Mahasiswa

Inovasi Maggot dan Gerakan Seribu Bibit Mahasiswa Universitas Hasanuddin Picu Transformasi Ekologi–Ekonomi Warga Kabupaten Sidenreng Rappang

Mahasiswa KKN Tematik Gelombang 115 Universitas Hasanuddin berfoto bersama aparat desa dan warga Desa Anabannae usai sosialisasi budidaya maggot dan pembagian bibit pohon sebagai langkah nyata pengelolaan sampah organik dan gerakan penghijauan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Mahasiswa KKN Tematik Gelombang 115 Universitas Hasanuddin berfoto bersama aparat desa dan warga Desa Anabannae usai sosialisasi budidaya maggot dan pembagian bibit pohon sebagai langkah nyata pengelolaan sampah organik dan gerakan penghijauan di Kabupaten Sidenreng Rappang.

SIDENRENG RAPPANG, UNHAS.TV — Kamis, 29 Januari 2026 pukul 10.00 WITA, aula Kantor Desa Desa Anabannae berubah menjadi ruang belajar ekologis ketika mahasiswa KKN Tematik Gelombang 115 Universitas Hasanuddin menggelar sosialisasi budidaya maggot sekaligus pembagian bibit pohon gratis sebagai strategi terpadu mengatasi sampah organik dan memperkuat ketahanan lingkungan desa.

Program ini dirancang sebagai model pengelolaan limbah berbasis sains terapan dengan memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) yang secara empiris mampu mereduksi sampah organik rumah tangga hingga 50–70 persen dalam waktu singkat sekaligus menghasilkan residu yang kaya unsur hara sebagai pupuk kompos alami.

Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan kondisi pedesaan yang sebagian besar menghasilkan limbah dapur dan sisa pertanian setiap hari, sehingga budidaya maggot tidak hanya menyelesaikan persoalan kebersihan, tetapi juga menciptakan siklus ekonomi sirkular melalui pakan ternak berprotein tinggi dan pupuk organik bagi lahan pekarangan.

Kegiatan ini menghadirkan pemateri ahli pengelolaan maggot, Muhammad Isra dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, yang memaparkan teknik budidaya mulai dari penyiapan media, manajemen koloni lalat BSF, hingga proses panen dan pengolahan residu menjadi pupuk bernilai ekonomis.

Sekitar 30 warga mengikuti pelatihan dengan antusias, didampingi Kepala Desa Muh. Yunus, Koordinator Desa KKN 115 Fifi Fitriana beserta tim mahasiswa, serta perangkat desa yang bersama-sama menyimak paparan teknis dan diskusi aplikatif terkait potensi usaha mikro berbasis maggot.

Kepala Desa Desa Anabannae menyerahkan bibit pohon secara simbolis kepada perwakilan warga dalam kegiatan sosialisasi budidaya maggot dan penghijauan yang digagas mahasiswa KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin di Aula Kantor Desa, sebagai langkah konkret membangun pengelolaan sampah organik berbasis sains sekaligus memperkuat gerakan lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Kepala Desa Desa Anabannae menyerahkan bibit pohon secara simbolis kepada perwakilan warga dalam kegiatan sosialisasi budidaya maggot dan penghijauan yang digagas mahasiswa KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin di Aula Kantor Desa, sebagai langkah konkret membangun pengelolaan sampah organik berbasis sains sekaligus memperkuat gerakan lingkungan berkelanjutan di Kabupaten Sidenreng Rappang.


Acara dibuka melalui sambutan koordinator desa KKN yang menegaskan komitmen mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata berbasis riset kampus, lalu dilanjutkan sambutan kepala desa yang menyebut inovasi ini sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan biaya pengelolaan sampah.

Setelah sesi materi, dilakukan penyerahan simbolis bibit pohon oleh kepala desa kepada perwakilan warga sebagai penanda dimulainya gerakan penghijauan kolektif, sebelum seluruh bibit dibagikan merata kepada peserta dan kepala dusun untuk ditanam di pekarangan maupun lahan kosong.

Bibit yang dibagikan mencakup tanaman produktif dan peneduh yang dipilih berdasarkan kesesuaian agroklimat setempat, sehingga diharapkan dapat berfungsi ganda sebagai penyerap karbon, penahan erosi, serta sumber pangan keluarga di masa depan.

Secara ilmiah, integrasi budidaya maggot dan penanaman pohon ini sejalan dengan konsep sustainable village yang menekankan pengurangan limbah di sumbernya, peningkatan kesuburan tanah secara organik, serta penguatan kemandirian pangan berbasis komunitas.

Warga Desa Anabannae mengerumuni meja praktik saat mahasiswa KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin mendemonstrasikan langsung proses budidaya maggot sebagai metode ilmiah pengolahan sampah organik menjadi pupuk alami dan pakan ternak bernilai ekonomi, dalam pelatihan lingkungan yang berlangsung interaktif di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Warga Desa Anabannae mengerumuni meja praktik saat mahasiswa KKN Tematik 115 Universitas Hasanuddin mendemonstrasikan langsung proses budidaya maggot sebagai metode ilmiah pengolahan sampah organik menjadi pupuk alami dan pakan ternak bernilai ekonomi, dalam pelatihan lingkungan yang berlangsung interaktif di Kabupaten Sidenreng Rappang.


Pelaksanaan kegiatan berlangsung tertib dan interaktif, dengan warga aktif mengajukan pertanyaan teknis seputar perawatan koloni, potensi pemasaran maggot kering, serta cara memanfaatkan pupuk kompos untuk tanaman hortikultura rumahan.

Melalui inisiatif ini, mahasiswa KKN berharap Desa Anabannae dapat menjadi percontohan desa ramah lingkungan di Sidrap, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya ekonomi yang bernilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat.

Gerakan kecil dari kantor desa tersebut pada akhirnya menegaskan bahwa transformasi ekologis dapat dimulai dari level paling lokal, ketika pengetahuan kampus bertemu gotong royong warga, lalu menjelma menjadi praktik nyata yang menumbuhkan harapan akan masa depan desa yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.(*)