Oleh: Rusman Madjulekka*
Ibarat kapal besar yang berlayar, Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) tentu membutuhkan nahkoda dan awak yang mengarahkan haluan. Pemimpin yang memastikan arah tetap lurus meski angin berubah dan ombak menggulung.
Dalam “pelayaran” panjangnya, kapal itu kini punya nakhoda baru. Namanya: dr.Ardiansyah Bahar, MKM.
“Kami pelayan,” ujarnya merendah. Menjadi pengurus PDUI 2026-2029, menurut dokter Ardi- begitu ia biasa dipanggil- sesungguhnya bermakna “pelayan” bagi para member. Yang diberi amanah menjaga keseimbangan kapal agar tidak oleng dan tetap menuju pelabuhan harapan organisasi profesi.
Sebelumnya di awal Februari 2026, Kongres Nasional V PDUI yang berlangsung di Tangerang, Banten secara resmi menetapkan dr. Ardiansyah Bahar, MKM sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat PDUI Periode 2026 - 2029 setelah terpilih secara aklamasi.
Siapa dokter Ardi? Anak muda enerjik. Jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas). Selain berprofesi sebagai dokter dan punya klinik, ia juga dikenal penggiat aksi kemanusiaan.
“Dia yang meminta agar dokter-dokter segera dikirim ke lokasi bencana banjir bandang di Aceh dan Sumatera,” kata dokter Halik Malik, rekan sejawatnya.
Bahkan sejak mahasiswa, menurut Halik, dokter Ardi sudah malang melintang dalam dunia organisasi kemahasiswaan. Latar belakang aktivismenya antara lain tercermin dari perannya sebagai Direktur Badan Koordinasi Nasional Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (Bakornas LKMI) Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2013–2015.
Pengalaman sebagai aktivis, membuat dokter yang hobi badminton dan sepak bola ini memiliki jaringan (networking) yang luas, luwes bergaul, dan punya kapasitas kepemimpinan yang kuat.
Di mata teman-temannya, pria berkaca mata ini tidak bergaya ‘ngebos”, mudah ditemui di warung kopi, suka mentraktir koleganya dan ringan tangan menolong kawannya yang membutuhkan.
Kepemimpinan dokter Ardi diharapkan mampu membawa PDUI menjadi organisasi yang semakin solid, progresif, dan relevan dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia.
Pun tak kalah penting, ia akan menguatkan spirit “Satu IDI, Satu PDUI”, sebagai bentuk komitmen menjaga kesatuan dan keutuhan profesi dokter di Indonesia.
“PDUI bertekad untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan sistem kesehatan yang kuat, merata, dan berkeadilan,” jelasnya.
Sebagai “Nakhoda” baru dan mencermati rekam jejaknya, saya memprediksi dokter Ardi menjadi penerus para legenda PDUI.
Bila kita menengok sejarah organisasi profesi ini, ada beberapa tokoh kunci dan pemimpin yang berperan penting.
Sebut misalnya dr. Farid Anfasa Moeloek. Ia tokoh kunci sekaligus pendiri dalam sejarah PDUI, di mana PDUI pertama kali dilantik pada periode 2009 di bawah kepengurusan dr. Mawary Edi, MEpid.
Lalu ada dr. Abraham A.P. Patarai, MKM. Disamping itu, ada Prof. Fachmi Idris, dr. Zaenal Abidin, MHKes, dr. Daeng M. Faqih, SH, MH, dan lainnya yang turut mewarnai sejarah perjuangan organisasi dokter Indonesia.
Ditengah himpitan kesibukan yang mendera, dokter Ardi menjadi pengingat bahwa setiap perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil.
Dan kesadaran itu akan terus hadir dengan semangat “pelayan” yang menyala seperti yang sudah ia ikrarkan. Pada akhirnya, semua itu hanya akan bertahan jika dijaga dengan hati.
*Penulis adalah alumni Ilmu Komunikasi Fisip Unhas. Domisili di Jakarta.






-300x185.webp)

