MAKASSAR, UNHAS.TV - Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Makassar tidak hanya menyita waktu masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap penghasilan pengemudi ojek online (ojol).
Waktu yang seharusnya digunakan untuk menerima pesanan pelanggan justru habis di jalur antrean demi mendapatkan bahan bakar.
Bagi pengemudi ojol, BBM merupakan modal utama untuk menjalankan pekerjaan. Ketika pasokan sulit dan antrean memanjang hingga berjam-jam, setiap menit yang hilang berarti berkurangnya kesempatan mendapatkan orderan.
Salah satu pengemudi yang merasakan dampaknya adalah Rudi, driver Maxim yang telah menjalani pekerjaan sebagai pengemudi daring selama tiga tahun.
Ia mengaku harus menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk mengantre BBM dengan panjang antrean kendaraan mencapai sekitar tiga hingga empat kilometer.
“Panjangnya sekitar lebih tiga atau empat kilometer. Tadi pagi saya mengantre ada dua jam lebih,” ujar Rudi.
Menurut Rudi, kondisi tersebut membuatnya harus menonaktifkan aplikasi saat berada dalam antrean. Langkah itu dilakukan karena pengemudi memiliki kewajiban menyelesaikan pesanan yang masuk.
Jika order diterima tetapi tidak dijalankan, hal tersebut dapat memengaruhi performa akun dan peluang mendapatkan pesanan berikutnya.
“Kalau antre BBM, aplikasi dimatikan. Kalau ada order masuk tetapi tidak dijalankan, kita bisa dapat pelanggaran dan susah masuk orderan,” katanya.
Akibat waktu produktif yang hilang, pendapatan Rudi ikut mengalami penurunan. Untuk tetap memenuhi kebutuhan rumah tangga dan membayar cicilan kendaraan, ia harus memperpanjang jam kerja dibandingkan kondisi normal.
Jika sebelumnya ia dapat menyelesaikan target harian dengan waktu kerja lebih singkat, kini ia harus berada di jalan hingga malam hari.
“Biasanya sudah cukup untuk pembayaran cicilan dan uang rumah, sekarang jamnya ditambah. Kalau dulu jam tujuh sudah pulang, sekarang bisa sampai jam sepuluh atau sebelas malam,” ujar Rudi.
Rudi biasanya mulai bekerja sejak pukul enam pagi hingga target pendapatannya terpenuhi. Namun, antrean BBM membuat waktu kerja menjadi semakin panjang karena sebagian energi dan waktu telah terkuras sebelum mengambil orderan.
Selain kehilangan waktu kerja, kondisi sulitnya mendapatkan BBM juga membuat pengemudi harus menghadapi biaya tambahan. Dalam situasi tertentu, Rudi mengaku pernah membeli BBM eceran dengan harga yang lebih mahal karena kebutuhan pekerjaan.
Kondisi serupa dialami Serdiman, pengemudi ojol Grab yang telah menjalani profesinya selama tujuh tahun. Ia menyebut antrean BBM menjadi persoalan yang mengganggu produktivitas pengemudi karena waktu tunggu dapat berlangsung hingga berjam-jam.
“Pasti sangat meresahkan. Selain buang-buang waktu, panas juga. Pokoknya sangat mengganggu,” kata Serdiman.
Ia mengaku antrean terlama yang pernah dialaminya mencapai sekitar dua jam. Menurutnya, penggunaan sistem barcode di sejumlah SPBU juga membuat proses pengisian terkadang berlangsung lebih lama.
“Paling lama dua jam karena memang sudah panjang. Apalagi SPBU yang menggunakan barcode, prosesnya lebih lama,” ujarnya.
Target Harian Sulit Tercapai
Serdiman mengatakan, sebelum kondisi BBM mengalami gangguan, ia dapat bekerja lebih efektif dari pagi hingga malam. Namun kini, waktu yang seharusnya digunakan untuk mengambil pesanan justru habis untuk mengantre.
Ia mencontohkan, jika sebelumnya ia dapat keluar bekerja pada pagi hari dan menyelesaikan aktivitas hingga malam, kini antrean di SPBU membuat jam produktifnya terpotong.
“Dulu keluar jam delapan pagi, pulang jam sembilan malam itu sudah bisa isi BBM. Sekarang kalau antre dari jam lima sore sampai malam, sudah tidak bisa lanjut ambil orderan,” katanya.
Akibatnya, target pendapatan harian menjadi lebih sulit dicapai. Waktu kerja yang hilang membuat jumlah perjalanan yang bisa dilakukan pengemudi ikut berkurang. “Pendapatan berkurang dan target juga tidak tercapai,” ujar Serdiman.
Menurutnya, waktu terbaik untuk mendapatkan BBM saat ini adalah pagi hari. Namun, antrean tetap berpotensi terjadi karena banyak masyarakat memilih datang lebih awal untuk menghindari kepadatan.
Para pengemudi ojol berharap pemerintah memberikan informasi yang terbuka terkait kondisi pasokan BBM. Mereka mempertanyakan perbedaan kondisi distribusi antara Sulawesi Selatan dan beberapa daerah lain yang disebut tidak mengalami antrean sepanjang Makassar.
Rudi menilai perlu ada evaluasi terhadap distribusi BBM agar masyarakat, terutama pekerja yang bergantung pada kendaraan, tidak terus kehilangan waktu produktif.
Sementara Serdiman meminta pemerintah tidak hanya menyampaikan bahwa stok BBM tersedia, tetapi juga menjelaskan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kalau memang stok kurang, sampaikan saja. Tapi kalau stok masih banyak, kenapa kondisi di lapangan seperti ini? Hampir semua SPBU macet,” ujarnya.
Bagi pengemudi ojol, antrean BBM bukan sekadar persoalan menunggu giliran mengisi kendaraan. Di balik barisan panjang tersebut, ada waktu kerja yang hilang, target yang tidak tercapai, serta pendapatan keluarga yang ikut terdampak.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Serdiman (kiri) dan Rudi, pengemudi ojek online. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)


 Kota Mak (1)-300x175.webp)





