Opini

Hari Al-Quds: Integrasi Spiritualitas dalam Solidaritas Kemanusiaan

Hari Quds

Oleh:  Khusnul Yaqin

Setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan, jutaan orang dari berbagai penjuru dunia memperingati Hari Al-Quds. Gagasan ini pertama kali dilontarkan oleh Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran, tak lama setelah kemenangan revolusinya pada tahun 1979. Ia menyerukan agar umat Islam dan masyarakat dunia menjadikan hari itu sebagai momentum solidaritas terhadap rakyat Palestina dan perlawanan terhadap penjajahan Israel.

Dari sisi nama Al Quds berarti yang suci. Dari sisi hari adalah hari jumat, yaitu hari yang memunyai keberkahan. Dari sisi bulan ia dilaksanakan pada akhir bulan Ramadhan. Di akhir Ramadhan, kaum muslimin yang berhasil mempuasai bulan Ramadhan berada di puncak spiritualitasnya. Dalam kondisi puncak spiritualitasnya ini, manusia diajak untuk turun ke jalan menyuarakan pembelaannya kepada mereka yang tertindas, rakyat Palestina yang disimbolisasi dengan Al Quds. 

Bagi sebagian orang, Hari Al-Quds dianggap sebagai agenda politis Timur Tengah. Namun, jika ditelaah secara lebih mendalam, Hari Al-Quds bukan sekadar aksi demonstratif, melainkan bentuk nyata dari integrasi antara ibadah dan tanggung jawab sosial. Ia menjadi pengingat bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada ritual, tetapi harus menjelma menjadi keberpihakan yang nyata terhadap mereka yang tertindas.

Ramadhan adalah bulan peningkatan iman dan spiritualitas. Ibadah seperti puasa dan shalat didorong untuk mengasah kepekaan hati dan melatih pengendalian diri. Namun, nilai-nilai spiritual ini akan menjadi hampa jika tidak diturunkan ke dalam kepedulian sosial. Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa shalat sejatinya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Maka, jika ibadah tidak melahirkan keberanian melawan kemungkaran, ada yang perlu dipertanyakan dari kedalaman penghayatannya.

Dalam konteks Palestina, kemungkaran itu nyata. Penjajahan Israel bukan hanya urusan batas wilayah atau sengketa politik semata. Ia adalah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade. Pengusiran penduduk, blokade atas Gaza, penghancuran sekolah dan rumah sakit, serta pembunuhan terhadap warga sipil—termasuk anak-anak—semuanya adalah bentuk pelanggaran nilai kemanusiaan yang paling mendasar.

Tragedi ini bukan hanya luka bagi rakyat Palestina, tetapi juga ujian moral bagi seluruh umat manusia. Dunia internasional mungkin telah berulang kali mengeluarkan resolusi, namun pelanggaran tetap berlangsung, dan suara para korban terus diabaikan. Dalam situasi semacam ini, Hari Al-Quds tampil sebagai medium untuk membunyikan alarm nurani: bahwa penderitaan yang dibiarkan terlalu lama akan menumpulkan kepekaan kemanusiaan kita.

Al-Quds, yang berarti Yang Suci, bukan hanya nama bagi sebuah kota. Ia simbol dari perlawanan terhadap ketidakadilan, simbol dari harapan yang tak kunjung padam, dan simbol dari pertanyaan-pertanyaan spiritual yang menuntut jawaban moral. Maka ketika umat Islam memperingati Hari Al-Quds, sesungguhnya mereka sedang menguji konsistensi ibadah mereka dalam konteks nyata.

Al-Qur’an mengingatkan kita agar tidak hanya khusyuk dalam ibadah, tetapi juga peduli terhadap anak yatim dan orang miskin. Spiritualitas tanpa keberpihakan sosial, menurut kitab suci itu, adalah bentuk pendustaan terhadap agama. Dalam terang ayat-ayat tersebut, diam terhadap penderitaan Palestina bukanlah sikap netral, melainkan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai spiritual yang sejati.

>> Baca Selanjutnya