oleh: Yusran Darmawan*
Tentu saja saya ingin membela Ridwan Kamil. Siapa yang tega tidak membela lelaki dengan paket lengkap seperti dia. Tampan, pintar, arsitek, lulusan luar negeri, kaya, sukses, berkuasa.
Selama bertahun tahun, Ridwan Kamil menjadi jawaban paling aman ketika orang tua bertanya, apa cita citamu Nak. Tinggal tunjuk layar ponsel. Nih Pak Bu, ini contoh manusianya.
Ridwan Kamil adalah ikon lelaki sempurna di era digital. Sosok ini hadir tepat ketika bangsa ini membutuhkan figur yang bukan hanya bekerja, tetapi terlihat bekerja. Bukan hanya mencintai, tetapi terlihat mencintai.
Dia memahami betul hukum utama zaman ini. Apa yang tidak tampil di layar dianggap tidak pernah ada.
Di situlah kejeniusan Kang Emil bekerja. Blitz kamera bukan gangguan, melainkan habitat. Media bukan sekadar peliput, melainkan perpanjangan tangan narasi. Kang Emil menjelma ikon tren, mode, dan gaya hidup, termasuk gaya cinta yang fotogenik.
Tanpa dirinya, mungkin kita masih mengira pernikahan adalah urusan dua orang. Syukurlah figur ini meluruskan kekeliruan itu. Pernikahan adalah urusan publik. Publik berhak melihat bukti cinta. Kalau bisa tiap minggu.
Kalau memungkinkan tiap hari. Foto mesra tersedia. Caption puitis wajib. Narasi istri adalah segalanya konsisten. Bahkan algoritma ikut terharu.
Di panggung politik, Ridwan Kamil muncul seperti meteor. Terang, cepat, memikat. Pendekatan kekinian, gaya yang cair, humor yang terkurasi rapi membuat banyak partai tergoda.
Mereka berebut meminang figur ini, seolah sedang memilih duta merek, bukan pemimpin publik. Politik pun tampak ringan, ramah, dan mudah dibagikan.
Sampai di sini, sungguh tidak ada yang salah. Bahkan sangat benar. Kang Emil hanyalah murid paling rajin dari pelajaran sosiologi klasik tentang bagaimana manusia mengelola kesan.
Jauh sebelum media sosial, Erving Goffman sudah mengingatkan bahwa hidup adalah pertunjukan. Ada panggung depan tempat manusia tampil rapi, sopan, dan heroik. Ada panggung belakang tempat kostum dilepas, kelelahan disimpan, dan kontradiksi dibiarkan hidup.
Masalahnya, Ridwan Kamil tampaknya terlalu mencintai panggung depan. Sosok ini bukan sekadar aktor, melainkan sutradara, penulis skenario, sekaligus penata cahaya.
Impresi publik diatur dengan presisi tinggi, sementara panggung belakang disimpan di wilayah abu abu yang tidak boleh disentuh kamera. Publik, seperti penonton setia, ikut percaya bahwa panggung depan itulah seluruh cerita.
Di sinilah pembelaan perlu disampaikan dengan jujur.. Yang dilakukan Kang Emil bukanlah dosa besar. Dia tidak merampok. Tidak korup. Tidak menyakiti siapa pun secara kasat mata. Yang terjadi hanyalah satu kekeliruan yang di zaman narsisme kolektif terdengar sepele tetapi mematikan. Menempatkan diri terlalu tinggi sebagai standar moral.
Ada hukum tak tertulis di media sosial. Siapa pun yang naik ke podium paling benar, maka tanpa sadar sedang mengundang massa untuk membawa palu. Massa bergerombol untuk mengetuk patung itu, mencari retakan sekecil apa pun. Ketika satu retakan muncul, yang runtuh bukan hanya reputasi pribadi, melainkan seluruh narasi moral yang selama ini dijual mahal ke publik.
Maka jangan heran jika kemarahan terasa begitu besar. Kemarahan ini bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kekecewaan yang dalam. Jenis kekecewaan yang hanya muncul ketika seseorang terlalu lama dicintai dan terlalu lama dipercaya.
Publik tidak sedang melemparinya dengan batu. Yang dilempari adalah bayangan diri mereka sendiri yang telanjur ikut percaya pada cerita itu.
Yang runtuh bukan hanya figur publik, melainkan imajinasi kolektif yang dibangun bersama. Bahwa masih ada manusia publik yang utuh, rapi, tanpa retak.
Bahwa di tengah politik yang kusam, masih ada tokoh yang bersih bukan hanya secara administratif, tetapi juga secara moral dan domestik. Ketika narasi itu pecah, publik kehilangan lebih dari sekadar idola. Harapan ikut runtuh.
Dan kehilangan harapan selalu lebih menyakitkan daripada kehilangan tokoh.
Kemarahan itu pada dasarnya adalah rasa malu yang berbalik arah. Malu karena pernah ikut mengagungkan. Malu karena pernah menjadikan satu keluarga sebagai tolok ukur kebahagiaan.
Malu karena pernah membagikan ulang foto, caption, dan potongan kisah yang kini terasa seperti iklan kehidupan sempurna. Maka wajar jika reaksi yang muncul bukan empati, melainkan amarah. Amarah sering kali menjadi cara tercepat untuk menutup rasa ikut bersalah.
Di situlah letak luka publik yang sesungguhnya. Bukan pada fakta yang muncul belakangan, melainkan pada kesadaran bahwa sejak awal publik disuguhi kisah yang terlalu steril untuk sebuah kehidupan nyata.
Ketika sterilitas itu pecah, bau realitas terasa menyengat. Bukan karena realitas kejam, melainkan karena terlalu lama hidup dalam ilusi yang wangi.
undefined

-300x190.webp)






