Internasional

100 Jam Berperang Lawan Iran, Amerika Sudah Habiskan Rp 63 Triliun, Ini Rinciannya

MAKASSAR, UNHAS.TV - Peperangan yang dilancarkan Amerika Serikat melawan Iran tercatat sebagai perang termahal abad ini. Hanya 100 jam pertama atau mulai dari 28 Februari hingga 3 Maret 2026, militer Amerika Serikat sudah menghabiskan dana senilai 3,7 miliar US Dollar atau setara dengan Rp 63 triliun.

Jumlah ini melebihi jumlah dana yang dihabiskan 100 negara untuk membiayai operasi militernya selama tahun 2024. Angka sebesar itu akan terus bertambah karena hingga kini peperangan masih berlangsung.

Menurut catatan Pusat Kajian Strategi dan Internasional yang dikutip oleh kantor berita Al Jazeera, biaya-biaya tersebut terbagi menjadi: (1) biaya operasi armada militer yang mencakup pengerahan artileri, kapal perang, dan lebih dari 200 pesawat jet tempur. Biayanya sekitar 196 juta Dollar AS dan anggarannya sudah disetujui Kongres AS. 

(2) Biaya amunisi sebesar 3,1 miliar Dollar AS yang mencakup pemakaian lebih dari 2.600 peluru kendali, roket, bom terarah, serta drone; (3) Biaya lllainnya adalah akibat rontoknya armada tempur, termasuk tiga jet tempur F-15 yang ditembak jatuh oleh kesalahan Angkatan Udara Kuwait. Nilai keseluruhannya sekitar 359 juta Dollar AS.

Namun, biaya ini belum termasuk kerusakan yang diakibatkan oleh serangan Iran yang menyasar fasilitas militer milik AS di berbagai negara. Saat Iran menyerang Pangkalan Udara AS Al Udeid di Qatar, AS kehilangan sekitar Rp 18 triliun, karena pangkalan tersebut berisi sistem radar tercanggih.

Hal yang membuat Amerika Serikat begitu banyak menghabiskan uang karena kecerdikan Iran. Iran menggunakan drone Shahed-136 yang harganya "cuma" 50 ribu Dollar AS, namun AS butuh biaya 100 kali lipat hanya untuk merontokkan satu drone tersebut. 

Sebagai gambaran, selama empat hari, Iran melepaskan 500 peluru kendali (rudal) dan 2.000 drone. Rudal dan drone itu sama sekali tidak perlu mengenai sasaran. Cukup hanya terbang di atas angkasa, demi membuat militer AS melepaskan sistem pertahanan udaranya.

Lalu, siapa yang akan membayar semua biaya perang itu? Dari 3,7 miliar Dollar AS, Pentagon hanya mampu menganggarkan 178 juta Dollar AS. Selain itu, tidak ada lagi sumber dana yang tersedia. 

Itu berarti Pemerintahan Donald Trump sedang menjalankan politik anggaran, pakai saja dulu, nanti sisa uangnya dicarikan dari sumber lain. Yang penting, hajar dulu, urusan bayar, nanti dipikirkan caranya.

Namun, jika jalan keluarnya yakni menyodorkan pembiayaan itu ke Kongres, maka hanya tersedia Supplemental Spending Bill atau Rancangan Undang-Undang Alokasi Tambahan.

Ini adalah undang-undang yang disahkan badan legislatif untuk menyediakan dana tambahan di luar anggaran tahunan reguler. Ini digunakan untuk membiayai kebutuhan mendesak, tak terduga, atau darurat seperti bencana alam, perang, atau krisis ekonomi.

Trump akan mengajukan hal itu ke Kongres, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Presiden George W Bush usai berperang melawan Irak dan Afghanistan. Namun, pengajuannya tidak mudah karena Partai Demokrat di Kongres tentu akan melawan usulan itu.

Jika Supplemental Spending Bill tertolak, Trump masih punya pilihan yakni mengajukan Reconciliation Bill atau RUU Rekonsiliasi. Ini adalah prosedur legislatif khusus yang memungkinkan Senat meloloskan undang-undang terkait anggaran, pendapatan, dan utang negara dengan mayoritas sederhana (51 suara), menghindari filibuster yang butuh 60 suara. 

Keunggulan Reconciliation Bill dibanding Supplemental Spending Bill adalag memungkinkan partai mayoritas mengesahkan kebijakan fiskal yang nyata tanpa menunggu dukungan oposisi di Kongres.

Kalau Trump menggunakan Reconciliation Bill, maka ia bisa mendapatkan anggaran sebesar 150 miliar Dollar AS. Namun jika ini pun bermasalah, maka yang tersisa yakni Future Spending Bill atau memindahkan anggaran itu ke anggaran periode berikutnya yang tentu saja sulit dilaksanakan.

Kini, kerumitan itu makin menggumpal di kepala Trump. Peperangan sudah berjalan 12 hari dan belum ada tanda berakhir. Lalu, semakin hari semakin terlihat perang adalah mahluk rakus uang dan yang bisa menghentikan kerakusan itu hanya ego: berani mengaku kalah. Masalahnya, dia Trump. (*)