UNHAS.TV - TAK banyak talenta muda potensial yang bisa menapaki karir hingga top managemen. Alih alih sampai ke puncak terkadang baru dilevel manajer atau kepala divisi sudah stagnan. Dibutuhkan daya tahan menjalani proses, upskill, character building, dan motivasi diri growth yang kuat.
Itu bukan kata saya. Itu tips- jika tak ingin dibilang nasihat- dari Dr dr Andi Afdal Abdullah MBA AAK. Anda sudah tahu ia adalah dokter yang sekarang Direktur Operasi Perum Bulog.
Banyak yang salah kaprah, dia sesungguhnya punya latarbelakang pendidikan mumpuni dibidang bisnis, management dan suplay chain dengan jenjang S2 di UGM dan doktoral di UI.
Hal itu disampaikan Afdal- begitu ia akrab disapa- saat tampil sebagai panelis dalam Leadership Forum IKA Unhas Jabodetabek yang bertajuk Executive Insight: Menjadi Pemimpin BUMN yang Berintegritas, Adaptif dan Berdaya Saing di Bulog Corporate University, Sabtu (8/8/2026) di Jakarta.
.webp)
Direktur Operasional Perum Bulog Dr dr Andi Afdal MBA AAK. (Dok Ika Unhas Jabodetabek)
Diskusi panel ini menghadirkan narasumber lainnya selain Afdal. Yakni Abdul Rivai Ras (Dirut PTPN 1), Alimuddin Baso (Direktur Pemasaran Korporat PT Pertamina Subholding Downstream), Muhammad Yusuf (Direktur Kealumnian Unhas).
Jalannya diskusi dipandu Firmansyah Arifin, Sekretaris IKA Unhas Jabodetabek yang juga VP Marketing and Comercial PT Pertamina Driling Services Indonesia.
Suatu waktu, Afdal menceritakan, dirinya yang masih karyawan pemula bertemu Menteri BUMN yang saat itu dijabat Sofyan Jalil.
“Kamu orang Bugis ya,” tebak Soyan.
“Iya pak”
“Setahu saya orang Bugis dikenal tangguh dan punya obsesi sampai ke puncak seperti enau,” kata Sofyan, putra Aceh yang dikenal dekat Jusuf Kalla.
Sejak pertemuan itu, Afdal mengaku mendapat insight yang berharga dalam perjalanan karirnya. “Enau tidak akan kelihatan buahnya jika tidak sampai di puncak pohonnya,” ujar Afdal berfilosofi.
Ia kemudian menjelaskan makna filosofi pohon enau (aren) mengutamakan proses yang mengajarkan pencapaian tidak bisa didapatkan secara instan. Tapi melalui pertumbuhan yang sabar, ketahanan menghadapi tekanan dan lingkungan ekstrem, serta pengolahan yang penuh kehati-hatian.
Selain itu, lanjutnya, pohon enau merupakan simbol dari resilience ecology (ketahanan ekosistem) dan circular utility di mana setiap elemen hidupnya didedikasikan untuk memberi nilai bagi sekitarnya.
Poin pentingnya terutama dalam memandang sebuah proses, menurut Afdal, adalah sabar dalam pertumbuhan.
“Enau tidak tumbuh dalam semalam. Pohon ini memerlukan waktu bertahun-tahun untuk matang sebelum akhirnya bisa disadap air niranya atau menghasilkan buah kolang-kaling. Ini mengajarkan kita untuk menghargai fase-fase awal kehidupan maupun karir yang sering kali tidak terlihat hasilnya,” jelas pria yang juga Ketua IKA Unhas Jabodtabek ini.
Selain itu, menurut Afdal, enau sering tumbuh liar di lereng tebing atau tanah berundak yang sulit. Akarnya yang menjalar kuat mencerminkan proses membangun fondasi karakter yang kokoh agar tidak mudah tumbang saat diterpa badai ujian hidup.
Dan terakhir, setelah melewati proses panjang, tidak ada bagian dari enau yang terbuang sia-sia. Mulai dari akar untuk obat, batang untuk bangunan, ijuk untuk sapu, hingga nira untuk gula merah.
“Proses hidup yang benar akan membentuk manusia yang membawa manfaat bagi siapa saja di sekelilingnya dimana pun ia bertugas atau tinggal,” tuturnya.
Afdal menilai tantangan yang dihadapi BUMN dan dunia usaha semakin kompleks. Perubahan teknologi, dinamika geopolitik, tekanan ekonomi global, tuntutan efisiensi serta ekspektasi masyarakat terhadap tata kelola perusahaan menuntut hadirnya pemimpin yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip.
“Kita membutuhkan talent muda yang akan mengisi kursi pemimpin masa depan seperti filosofi enau yang berproses dalam pengetahuan, skill, attitude dan motivasi kuat,” tegasnya. (rusman madjulekka)
LEADERSHIP FORUM - IKA Unhas Jabodetabek menggelar Leadership Forum yang bertajuk Executive Insight: Menjadi Pemimpin BUMN yang Berintegritas, Adaptif dan Berdaya Saing di Bulog Corporate University, Jakarta, Sabtu (8/8/2026). (Dok Ika Unhas Jabodetabek)








