Ekonomi
Kuliner

Takjil Berbuka Pilihan Mahasiswa, Bakso Bakar Rp 5.000 yang Menarik Pelanggan di Jalan Sahabat

Herwin Amir, pemilik usaha dari Kantin Al-Fatih. (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjelang petang, asap tipis mengepul dari panggangan kecil di samping Ramsis Universitas Hasanuddin. Aroma bakso bakar menyusup ke trotoar Jalan Sahabat, Jl sekitar kampus Unhas Tamalanrea, Makassar.

Baunya menyambar hidung mahasiswa yang pulang kuliah, menunggu waktu berbuka puasa, atau yang sekadar melintas tanpa rencana membeli apa-apa.

Di titik itulah Kantin Al-Fatih membuka lapak musiman selama Ramadan tahun ini—sederhana, tanpa banyak pernak-pernik, tapi ramai diserbu pembeli.

Yang dijajakan hanya satu macam, bakso bakar original. Tanpa isian tambahan. Tanpa variasi saus yang berlebihan. Harganya pun tak berputar-putar mengikuti tren kuliner kampus, Rp 5.000 per porsi.

Murah, cepat saji, dan pas untuk kantong mahasiswa. Di kawasan kampus, tiga hal itu cukup untuk mendatangkan antrean.

Herwin Amir, pemilik Kantin Al-Fatih, tampak sibuk melayani pembeli sambil sesekali mengipasi bara. Ia mengatakan Ramadan kali ini menjadi pengalaman pertama mereka berjualan di lokasi tersebut.

Sehari-hari, Kantin Al-Fatih beroperasi di kantin Politeknik Negeri Ujung Pandang Kampus I. Mereka juga rutin hadir di Car Free Day Universitas Hasanuddin sebagai tenant 92. “Untuk bulan Ramadhan ini kami jualan di samping Ramsis Unhas, ya Alhamdulillah ramai,” kata Herwin.

Usaha itu bukan pemain baru. Kantin Al-Fatih dirintis sejak akhir 2006 dan bertahan hampir dua dasawarsa. Dalam tiga tahun terakhir, nama mereka juga akrab di kalangan pengunjung CFD Unhas.

Namun selama Ramadan, Herwin memilih menyederhanakan menu. Jika pada hari biasa mereka menjual nasi (rice bowl), bakso, dan aneka makanan lain, di bulan puasa ini fokus dagangan dipersempit hanya pada bakso bakar.

Alasannya praktis, tapi juga strategis: pembeli Ramadan menghendaki makanan yang cepat, hangat, dan tidak menguras isi dompet. “Kalau yang di sini harganya Rp 5.000 rata, original tanpa isi,” ujar Herwin.

Di sekitar kampus, harga murah bukan semata promosi. Ia menjadi semacam bahasa bersama antara penjual dan mahasiswa. Dalam situasi ketika kebutuhan harian harus diatur ketat, selisih beberapa ribu rupiah bisa menentukan pilihan.

Bakso bakar Al-Fatih tampaknya membaca logika itu dengan tepat. Tak heran, kata Herwin, banyak pembeli yang datang kembali. “Tanggapannya mahasiswa Alhamdulillah baik karena kita lihat beberapa hari ini pembelinya ya mungkin bisa dibilang itu-itu juga yang kembali,” katanya.

Pembelian ulang, bagi pedagang kaki lima, adalah ukuran paling jujur dari penerimaan pasar. Tidak ada survei, tidak ada promosi besar-besaran. Yang ada hanya bara panggangan, aroma yang memancing lapar, dan mahasiswa yang kembali datang karena merasa cocok.

Di bulan ketika kawasan kampus dipenuhi penjual takjil dadakan, Kantin Al-Fatih memilih bertaruh pada kesederhanaan. Bakso bakar original, harga bersahabat, dan harapan yang juga sederhana. “Ya semoga berkah, jualannya berkah,” ujar Herwin.

Di ujung Jalan Sahabat, kalimat itu terasa pas. Ramadan, rupanya, tak hanya menghidupkan perut-perut yang lapar menjelang magrib, tapi juga rezeki kecil yang dicari dari asap panggangan.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)