MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjelang azan magrib, suasana di perempatan Jalan Perintis Kemerdekaan VII, Makassar, berubah menjadi lebih hidup.
Di sisi jalan, tepat di samping Perumahan Trika Mahkota Indah, kerumunan kecil mulai terbentuk. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa yang baru pulang kuliah atau sekadar berburu takjil sebelum berbuka puasa.
Di antara deretan lapak sederhana yang menjajakan berbagai makanan Ramadan, satu gerobak tampak paling ramai. Gelas-gelas plastik berisi campuran buah, susu, dan krim putih pekat berjajar rapi.
Itulah es teler creamy, minuman kekinian yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi buruan mahasiswa di sekitar kampus Universitas Hasanuddin.
Lapak tersebut dikelola Herliana, pemilik usaha kuliner Kedai Baper. Usaha yang awalnya dikenal dengan menu bakso bakar itu sebenarnya telah lebih dulu hadir di dalam lingkungan kampus.
Kantin pertama Herliana, berdiri sejak 2019 di Kantin Pertanian, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Namun, setiap Ramadan, Herliana menambahkan satu menu khusus: es teler creamy.
“Awalnya ini cuma menu sampingan saja,” kata Herliana sambil menyiapkan pesanan pelanggan. Ide itu muncul setelah ia melihat minuman serupa viral di TikTok sekitar dua tahun lalu.
Penasaran, ia mencoba membuat versinya sendiri. Tak disangka, respons pembeli justru melampaui ekspektasi.
Dalam sehari, lapak kecil itu bisa menjual hingga 200-an porsi. Penjualan dimulai sekitar pukul setengah empat sore, tetapi menjelang waktu berbuka, antrean sering kali sudah mengular.
Bahkan tidak jarang, beberapa calon pembeli harus pulang dengan tangan kosong karena stok telah habis. “Alhamdulillah bisa sampai 200 lebih per hari. Kadang ada yang mau beli tapi sudah habis,” ujarnya.
Tawarkan Beragam Rasa
Minuman ini menawarkan beberapa varian rasa, mulai dari strawberry cheese, keju, hingga creamy spesial. Dari enam menu yang tersedia, dua varian menjadi favorit pelanggan: complete dan special.
Perbedaannya terletak pada komposisi topping dan kekayaan rasa yang ditawarkan. Dalam satu gelas es teler creamy, pelanggan akan menemukan perpaduan buah, susu, serta krimer yang memberikan sensasi manis dan lembut.
Harga yang dipatok relatif ramah di kantong mahasiswa. Satu porsi dijual mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Varian special dibanderol Rp13 ribu, sedangkan complete—yang paling diminati—dijual Rp15 ribu.
Meski harganya terjangkau, Herliana menegaskan bahwa ia tetap menjaga kualitas bahan.
Menurutnya, penggunaan krimer premium dan bahan susu berkualitas menjadi kunci rasa minuman tersebut. Ia percaya, rasa yang konsisten membuat banyak pelanggan kembali membeli.
“Kalau sudah coba sekali, biasanya datang lagi,” katanya.
Fenomena es teler creamy ini juga menunjukkan bagaimana tren kuliner digital bisa merembes hingga ke lapak-lapak kecil di pinggir jalan.
Dari video pendek di media sosial, ide bisnis bisa menjelma menjadi peluang nyata—terutama ketika dipadukan dengan momentum Ramadan.
Bagi mahasiswa di sekitar kampus Unhas, segelas es teler creamy bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ia menjadi bagian dari ritual kecil menjelang berbuka: berkumpul bersama teman, menunggu azan magrib, sambil menikmati manisnya takjil sederhana.
Di tengah hiruk-pikuk pasar Ramadan, Herliana berharap usahanya terus berkembang. Ia ingin es teler creamy tidak hanya menjadi menu musiman di bulan Ramadan, tetapi juga tetap diingat sebagai salah satu takjil favorit di kawasan kampus.
Sementara itu, setiap sore selama Ramadan, gelas-gelas plastik kembali terisi. Antrean kembali terbentuk. Dan di sudut jalan itu, rezeki manis terus mengalir—setiap kali azan magrib hampir berkumandang.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Herliana, Pemilik Es Teler Creamy di lingkungan kampus Unhas. (Unhas tv/Venny Septiani)








