
GELAR KELIMA - Gelar Liga Europa kelima bagi Unai Emery usai Aston Villa mengalahkan Freiburg dengan skor 3-0 di Istanbul, Kamis (21/5/2026). (Tangkapan layar The Sun/Getty)
Aston Villa memulai laga dengan agresif. Pada menit-menit awal, Tielemans mengirim umpan yang membuka ruang bagi Morgan Rogers dan Ollie Watkins. Rogers memaksa kiper Freiburg melakukan penyelamatan cepat, lalu melepas tembakan lain yang masih melebar.
Freiburg berusaha meredam tekanan Villa. Mereka menutup ruang di tengah dan menunggu peluang dari bola mati. Strategi itu sempat membuat permainan Villa tersendat.
Emiliano Buendia dan Matty Cash bahkan menerima kartu kuning dalam 21 menit pertama karena pelanggaran di area pertahanan sendiri.
Villa belum menemukan ritme. Beberapa peluang gagal diolah dengan tenang. Freiburg juga sempat mengancam.
Nicolas Hofler melepaskan tendangan yang melebar setelah Villa gagal membuang bola dari situasi tendangan bebas. Johan Manzambi kemudian memaksa kiper Emiliano Martinez melakukan penyelamatan.
Martinez sempat menjadi perhatian karena mengalami gangguan pada tangan saat pemanasan. Namun penjaga gawang asal Argentina itu tetap bermain sampai laga berjalan. Kehadirannya memberi ketenangan bagi lini belakang Villa.
Kebuntuan pecah lewat skema bola mati yang disiapkan pelatih set-piece Austin MacPhee. Lucas Digne mengambil tendangan pendek kepada Morgan Rogers.
Rogers mengirim umpan silang ke area yang tidak dijaga rapat pemain Freiburg. Bola jatuh di kaki Tielemans yang berdiri di dalam kotak penalti.
Gelandang Belgia itu langsung melepaskan tembakan keras dan terarah. Bola meluncur ke gawang Freiburg. Gol itu mengubah suasana pertandingan. Martinez berlari dari gawang untuk merayakan gol bersama MacPhee dan para pemain cadangan.
Keunggulan itu membuat Villa lebih percaya diri. Buendia menjadi pemain paling hidup di lini serang. Menjelang turun minum, ia menerima bola dari John McGinn di tepi kotak penalti. Dengan satu sentuhan memutar badan, Buendia melepas tembakan melengkung ke pojok jauh.
Bola masuk. Pendukung Freiburg terdiam. Tribun Villa meledak. Para pemain Villa merayakan gol itu dengan emosi besar. Emery tetap berusaha menjaga konsentrasi timnya karena pertandingan belum selesai.
Pada awal babak kedua, Buendia hampir menambah gol. Ia mencoba melepaskan lob dari dalam kotak penalti, tetapi bola belum menjadi gol. Villa tetap menekan dan akhirnya mencetak gol ketiga lewat Rogers.
Gol ketiga berawal dari Digne yang mengirim bola ke Buendia di sisi kiri. Pemain nomor 10 itu menghentikan bola, mengecoh lawan, lalu mengirim umpan datar ke tiang dekat. Watkins bergerak menjauh untuk membuka ruang. Rogers masuk lebih cepat dari penjaganya dan menyambar bola ke gawang.
Gol Rogers memastikan kendali penuh Villa atas pertandingan. Freiburg makin sulit keluar dari tekanan. Villa masih memiliki beberapa peluang.
Amadou Onana, yang tidak cukup bugar untuk menjadi starter, masuk sebagai pemain pengganti dan menyundul bola ke tiang. Buendia juga sempat mendapat ruang, tetapi tembakannya hanya mengenai sisi luar jaring.
Tiga gol Villa sudah cukup bagi Emery. Kemenangan itu menutup musim yang sempat berjalan buruk pada awal kompetisi.
Pada akhir September 2025 lalu, Liga Europa memberi Villa kemenangan pertama musim ini. Kompetisi yang sama kemudian memberi mereka gelar paling penting dalam beberapa dekade terakhir.
Sejumlah pemain yang sudah berada di klub sejak awal masa kepelatihan Emery kini masuk daftar tokoh penting dalam sejarah Villa. John McGinn, yang pernah membawa Villa dari promosi hingga bertahan di kasta tertinggi, kini melengkapinya dengan medali Eropa.
Aston Villa juga memastikan kembali ke Liga Champions. Namun bagi klub dan suporternya, pencapaian terbesar malam itu tetap trofi. Istanbul menjadi panggung kebangkitan Villa. Emery mendapat era baru yang ia inginkan. Villa kembali menjadi juara Eropa. (*)







