MILAN, UNHAS.TV - AC Milan mengambil langkah tegas setelah gagal lolos ke Liga Champions musim 2026-2027. Klub asal Lombardia itu memecat pelatih Massimiliano Allegri menyusul kekalahan 1-2 dari Cagliari di San Siro pada laga terakhir Serie A, Minggu (24/5/2026).
Kekalahan itu membuat AC Milan hanya finis di posisi kelima dan tersingkir dari empat besar pada hari penentuan ke Liga Champions. Dari tribun, kekecewaan suporter mengeras. Dari ruang direksi, keputusan lebih jauh segera menyusul.
Pemecatan Allegri bukan satu-satunya perubahan. Pemilik klub, RedBird Capital Partners, sekaligus mengumumkan pergeseran besar di level manajemen.
Giorgio Furlani selaku chief executive, direktur olahraga Igli Tare, dan direktur teknis Geoffrey Moncada juga dilepas dari jabatan mereka.
Dalam pernyataannya, pemilik menilai musim ini sebagai kegagalan yang “tidak terbantahkan” setelah Milan kehilangan kendali pada fase akhir kompetisi. Klub menyiapkan restrukturisasi menyeluruh sebelum pramusim dimulai.
Kegagalan AC Milan terasa makin berat karena terjadi bersamaan dengan jatuhnya Juventus ke posisi keenam.
Untuk pertama kalinya sejak format Liga Champions diubah pada 1992-1993, dua raksasa Italia itu sama-sama absen dari turnamen elite Eropa tersebut.
Reuters menyebut situasi ini sebagai guncangan besar bagi Serie A, sekaligus penanda krisis yang lebih luas di sepak bola Italia.
Kegagalan itu juga membuka jalan bagi klub seperti Como, yang mengamankan tiket Liga Champions dengan finis di empat besar.
Secara performa, perjalanan Milan musim ini memang berlapis kontras. Tim Allegri sempat berada di dua besar selama sebagian besar musim dan bahkan masih menyimpan peluang mengejar Scudetto pada beberapa fase.
Namun, peta itu runtuh pada penghujung musim. Setelah rangkaian hasil yang stabil di awal, Milan kehilangan momentum menjelang garis finis. Allegri pun mengakui tanggung jawab atas kegagalan tersebut sesaat setelah kekalahan dari Cagliari.
Data hasil akhir memperlihatkan rapuhnya penutupan musim Milan. Dari 13 laga Serie A terakhir, mereka hanya meraih lima kemenangan, sekali imbang, dan tujuh kali kalah. Catatan itu membuat keunggulan yang dibangun sejak awal musim menguap begitu saja.
Milan tetap menutup kompetisi dengan 70 poin, jumlah tertinggi bagi klub yang gagal menembus empat besar dalam era tiga poin per kemenangan, tetapi angka itu tetap tidak cukup untuk menyelamatkan tiket Liga Champions.
Di sisi lain, analisis Opta yang dikutip Reuters menunjukkan Milan sebenarnya diperkirakan finis keempat berdasarkan expected points, dengan proyeksi 62,7 poin.
Fakta bahwa Milan akhirnya mengumpulkan 70 poin menunjukkan mereka melampaui ekspektasi model, namun hasil statistik itu tidak mampu menutupi persoalan utama: performa aktual pada fase krusial justru anjlok.
Dengan kata lain, efisiensi sepanjang musim tidak berbuah saat kompetisi memasuki pekan-pekan penentuan.
Perhatian kini bergeser ke siapa yang akan memimpin Milan pada musim depan. Allegri, yang baru kembali ke klub pada Mei tahun 2025 lalu untuk periode kedua setelah pernah menangani Milan pada 2010-2014, belum memiliki penerus yang diumumkan.
RedBird menyatakan pengumuman berikutnya akan disampaikan kemudian, dengan target agar struktur baru sudah siap sebelum musim baru dimulai.
Allegri sendiri dikaitkan dengan tim nasional Italia, sementara sejumlah nama lain mulai masuk bursa. Bagi Milan, ini bukan sekadar pergantian pelatih, melainkan babak baru dari sebuah perombakan besar-besaran. (*)
DIPECAT - Pelatih AC Milan Massimiliano Allegri dipecat manajemen klub setelah gagal lolos Liga Champions. (Tangkapan layar Reuters)








