MICHIGAN,UNHAS.TV- Sebuah tim peneliti dari Pusat Kanker Rogel, Universitas Michigan, bekerja sama dengan perusahaan rintisan Arcascope, telah merancang sebuah aplikasi inovatif yang bertujuan mengurangi kelelahan akibat terapi kanker. Laporan dari website Universitas Michigan (27/3) menyebut bahwa applikasi ini dinamakan Arcasync yang dikembangkan untuk membantu pasien kanker mengatur ritme biologis mereka guna mengatasi dampak negatif dari kelelahan yang berkepanjangan.
Kelelahan sebagai Tantangan Pasca Terapi Kanker
Kelelahan adalah salah satu efek samping paling umum dari kemoterapi dan radioterapi. Menurut laporan dari American Cancer Society, sekitar 80% pasien kanker mengalami kelelahan parah yang dapat bertahan berminggu-minggu hingga bertahun-tahun setelah perawatan selesai. Berbeda dari kelelahan biasa, kondisi ini dapat sangat mengganggu kehidupan sehari-hari pasien dan menghambat pemulihan mereka secara optimal (ACS, 2023).
Selama ini, beberapa metode telah digunakan untuk mengurangi kelelahan pada pasien kanker, seperti konsumsi obat-obatan, olahraga, dan meditasi. Namun, efektivitas metode tersebut bervariasi antar pasien. Dr. Monish Tiwari, profesor bidang Kedokteran Internal dan anggota Pusat Kanker Rogel, menyatakan bahwa solusi yang tersedia saat ini belum dapat mengakomodasi semua pasien. "Kami ingin menciptakan solusi yang lebih mudah dan dapat diakses oleh semua pasien," ujarnya dalam publikasi penelitian di Journal of Clinical Oncology.
Ritme Biologis dan Kelelahan pada Pasien Kanker
Tubuh manusia dikendalikan oleh jam biologis internal yang mengatur siklus tidur dan bangun, serta berbagai fungsi fisiologis seperti pencernaan dan suhu tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan pada ritme ini dapat memperburuk kelelahan yang dialami pasien kanker (National Cancer Institute, 2022). Salah satu faktor utama yang dapat membantu mengatur kembali ritme biologis adalah paparan cahaya.
Namun, terapi cahaya konvensional memiliki keterbatasan karena tidak mempertimbangkan perbedaan individu dalam ritme biologis masing-masing pasien. Caleb Mayer, penulis utama penelitian ini, menjelaskan bahwa pendekatan sebelumnya hanya menyarankan paparan cahaya pada waktu-waktu tertentu tanpa mempertimbangkan kebutuhan spesifik setiap pasien.