Opini

Hari Al-Quds: Integrasi Spiritualitas dalam Solidaritas Kemanusiaan



Hari Al-Quds adalah Hari Solidaritas untuk Rakyat Palestina. Credit: NewVision.
Hari Al-Quds adalah hari solidaritas untuk rakyat Palestina yang diperingati pada setiap Jumat Terakhir Ramadan. Credit: NewVision.


Hari Al-Quds juga menjadi momentum refleksi bagi umat beragama secara umum. Menjadi manusia beriman tidak cukup hanya dengan kesalehan ritual. Ia juga harus berani bersuara untuk mereka yang tak mampu bersuara. Dalam banyak ajaran agama, keberpihakan terhadap yang tertindas adalah inti dari nilai-nilai luhur yang diwariskan para nabi dan pemimpin spiritual.

Di tengah dunia yang semakin pragmatis dan penuh dengan kalkulasi kepentingan, suara keadilan sering kali dikaburkan oleh narasi dominan. Diplomasi menjadi dingin, dan penderitaan manusia diubah menjadi angka statistik. Di sinilah Hari Al-Quds memainkan peran penting: ia menyuarakan kemanusiaan dalam bahasa nurani, bukan dalam bahasa politik kekuasaan.

Perlu ditekankan bahwa solidaritas kepada Palestina bukan berarti membenci pihak lain. Hari Al-Quds tidak mengajarkan permusuhan, tetapi mengajak pada kesadaran moral. Ia mendorong masyarakat dunia untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan yang telah terlalu lama berlangsung dan menuntut keadilan ditegakkan tanpa standar ganda.

Ramadhan adalah bulan penyucian jiwa. Namun, penyucian itu akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan komitmen untuk melawan kezaliman. Hari Al-Quds menjadi pengingat bahwa ibadah kita tidak hanya diuji di ruang-ruang masjid, tetapi juga di medan sosial tempat kita menentukan keberpihakan.

Karena itulah, memperingati Hari Al-Quds bukan hanya relevan, tetapi juga mendesak. Ia adalah seruan agar spiritualitas tidak terjebak dalam kesalehan yang egoistik. Ia menegaskan bahwa membela Palestina bukan hanya amanat agama, tetapi juga tanggung jawab sebagai manusia yang masih memiliki nurani.

                                                                       Tamalanrea mas,  27 Maret 2025


*Penulis adalah Guru Besar Universitas Hasanuddin