Sport

Arsenal Melaju 7 Poin di Puncak, Saka Rayakan Laga ke-300 dengan Cetak Gol Penentu

GOL SAKA - Pemain Arsenal merayakan gol yang dicetak Bukayo Saka atas Brighton dalam laga Liga Inggris di Emirates Stadium, Kamis (5/3/2026). (the sun)

LONDON, UNHAS.TV - Arsenal memperlebar jarak menjadi tujuh poin di puncak klasemen Liga Primer Inggris usai menang tipis 1-0 atas Brighton, Kamis (5/3/2026) dini hari.

Gol semata wayang dicetak Bukayo Saka pada menit kesembilan—sebuah tembakan yang berubah arah setelah membentur kaki Carlos Baleba.

Kemenangan ini menjaga laju tim asuhan Mikel Arteta dalam perburuan gelar Premier League. Arsenal kini unggul tujuh angka dari pesaing terdekat, sekaligus mengirim pesan bahwa mereka siap bertahan di puncak hingga akhir musim.

Arteta sebelumnya sempat mengajak suporter untuk “meloncat ke perahu” dan menikmati perjalanan menuju gelar. Namun laga di pantai selatan Inggris itu jauh dari kata menghibur.

Arsenal tampil efektif, bukan atraktif. Mereka bertahan rapat dan meminimalkan risiko, meski harus menghadapi tekanan sepanjang pertandingan.

Gol cepat Saka menjadi pembeda. Winger berusia 24 tahun itu menandai penampilan ke-300 bersama klub dengan gol keenamnya musim ini di liga. Selebrasi menjadi lebih spesial karena angka 300 tersemat di bagian belakang kostumnya.

Gol tersebut bermula dari situasi di tepi kotak penalti. Saka melepaskan tembakan mendatar yang membentur Baleba dan mengecoh kiper Bart Verbruggen.

Bola meluncur pelan di antara kedua kaki sang penjaga gawang. Bek kiri tuan rumah, Ferdi Kadioglu, dinilai terlambat menutup ruang tembak.



Statistik Laga Brighton vs Arsenal. (the sun)


Sebelumnya, Brighton sempat memperoleh peluang emas. Baleba menerima umpan terobosan setelah kesalahan David Raya. Namun ia memilih mencungkil bola alih-alih menendang keras. Bek Arsenal, Gabriel Magalhaes, berhasil menyapu bola sebelum melewati garis gawang.

Brighton sempat memprotes gol Arsenal. Mereka menilai terjadi handball oleh Piero Hincapie sekitar 15 detik sebelum gol tercipta. Namun wasit Chris Kavanagh tidak menganggapnya sebagai pelanggaran disengaja dan VAR tidak melakukan intervensi.

Sepanjang babak pertama, Arsenal hanya mencatat satu tembakan—yang berbuah gol. Sebaliknya, Brighton tampil lebih progresif meski kesulitan menembus lini belakang tamu yang tampil tanpa bek andalan, William Saliba, karena cedera.

Kritik Kebiasaan Ulur Waktu

Tensi pertandingan meningkat di pinggir lapangan. Pelatih Brighton, Fabian Hurzeler, sebelumnya mengkritik taktik Arsenal dalam situasi bola mati serta kebiasaan mengulur waktu.

Setiap kali Arsenal memperlambat eksekusi bola mati atau Raya terlalu lama melakukan tendangan gawang, sorakan dan cemoohan terdengar dari tribun.

Penonton juga bereaksi keras ketika Arteta memanggil seluruh pemainnya ke tepi lapangan saat Martin Zubimendi mendapat perawatan. Arsenal bahkan mendapat cemoohan saat turun minum dan ketika kembali ke lapangan.

Di babak kedua, Brighton meningkatkan tekanan. Georginio Rutter nyaris menyamakan kedudukan, tetapi Raya melakukan penyelamatan penting. Tuan rumah juga menuntut penalti setelah duel antara Gabriel Martinelli dan Mats Wieffer di kotak terlarang, namun wasit bergeming.



Statistik Bukayo Saka selam membela Arsenal. (the sun)


Arsenal bertahan disiplin. Mereka baru mendapatkan sepak pojok pertama pada menit ke-63. Eksekusi Declan Rice tidak membuahkan ancaman berarti.

Di menit akhir, Kai Havertz hampir menggandakan keunggulan, tetapi Verbruggen menepis peluang tersebut. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang.

Secara permainan, Arsenal jauh dari kata dominan. Mereka tidak menguasai ritme dan kerap ditekan. Namun efektivitas dan ketenangan menjadi kunci. Arteta tampak tak terganggu dengan sorakan lawan maupun label sebagai “tim paling tidak populer”.

Arsenal mungkin tidak memikat secara estetika. Namun dalam perburuan gelar, hasil lebih utama daripada hiburan. Jika pada akhirnya mereka mengangkat trofi Liga Primer, sedikit yang akan peduli bagaimana cara mereka mencapainya. (*)