Sosial
Terkini

26 Tahun Menabung dari Kayuh Becak, Kamiseng dan Risnawati Akhirnya Berangkat Haji

CALON HAJI - Jemaah Calon Haji (JCH) Kamiseng saat ditemui Unhas TV di Wisma Raudah, Asrama Haji Sudiang, Makassar, Rabu (29/4/2026). (Unhas TV/Wandi Nojeng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Selama 26 tahun, Kamiseng, tukang becak asal Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, menyisihkan penghasilan hariannya demi satu tujuan, berangkat haji bersama istrinya, Risnawati.

Ikhtiar panjang itu akhirnya terbayar pada Rabu (29/4/2026), saat keduanya masuk dalam rombongan calon jemaah haji Kloter 12 Embarkasi Makassar di Asrama Haji Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Kamiseng dan Risnawati tampak berjalan penuh rasa mantap dari Wisma Raudah menuju Aula Mina untuk mengikuti prosesi pelepasan calon jemaah haji.

Wajah keduanya memperlihatkan haru sekaligus bahagia. Mereka bergabung dengan ratusan calon jemaah haji lainnya yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci melalui Embarkasi Makassar.

Di antara para jemaah yang mengenakan pakaian serba putih, keduanya menjadi sosok yang menarik perhatian karena perjalanan hidup yang mereka tempuh sebelum tiba di titik ini, berangkat naik haji.

Kisah Kamiseng menjadi perhatian karena biaya perjalanan ibadah haji itu dikumpulkan dari hasil menarik becak. Ia mulai menabung sejak 2000. Penghasilannya tidak besar, rata-rata berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 90 ribu per hari.

Dari jumlah itu, ia tetap berusaha menyisihkan sebagian untuk tabungan haji, sembari memenuhi kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, dan keperluan rumah tangga lain.

Uang yang terkumpul sedikit demi sedikit disimpan, tanpa banyak perhitungan selain keyakinan bahwa niat tersebut harus terus dijaga.

“Becak saja saya bawa. Jadi begitu uang terkumpul, saya langsung pergi mendaftar (agar dapat nomor porsi),” kata Kamiseng di Asrama Haji Sudiang.

Ia mengatakan tidak memiliki pekerjaan lain selain mengayuh becak. Karena itu, setiap pendapatan harian ia pilah dan sisihkan dengan sangat hati-hati.

Bila memperoleh rezeki lebih, ia memasukkan lebih banyak uang ke celengan. Bila pendapatannya sedikit, ia tetap menyisihkan semampunya.

“Kalau banyak saya dapat (hasil narik becak), banyak juga saya sisihkan. Kalau sedikit, saya sisipkan sedikit, yang penting tetap menabung,” ujarnya.

Menurut Kamiseng, niat berhaji muncul kuat ketika ia pernah mengantar seseorang yang hendak berangkat ke Tanah Suci.

Saat melihat jemaah haji tersebut, ia berdoa dalam hati agar suatu hari dapat memperoleh kesempatan yang sama. Doa itu kemudian menjadi pegangan dalam menjalani pekerjaan sehari-hari. “Saya sama istriku berangkat mungkin karena takdir dan jalan Allah SWT,” ujarnya.



CALON HAJI - Jemaah Calon Haji (JCH) Kamiseng dan Risnawati tampak berjalan pelan dari Wisma Raudah menuju Aula Mina untuk mengikuti prosesi pelepasan calon jemaah haji, Rabu (29/4/2026). (Unhas TV/Wandi Nojeng)


Setelah menabung lebih dari satu dasawarsa, Kamiseng kemudian memberanikan diri mendaftar haji pada 2013 lalu. Tabungan yang terkumpul saat itu mencapai lebih dari Rp 25 juta untuk biaya pendaftaran dan pelunasan awal mendapatkan nomor porsi atau antrian.

Setelah menunggu giliran selama 13 tahun untuk keberangkatan, pasangan suami istri itu akhirnya masuk daftar calon jemaah haji yang akan diberangkatkan tahun 2026 ini.

Kamiseng mengaku tidak pernah membayangkan perjuangannya akan sampai pada hari keberangkatan. Namun ia memilih bertahan pada niatnya yang tulus.

Baginya, keterbatasan penghasilan bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Ia menilai semua proses yang dilalui menjadi bagian dari perjalanan panjang yang harus dijalani dengan sabar.

Keberangkatan pasangan suami istri, Kamiseng dan Risnawati menambah suasana haru pelepasan Kloter 12 Embarkasi Makassar.

Kisah pasangan ini menjadi gambaran tentang kesabaran, ketekunan, dan keyakinan yang dijaga selama puluhan tahun, dari jalanan kota hingga pintu keberangkatan menuju Tanah Suci.

(Wandi Nojeng / Unhas TV)