Kuliner
News
Tahukah Kamu?

Menu Berbuka dan Sahur Kalian Membosankan? Ini Solusinya Agar Tetap Berselera

MENU PUASA - Menu berbuka puasa dan sahur kalian membosankan? Ini Solusinya. (foto: ChatGPT)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Rasa bosan terhadap menu berbuka dan sahur selama menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan kerap dianggap sepele.

Padahal, kejenuhan pada makanan yang sama dapat memengaruhi selera makan, bahkan berdampak pada pola konsumsi harian.

Para ahli menyebut kondisi ini wajar, namun perlu dikelola agar tidak mengganggu keseimbangan gizi dan kesehatan mental.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Konsultan Psikiatri Biologi dan Psikofarmakologi, dr Andi Suheyra Syauki MKes SpKJ SubspBP (K) menjelaskan bahwa variasi makanan berperan penting dalam menjaga antusiasme otak terhadap pengalaman makan.

Menurut dia, pengulangan menu dalam jangka panjang dapat menurunkan stimulasi sensorik. “Yang paling penting sebenarnya variasi," tegasnya.

"Apakah mungkin minggu ini biasanya kita suka daging, bolehkah tanpa daging? Variasikan dengan sayur-sayuran lain atau hal baru. Karena kalau hal baru pasti kita lebih excited,” ujarnya saat ditemui di International Building Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 6 Desember 2025 lalu.

Ia menekankan, rasa bosan merupakan respons yang lumrah. Semua orang dapat mengalaminya, terutama ketika rutinitas berlangsung dalam periode tertentu seperti Ramadan.

Karena itu, pengelolaan menjadi kunci. Ketika tanda-tanda kejenuhan muncul, variasi sederhana dapat menjadi solusi efektif.

Selama bulan puasa, banyak keluarga cenderung mengandalkan menu praktis dan cepat saji demi efisiensi waktu.

Lauk yang sama diulang beberapa hari berturut-turut karena dianggap aman dan disukai seluruh anggota keluarga. Namun tanpa disadari, pola ini bisa mengurangi kenikmatan makan.

Secara psikologis, pengalaman makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan energi. Proses tersebut melibatkan aspek emosional dan sensorik—warna, aroma, tekstur, hingga cara penyajian.

Perubahan kecil seperti mengganti bumbu, metode memasak, atau menambahkan sayuran baru dapat menghadirkan sensasi berbeda meski bahan utama tetap sama.



dr Andi Suheyra Syauki MKes SpKJ SubspBP-K. (dok unhas tv)


Dokter Suheyra menyarankan masyarakat tidak perlu langsung mengganti seluruh menu favorit. Modifikasi bertahap dinilai lebih realistis.

Misalnya, ayam goreng yang biasa disajikan dapat diolah menjadi sup ayam dengan tambahan sayur, atau dipanggang dengan bumbu berbeda. Cara ini menjaga familiaritas sekaligus memberikan nuansa baru.

Selain itu, perencanaan menu mingguan dinilai membantu mengurangi kejenuhan. Dengan menyusun daftar makanan untuk tujuh hari, variasi lebih terjamin dan kebutuhan nutrisi lebih terkontrol.

Perencanaan juga menghindarkan keputusan spontan yang berujung pada konsumsi berlebihan saat berbuka. Pendekatan ini relevan karena momen berbuka sering menjadi ajang “balas dendam” setelah seharian menahan lapar.

Ketika menu terasa membosankan, sebagian orang justru mencari pelampiasan dengan membeli makanan dalam jumlah besar atau memilih hidangan tinggi gula dan lemak.

Padahal, konsistensi pola makan sehat selama Ramadan berpengaruh pada stabilitas energi, kualitas tidur, hingga suasana hati. Variasi menu yang seimbang—mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, serta cukup cairan—membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan waktu makan.

Dokter Suheyra menegaskan, variasi tidak identik dengan mahal atau rumit. Eksplorasi sederhana sudah cukup untuk menstimulasi otak dan menjaga selera.

“Yang penting kita variasikan semua menu, terutama yang sehat. Rasa bosan itu wajar, tapi harus dikelola,” katanya.

Dengan menghadirkan inovasi kecil di meja makan, Ramadan dapat dijalani lebih optimal—baik secara fisik maupun mental.

Menu yang bervariasi bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjaga semangat menjalani ibadah sepanjang bulan suci. 

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)