuda, tersimpan kisah adaptasi yang tidak ringan.

Mereka datang dari berbagai negara, menempuh pendidikan di Makassar, lalu berhadapan dengan perbedaan bahasa, kebiasaan, dan lingkungan sosial. 

Salah seorang wisudawan internasional yang hadir adalah Osama Adnan Mohd Shalash SKG, lulusan program Sarjana Kedokteran Gigi asal Yordania.

Bagi Osama, wisuda ini bukan sekadar seremoni penutup masa studi sarjana, melainkan penanda bahwa ia telah melewati separuh jalan dalam pendidikannya di Unhas.

“First of all, this is my first graduation here because I’m waiting too actually. So it means a lot being halfway done of the journey in Unhas. I feel it’s a really nice environment, really lovely people and I’ve learned a lot here (Pertama-tama, ini adalah wisuda pertama saya di sini karena saya memang sedang menunggunya. Jadi, ini sangat berarti karena saya sudah setengah jalan menyelesaikan perjalanan di Unhas. Saya merasa ini lingkungan yang sangat bagus, orang-orangnya sangat ramah, dan saya telah belajar banyak di sini),” kata Osama.

Ia mengaku, saat pertama kali tiba di Indonesia, pengalaman yang dirasakannya adalah culture shock. Perbedaan yang ia temui tidak hanya soal bahasa, tetapi juga wajah-wajah baru, kebiasaan sosial, dan keragaman budaya yang jauh berbeda dari negara asalnya. Namun keterkejutan itu perlahan berubah menjadi pengalaman yang memperkaya.

First time I came here it was a cultural shock, you know, I come from Jordan and then I come here I see all the new cultures, so many languages, so many people, different faces, so it was a little bit a shock for me but then when I got to know the people they are very friendly, they are very helpful and the hospitality is very nice,” ujarnya.

Menurut Osama, lingkungan kampus yang ramah dan dukungan sosial dari orang-orang di sekitarnya menjadi faktor penting yang membantunya beradaptasi.

Ia menilai Unhas memberi ruang bagi mahasiswa asing untuk belajar sekaligus mengenal kehidupan sosial yang berbeda dari latar tempat asal mereka. Pengalaman itu, kata dia, membuat masa studinya di Makassar terasa berarti.

Setelah menyelesaikan tahap pendidikan ini, Osama berencana kembali ke Yordania. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis di bidang kedokteran gigi.

“This is a really hard question you know but I think I’m going back to my country after I finish in here and then hopefully I will pursue a specialty in dentistry (Ini pertanyaan yang sangat sulit, lho, tapi saya akan kembali ke negara saya setelah menyelesaikan studi di sini, dan mudah-mudahan bisa mengambil spesialisasi di bidang kedokteran gigi),” kata dia.

Tidak Bisa Hanya 1 Menit

Selain Osama, cerita serupa datang dari drg Azwan Sayed SKG, wisudawan asal Sudan. Azwan menyebut pengalamannya selama kuliah di Unhas tidak mudah dijelaskan dalam satu kalimat.

Baginya, perjalanan akademik di kampus Merah itu penuh tekanan, tantangan, sekaligus dukungan yang membentuknya hingga bisa berdiri di hari wisuda.

Honestly, if I want to explain that, I mean, I will start from today and see tomorrow and it’s gonna be a long story (Sejujurnya, jika saya ingin menjelaskannya, saya akan mulai dari hari ini dan melihat besok, dan itu akan menjadi cerita yang panjang),” kata Azwan.

Ia mengaku emosional ketika mengenang masa-masa studi yang telah dilalui, terutama ketika harus menjalani koas dan menghadapi ujian kompetensi.

Azwan mengatakan masa pendidikan profesi dan ujian menjadi fase yang berat. Namun ia menekankan bahwa dukungan teman sekelas, dokter pembimbing, dan lingkungan akademik membuat tekanan itu dapat dilalui.

Menurut Azwan, kebersamaan dalam menghadapi masa sulit justru menjadi bagian yang paling membekas.

It was really really stressful but you know everyone was supporting me rather than my classmates, my doctors, so everything just becoming so good,” ujar dia.

Bagi Azwan, wisuda kali ini juga memiliki arti khusus karena merupakan kali kedua ia mengikuti wisuda di Unhas. Momen itu, menurut dia, terasa mengharukan sekaligus membanggakan.

Ia mengaku sempat tidak percaya dapat sampai pada tahap ini, tetapi pada akhirnya berhasil menuntaskan seluruh proses akademik yang dijalani.

“It was really such a honorable moment that I was here and I wasn’t believing myself that I’ll be graduating soon but here I am,” kata Azwan.

Seperti Osama, Azwan juga menaruh harapan untuk melanjutkan studi ke jenjang spesialis. Ia membuka kemungkinan menempuh pendidikan lanjutan di Indonesia apabila kesempatan itu tersedia. Namun ia juga mempertimbangkan pilihan lain di luar negeri, sesuai peluang yang datang.

To be sincere, I’m looking for a specialist program. If I find it here, that would be a really grateful moment. But let’s see how it goes (Sejujurnya, saya mencari program spesialis. Jika saya menemukannya di sini, itu akan menjadi momen yang sangat membahagiakan. Tapi mari kita lihat bagaimana kelanjutannya),” ujar dia.

Kisah Osama dan Azwan memperlihatkan bahwa wisuda bukan hanya perayaan akademik, tetapi juga penegasan atas perjalanan lintas budaya yang telah mereka jalani.

Pengalaman mereka menunjukkan bahwa adaptasi sosial, dukungan lingkungan, dan keterbukaan kampus menjadi unsur penting dalam proses pendidikan mahasiswa internasional.

Kehadiran para wisudawan asing pada wisuda periode ini sekaligus mencerminkan posisi Universitas Hasanuddin sebagai kampus yang semakin inklusif dan terbuka bagi mahasiswa dari berbagai negara.

Di tengah perbedaan bahasa dan budaya, Unhas menjadi ruang perjumpaan yang memungkinkan pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan harapan masa depan.

(Venny Septiani Semuel / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)