Oleh: Yusran Darmawan*
Andai Donald Trump pernah duduk cukup lama di kelas antropologi, mungkin ia tidak akan semudah itu mengancam atau menyerang Iran.
Antropologi mengajarkan satu hal yang sering dilupakan para politisi: setiap masyarakat memiliki dunia makna sendiri. Mereka tidak hanya digerakkan oleh perhitungan militer atau ekonomi, melainkan oleh sejarah, keyakinan, simbol, serta ingatan kolektif yang membentuk cara mereka memandang hidup dan mati.
Iran adalah contoh yang sangat jelas.
Di sana, politik tidak pernah sepenuhnya terpisah dari agama. Sejak Revolusi Islam 1979, negara Iran dibangun di atas doktrin Wilayat al-Faqih, kepemimpinan ulama sebagai otoritas tertinggi negara.
Pemimpin tertinggi bukan sekadar kepala negara; ia juga figur religius yang memegang legitimasi spiritual. Kekuasaan politik dan otoritas moral berpadu dalam satu struktur.
Karena itu konflik dengan Iran tidak pernah sepenuhnya bersifat geopolitik. Ia selalu bersinggungan dengan iman.
Untuk memahami Iran, seseorang harus kembali ke satu peristiwa yang terus hidup dalam ingatan kolektif Syiah: tragedi Karbala pada tahun 680 M. Di sana Imam Husain, cucu Nabi Muhammad, gugur dalam perlawanan melawan kekuasaan Yazid.
Dalam tradisi Syiah, peristiwa itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia menjadi paradigma moral tentang keberanian melawan ketidakadilan, bahkan ketika peluang kemenangan hampir tidak ada.
Dari peristiwa itu lahir konsep syahadah, kematian syahid sebagai kehormatan spiritual. Dalam imajinasi religius Syiah, gugur di medan perjuangan bukan hanya kehilangan hidup; ia dapat menjadi kemenangan moral.
Tradisi ini tidak berhenti sebagai ritual keagamaan. Ia meresap ke dalam budaya politik Iran. Kisah Karbala diwariskan dari generasi ke generasi, menanamkan satu pesan yang sederhana namun kuat: pengorbanan demi kebenaran tidak pernah sia-sia.
Karena itu ancaman perang tidak selalu menimbulkan ketakutan. Dalam masyarakat yang memuliakan pengorbanan, ancaman kadang justru memperkuat solidaritas.
Ironisnya, Amerika Serikat sebenarnya sangat memahami pentingnya antropologi dalam membaca bangsa lain. Selama Perang Dunia II, pemerintah Amerika meminta antropolog Ruth Benedict mempelajari budaya Jepang.
Hasilnya adalah buku The Chrysanthemum and the Sword, sebuah studi tentang bagaimana kehormatan, disiplin, dan simbol budaya membentuk cara bangsa Jepang bertindak.
Benedict bahkan tidak pernah mengunjungi Jepang pada masa perang. Ia mempelajari film, literatur, laporan militer, juga wawancara dengan tawanan perang. Dari riset budaya itu Amerika mencoba memahami mentalitas lawan sebelum menentukan langkah politik dan militer.
Benedict menggambarkan dua simbol penting dalam budaya Jepang: bunga krisan sebagai lambang kehalusan budaya, dan pedang samurai sebagai simbol kehormatan.
Pemahaman inilah yang kemudian membantu Amerika membaca psikologi politik Jepang, termasuk keputusan penting untuk tetap mempertahankan posisi Kaisar setelah Jepang menyerah.
Antropolog lain, seperti Margaret Mead, juga terlibat dalam berbagai proyek penelitian yang membantu pemerintah Amerika memahami masyarakat di berbagai belahan dunia.
Dengan kata lain, antropologi tidak hanya menjadi ilmu akademik. Dalam banyak kasus ia digunakan sebagai cara memahami sebuah bangsa secara mendalam sebelum mencoba menaklukkannya.
Di sinilah ironi itu muncul.
Amerika Serikat selama puluhan tahun membangun tradisi strategis yang sabar, mengkaji budaya, membaca sejarah, memahami mentalitas suatu bangsa sebelum mengambil keputusan perang.
Namun tradisi panjang itu kini seperti disingkirkan oleh ketergesaan seorang pemimpin yang terlalu yakin pada kekuatan militernya.
Ia lupa satu hal sederhana: dalam sejarah perang, kekuatan sering kali jatuh justru ketika ia mulai memandang rendah lawannya. Di situlah jebakan mulai bekerja. Di situlah perangkap mulai menutup.
Itu terlihat saat berhadapan dengan Iran. Iran bukan sekadar negara modern dengan tentara dan rudal. Ia adalah peradaban panjang; warisan Persia yang berusia ribuan tahun bertemu dengan teologi Syiah yang kuat. Sejarah, agama, serta identitas nasional bertaut menjadi satu.
Cara Iran memahami perang tidak selalu sama dengan logika militer Barat. Dalam memori kolektif masyarakatnya hidup cerita tentang pengorbanan, martabat, dan perlawanan terhadap tirani. Kesadaran sejarah itu juga membentuk strategi militernya.
Iran tahu bahwa secara teknologi mereka tidak dapat menandingi kekuatan Amerika Serikat. Karena itu mereka mengembangkan doktrin perang asimetris. Jaringan milisi, komando yang tersebar, penggunaan drone murah, kapal cepat di Teluk Persia, serta pertahanan yang tidak bergantung pada satu pusat kekuatan.
Strategi ini sering disebut sebagai mosaic defence, pertahanan berlapis yang tetap bertahan meskipun sebagian struktur militer dihancurkan. Jika satu komandan gugur, unit lain mengambil alih; jika satu kota lumpuh, jaringan lain tetap bergerak.
Perang seperti ini tidak mudah diselesaikan dengan serangan udara atau teknologi presisi. Yang dihadapi bukan hanya militer sebuah negara, melainkan jaringan perlawanan yang lentur dan terbiasa hidup dalam tekanan.
Di atas kertas strategi, perang selalu terlihat sederhana. Peta digambar, target ditentukan, angka-angka dihitung. Namun di medan sejarah, perang sering ditentukan oleh sesuatu yang tidak tercatat dalam laporan intelijen: keyakinan manusia tentang arti hidup dan mati.
Di satu sisi berdiri tentara dengan teknologi militer paling canggih di dunia: satelit, drone, sistem komando digital. Di sisi lain berdiri prajurit yang tumbuh dalam cerita panjang tentang Karbala; tentang Husain yang gugur tetapi tidak pernah kalah dalam ingatan umatnya.
Yang satu menghitung kemenangan dengan kalkulasi militer. Yang lain memandang kematian sebagai bagian dari kehormatan.
Di sanalah konflik ini menemukan nadanya. Ia bukan sekadar benturan rudal dan pesawat tempur, melainkan benturan dua cara memandang dunia.
Ketika sebagian prajurit Iran maju dengan kesiapan menjadi martir, sementara banyak prajurit Amerika masih mengkalkulasi tujuan perang yang mereka jalani, medan tempur berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar operasi militer.
Ia menjadi panggung sejarah.
Sejarah sebenarnya telah memberi banyak pelajaran: kekuatan besar jarang runtuh karena musuh yang lebih kuat. Ia lebih sering runtuh karena kesombongan yang membuatnya meremehkan lawan yang tampak kecil.
Barangkali karena itulah bangsa yang hidup dalam tradisi pengorbanan tidak selalu takut pada kehancuran. Penyair Persia Rumi pernah menulis:
آنجا که ویرانی است، امید گنجی هست
Ānjā ke vīrānī ast, omīd-e ganjī hast. Di tempat yang tampak sebagai kehancuran, selalu ada harapan akan sebuah harta yang tersembunyi.
Dan mungkin di situlah ironi terbesar perang ini.
Di satu sisi berdiri kekuatan yang menghitung kemenangan dengan teknologi dan strategi. Di sisi lain berdiri mereka yang tidak takut kehilangan hidup.
Ketika yang satu berperang dengan mesin, dan yang lain berperang dengan keyakinan, medan tempur berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dari sekadar operasi militer.
Ia menjadi sebuah simfoni perang yang keras, panjang, dan tak mudah diprediksi, dan mungkin sekali lagi akan mengingatkan dunia pada pelajaran lama: bahwa dalam sejarah manusia, kekuatan sering kali kalah bukan oleh kelemahan lawannya, melainkan oleh keangkuhannya sendiri.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.
undefined




-300x169.webp)



