
AKRAB - Keakraban guru dan siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Koat Makassar. Foto: koleksi Manohara
Memutus Rantai Kemiskinan
Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Kota Makassar pada angkatan pertama mendidik 141 siswa dari kalangan keluarga prasejahtera berdasaran Data Tunggal Sosial Nasional (DTSN). Siswa umumnya berasal dari Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Maros.
"Awalnya ada 150 siswa tapi sembilan anak mengundurkan diri karena orangtua membutuhkan tenaga mereka untuk membantu perekonomian keluarga. Kami tidak bisa menahan permintaan itu," kata Kepala SRMA 26 Makassar DR Andi Erniwati SPd MPd kepada Unhas TV.
Semua siswa tersebut dibagi ke dalam enam kelas dengan jumlah guru yang bertugas sebanyak 17 orang. Sekolah ini juga dilengkapi dengan tenaga kependidikan, termasuk sejumlah wali asuh dan wali asrama.
Mantan Kepala SMA Negeri 21 Kota Makassar ini menambahkan, sesuai dengan konsep Sekolah Rakyat yang sepenuhnya gratis maka segala keperluan proses belajar mengajar disediakan oleh Kementrian Sosial.
"Pakaian seragam, alat tulis, sepatu, bahkan kebutuhan untuk kebersihan mereka disediakan seutuhnya oleh pemerintah. Bahkan untuk keperluan mereka pulang ke rumah, kami sediakan uang transportasi. Jumlah dan masa pemberiannya diatur agar mereka lebih disiplin dan bertanggung jawab. Jadi, anak-anak bisa fokus untuk belajar dengan mengembangkan diri mereka," ujarnya.
Penyediaan fasilitas itu dimaksudkan agar siswa dari keluarga prasejahtera bisa memiliki akses yang memadai dan setara untuk mendapatkan pendidikan layak. Ini karena pendidikan merupakan salah satu jembatan efektif untuk memutus rantai kemiskinan.
Pada tahap awal, SRMA 26 Makassar masih menggunakan fasilitas gedung Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Makasar milik Kementrian Sosial. Gedung ini pula yang difungsikan secara terpadu sebagai ruang kelas sekaligus asrama untuk menampung dan membina para siswa.
"Pemerintah sudah merencanakan untuk membangun gedung baru di tempat lain dan kami yakin fasilitasnya akan jauh lebih baik," ujarnya.
Seperti halnya sekolah negeri, SRMA 26 Makassar juga menggunakan Kurikulum Merdeka. Hanya saja ada pada perbedaan mendasar sebagai konsekuensi dari sekolah berasrama.
Para siswa diberi sejumlah kegiatan tambahan berupa pelatihan-pelatihan, ekstrakulikuler tematik, serta kegiatan pembinaan mental kedisiplinan. Pihak sekolah juga menerapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesa Hebat yang dijabarkan melalui pembiasaan bangun setiap pukul 4 dini hari, yang dilanjutkan dengan kegiatan beribadah, berolahraga, hingga pada pukul 7 pagi mereka melaksanakan apel pagi sebelum masuk ke ruang kelas.
Pada kebiasaan bermasyarakat, setiap hari Minggu pagi, siswa dilibatkan untuk bergabung dengan masyarakat yang mengikuti kegiatan Car Free Day di Kampus Unhas. "Kebetulan lokasinya dekat sekolah. Jadi, anak-anak berinteraksi sekaligus mendapatkan pengalaman baru," katanya.
Sekolah juga memfasilitasi pengembangan kreativitas siswa di bidang olahraga dan seni. Dari kegiatan itu, sejumlah prestasi membanggakan telah diraih siswa SRMA 26 Makassar.
Pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional tingkat Kota Makassar, siswa SRMA 26 Makassar meraiih juara satu kategori tarian kerasi dan mengalahkan dua sekolah unggulan di Kota Makassar: SMA 17 Makassar dan MAN 2 Model Makassar.
Mereka juga pernah meraih prestasi membanggakan pada lomba menulis puisi utuk peringatan Hari Disabilitas dan prestasi tertinggi yakni Juara 3 Nasional Lomba Pilah Sampah 2025 yang dilaksanakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum. Habibie, siswa kelas X, bersama guru dan kepala sekolah diundang di Jakarta untuk menerima penghargaan bergengsi itu.
Capaian-capaian itu ternyata terdengar sampai ke pusat. Sejumlah menteri dari Kabinet Merah Putih pernah mengunjungi langsung SRMA 26. Menteri Sosial Syaifullah Yusuf dan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Republik Indonesia Meutya Viada Hafid ikut memuji perkembangan di sekolah itu.(*)








