MAKASSAR, UNHAS.TV - Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan tidak hanya menyita waktu masyarakat, tetapi juga menguji kesabaran para pengguna kendaraan.
Kondisi yang berlangsung hingga berjam-jam itu bahkan sempat berujung kericuhan di Kabupaten Maros dan Bone. Mahasiswa menilai situasi tersebut harus menjadi perhatian bersama agar antrean tidak berubah menjadi konflik antarwarga.
Panjang antrean kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dalam beberapa waktu terakhir.
Masyarakat rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. Namun, lamanya waktu tunggu, kondisi cuaca, serta kelelahan fisik menjadi faktor yang dapat memengaruhi emosi para pengantri.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah insiden keributan sempat terjadi. Di Maros, perselisihan antara konsumen dan pegawai SPBU berujung pada aksi saling pukul.
Sementara di Bone, kericuhan antarwarga bahkan dilaporkan melibatkan senjata tajam jenis badik. Peristiwa itu menunjukkan bahwa antrean panjang dapat menjadi pemicu ketegangan ketika terjadi kesalahpahaman, terutama terkait persoalan urutan antrean.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Aktuaria Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Hasanuddin, Muh. Fakhri Rahmatullah, menilai salah satu penyebab munculnya konflik dalam antrean BBM adalah tindakan menyerobot antrean yang dianggap merugikan pengguna lain.
Menurut Fakhri, masyarakat yang telah menunggu lama cenderung merasa dirugikan ketika ada pihak yang mengambil posisi di depan tanpa mengikuti aturan antrean.
“Kalau menurut saya terkait isu yang terjadi di antrean SPBU atau untuk isi bensin yang ada perkelahian itu, mungkin gara-gara ada salah satu orang yang memotong antrean yang sudah dekat dengan isi bensinnya. Dari sekian waktu yang dia tunggu, akhirnya hilang kesabaran sampai emosinya naik dan lepas kendali,” ujar Fakhri.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung melakukan tindakan emosional ketika menghadapi dugaan pelanggaran antrean. Menurutnya, pendekatan komunikasi perlu dikedepankan sebelum mengambil kesimpulan.
Fakhri mengatakan masyarakat perlu mencari tahu alasan seseorang melakukan tindakan tersebut karena setiap orang dapat memiliki kondisi atau keadaan tertentu yang tidak diketahui orang lain.
“Mungkin kita bisa lebih menanyakan kenapa dia menyerobot antrean tanpa langsung harus emosi. Itu juga bisa menyebabkan yang lainnya ikut tersulut emosinya sehingga masalah menjadi semakin besar,” katanya.
Selain persoalan antrean, kondisi psikologis masyarakat selama menunggu juga menjadi perhatian. Antrean panjang yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari dapat menyebabkan kelelahan, terutama ketika masyarakat harus berdiri atau menunggu di bawah cuaca yang tidak menentu.
Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Andini Trianingsih, menilai masyarakat perlu memahami bahwa seluruh pengguna BBM berada dalam kondisi yang sama-sama membutuhkan dan mengalami kelelahan.
Menurut Andini, konflik besar dapat terjadi ketika emosi tidak mampu dikendalikan meskipun persoalan awalnya hanya berkaitan dengan antrean.
“Mungkin semua orang sama-sama capek. Jadi langkah sebaiknya kita adalah saling memahami satu sama lain. Kalau amarah bisa sampai sebesar itu hingga terjadi pertengkaran besar, masalahnya juga bisa menjadi semakin besar,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap masyarakat harus memiliki kesadaran untuk menghormati hak pengguna lain dalam antrean. Menurutnya, aturan sederhana seperti mengikuti jalur antrean dan tidak mengambil posisi orang lain merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama.
“Kalau kita mengantre di pom bensin, kembali kepada diri sendiri. Kita harus inisiatif bahwa kita tidak boleh menerobos antrean orang lain. Kita sama-sama capek, jadi harus saling mengerti dan mengikuti alur antrean sampai mendapatkan giliran,” kata Andini.
Untuk mencegah konflik, Andini menyarankan agar masyarakat yang terlibat perselisihan tidak langsung melakukan perlawanan fisik. Pihak yang berada di sekitar lokasi dapat membantu memisahkan dan menenangkan situasi sebelum mencari penyelesaian.
Sementara itu, Fakhri juga memberikan tips bagi masyarakat yang harus menghadapi antrean panjang. Ia menyarankan agar pengguna kendaraan tidak menunggu sendirian, melainkan dapat mengajak teman agar kondisi psikologis selama antrean lebih terjaga.
Menurutnya, keberadaan teman dapat membantu mengurangi rasa jenuh ketika waktu tunggu berlangsung lama.
Antrean BBM yang masih terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan menjadi pengingat bahwa persoalan kebutuhan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar, tetapi juga membutuhkan kesadaran sosial masyarakat.
Kesabaran, kepatuhan terhadap aturan antrean, serta kemampuan mengendalikan emosi menjadi kunci agar situasi sulit tidak berkembang menjadi konflik.
Di tengah kebutuhan masyarakat yang meningkat, menjaga ketertiban di ruang publik menjadi tanggung jawab bersama.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
ANTREAN BBM - Mahasiswa Ilmu Aktuaria FMIPA Unhas, Muh Fakhri Rahmatullah dan Mahasiswi Manajemen FEB Unhas, Andini Trianingsih memberikan tanggapan tentang antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Kota Makassar. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)








