Kesehatan
News

Apakah Tumor Teratoma Bisa Muncul Lagi? Ini Penjelasan Dokter Spesialis

UNHAS.TV - Di ruang tunggu Poli Bedah Anak RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, wajah-wajah cemas sekaligus penuh harapan terpampang jelas.

Sebagian besar adalah orang tua yang mendampingi buah hatinya menjalani pemeriksaan pasca operasi pengangkatan tumor. Salah satu yang sering menjadi perhatian di Poli Bedah Anak, Mother and Child Center, RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar adalah tumor teratoma.

Teratoma bukanlah jenis tumor biasa. Ia bisa tumbuh sejak bayi dalam kandungan, bahkan ditemukan pada bayi baru lahir.

Keunikan tumor ini adalah kemampuannya “membawa” berbagai jenis jaringan tubuh, mulai dari rambut, gigi, hingga tulang. Meskipun menakutkan, kabar baiknya, sebagian besar kasus teratoma bisa diatasi dengan operasi.

Namun, di balik rasa lega pasca operasi, selalu ada pertanyaan yang membayangi orang tua: Apakah tumor teratoma bisa muncul lagi?

Menurut Dr. dr. Sulmiati, Sp.BA., Subsp.U.A(K)., AUFO-K., Dokter Spesialis Bedah Anak RSUP Wahidin, tumor teratoma terbagi menjadi dua jenis, yaitu jinak dan ganas.

Pada kasus jinak, peluang kekambuhan sangat kecil. Tetapi jika bersifat ganas, potensi sel-sel tumor yang tertinggal dapat memicu pertumbuhan kembali.

“Ada satu dua pasien, walaupun jarang, tumor bisa tumbuh lagi meskipun sudah dilakukan operasi atau kemoterapi. Karena itu, anak-anak yang pernah mengalami teratoma perlu dipantau secara rutin,” jelas dr. Sulmiati.



Dr. dr. Sulmiati, Sp.BA., Subsp.U.A(K)., AUFO-K., Dokter Spesialis Bedah Anak RSUP Wahidin. (dok unhas.tv)


Pemantauan ini meliputi pemeriksaan darah untuk melihat penanda tumor, seperti alfa fetoprotein (AFP), beta human chorionic gonadotropin (β-HCG), dan lactate dehydrogenase (LDH).

Jika kadar penanda tersebut meningkat signifikan, dokter mencurigai adanya potensi kekambuhan. Selain itu, pemeriksaan radiologi seperti USG atau CT Scan juga digunakan untuk memastikan kondisi pasien.

Pasien pasca operasi teratoma biasanya dianjurkan untuk melakukan kontrol rutin setiap tiga hingga enam bulan. Tujuannya sederhana: memastikan kondisi tetap stabil dan mendeteksi sedini mungkin apabila ada pertumbuhan kembali.

“Selain pemeriksaan darah, hasil radiologi sangat membantu kami menegakkan diagnosis. Dari situlah kami bisa mengambil langkah cepat bila diperlukan,” ujar dr. Sulmiati menambahkan.

Edukasi kepada orang tua juga menjadi hal penting. Mereka diajak memahami bahwa meskipun operasi berjalan sukses, kewaspadaan tetap perlu dijaga.

Perspektif Ilmiah

Sejumlah penelitian memperkuat pernyataan ini. Menurut studi yang diterbitkan di Journal of Pediatric Surgery (Manivel et al., 2021), tingkat kekambuhan teratoma pada anak-anak memang rendah, tetapi tetap ada, terutama bila tumor berjenis ganas atau jika operasi pengangkatan tidak sempurna.

Penelitian tersebut menegaskan pentingnya kontrol jangka panjang, termasuk pemantauan kadar AFP yang terbukti efektif mendeteksi kekambuhan dini.

Hal senada juga diungkapkan dalam riset oleh Rescorla (2019) di Seminars in Pediatric Surgery, bahwa pengawasan pasca operasi pada pasien dengan teratoma harus berlangsung bertahun-tahun, bukan hanya beberapa bulan, untuk memastikan tidak ada tumor yang muncul kembali.

Bagi keluarga pasien, setiap hasil pemeriksaan yang menunjukkan kondisi stabil menjadi sumber kebahagiaan besar. Namun, mereka juga menyadari bahwa kewaspadaan tidak boleh kendur.

Dukungan rumah sakit, keterlibatan tenaga medis, serta kepatuhan orang tua dalam membawa anak kontrol menjadi kunci utama keberhasilan pemulihan jangka panjang.

“Harapan kami, anak-anak yang sudah pernah menjalani operasi bisa tumbuh sehat, sekolah, dan bermain tanpa harus dihantui rasa takut tumor muncul lagi,” tutup dr. Sulmiati.

Meskipun tumor teratoma bisa diangkat dengan operasi, kemungkinan untuk tumbuh kembali tetap ada, meski sangat jarang. Karena itu, kontrol rutin dan pemeriksaan lanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan anak.

Bagi para orang tua, perjalanan pasca operasi adalah babak baru, memadukan rasa syukur karena anak telah melalui operasi dengan kewaspadaan menghadapi kemungkinan yang masih ada. (*)

(Venny Septiani Semuel / Unhas.TV)