News
Opini

Jangan Salahkan RIDWAN KAMIL




Maka kemarahan itu sesungguhnya adalah tuntutan yang terlambat. Tuntutan agar sejak awal tersedia cerita yang jujur. Cerita yang tidak memaksa tokohnya menjadi teladan setiap detik. Cerita yang membiarkan ruang abu abu tetap ada. Cerita yang mengakui bahwa menjadi manusia, bahkan manusia publik, adalah proses yang rapuh, tidak konsisten, dan sering kali gagal.

Ironisnya, Ridwan Kamil bukan pelaku utama tragedi ini. Tokoh tersebut bukan arsitek tunggal dari kerapuhan yang kini diperdebatkan dengan suara tinggi dan jari telunjuk moral.

Dia justru produk paling berhasil dari ekosistem yang dirawat bersama. Budaya yang menuntut manusia publik untuk selalu tampak utuh, harmonis, sukses, dan suci. Dalam kebudayaan semacam itu, retak bukan bagian dari proses, melainkan aib yang harus disembunyikan rapat rapat.

Ridwan Kamil menjalankan peran yang disediakan zaman dengan disiplin tinggi. Selera publik dibaca, algoritma emosi massa dipahami, lalu ekspektasi dipenuhi secara konsisten.

Dalam era ini, ketulusan yang tidak terdokumentasi dianggap tidak pernah ada, dan kebahagiaan yang tidak diunggah diperlakukan seperti rahasia yang mencurigakan. Maka unggahan dibuat, narasi disusun, kehidupan ditampilkan. Bukan semata karena hasrat dipuja, melainkan karena sistem meminta itu dan memberi ganjaran ketika kepatuhan ditunjukkan.

Ketergantungan pada likes memang ada. Namun siapa yang tidak. Perbedaannya hanya pada skala. Sebagian dari kita mencari validasi dari puluhan orang. Ridwan Kamil mencarinya dari jutaan.

Kita mengedit hidup agar tampak baik di lingkar kecil. Tokoh ini mengurasi hidupnya untuk panggung nasional. Sosok tersebut adalah versi ekstrem dari kecanduan yang sama sama dipelihara setiap hari, dengan konsekuensi yang jauh lebih gaduh ketika lampu sorot padam.

Dan di titik itulah ironi berubah menjadi kepanikan kolektif. Ketika realitas menyela tanpa filter, tanpa caption, tanpa jeda, kita semua berpura pura kaget. Seolah lupa bahwa kesempurnaan yang selama ini dinikmati bukanlah kenyataan, melainkan hasil penyuntingan.

Seolah lupa bahwa panggung depan, betapapun rapi dan memesona, selalu berdiri di atas panggung belakang yang berantakan.

Keterkejutan publik sesungguhnya adalah keterkejutan atas kebohongan yang selama ini disepakati bersama. Publik menginginkan figur yang manusiawi, tetapi hanya sejauh kemanusiaannya tidak mengganggu imajinasi.

Kejujuran dituntut, tetapi hanya dalam porsi yang masih bisa dicerna tanpa harus merevisi harapan. Maka ketika tirai tersibak terlalu lebar, reaksi yang muncul bukan pemahaman, melainkan amarah.

Pada akhirnya, yang disaksikan bukan sekadar jatuhnya satu figur, melainkan runtuhnya sebuah ilusi kolektif. Ilusi bahwa ada manusia yang bisa hidup sepenuhnya di panggung depan tanpa membayar ongkos di belakang. Ilusi bahwa kehidupan publik dapat disederhanakan menjadi rangkaian foto, caption, dan narasi rapi tanpa sisa.

Dalam bahasa filsafat, inilah dunia yang terbelah antara tampilan dan kenyataan. Jean Baudrillard pernah mengingatkan bahwa kita hidup dalam masyarakat simulasi, ketika representasi tidak lagi mencerminkan realitas, melainkan menggantikannya. The simulacrum is never what hides the truth. It is the truth that hides the fact that there is none.

Ridwan Kamil berdiri tepat di tengah dunia semacam itu. Bukan sebagai penipu tunggal, melainkan sebagai figur yang paling patuh pada logika zaman. Publik, tanpa sadar, ikut menjadi bagian dari mekanisme tersebut.

Kita menyukai cerita yang utuh, bersih, dan menenangkan. Kita memberi tepuk tangan panjang pada kesempurnaan, sambil pura pura lupa bahwa kesempurnaan selalu membutuhkan penyuntingan yang kejam.

Maka tragedi paling sunyi dari semua ini bukanlah jatuhnya satu nama, melainkan kesadaran yang datang terlambat bahwa kita ikut menikmati pertunjukan itu terlalu lama.

Kita bertepuk tangan tanpa pernah bertanya, berapa banyak bagian hidup yang harus disembunyikan agar sesuatu tampak sempurna.

Dan ketika tirai akhirnya terbuka, kemarahan pun meledak. Padahal yang runtuh bukan hanya satu panggung, melainkan kepercayaan kita sendiri pada cerita yang sejak awal terlalu indah untuk sepenuhnya jujur.


*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus kuliah di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.