News

Banyak Orang Indonesia Alami Gangguan Mental, Bagaimana di Unhas?

undefined

UNHAS.TV - Sekitar 28 juta orang di Indonesia atau 1 dari 10 orang diperkirakan mengalami masalah kesehatan jiwa dan gangguan mental. Gangguan yang sering ditemui berupa depresi, gangguan kecemasan (anxiety), skizofrenia, bipolar, dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas).

Sebagian di antara mereka tidak mampu lepas dari jeratan gangguan itu sehingga menempuh atau setidaknya punya niat untuk bunuh diri.  Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI), angka kematian akibat bunuh diri terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2022 tercatat 826 kasus, dan melonjak menjadi 1.350 kasus pada tahun 2023.

Pada periode Januari hingga Agustus 2024, pihak Polri setidaknya menangani 849 kasus bunuh diri, yang rata-rata mencatatkan hampir empat kejadian dalam satu hari. Hal yang memprihatinkan adalah sekitar 46 persen hingga 75 persen kasus terjadi pada kelompok usia remaja dan dewasa muda (rentang usia 15-29 tahun).

Dalam lingkup Unhas, penelitian Hapsah dan kawan-kawan (2022), dari 764 mahasiswa yang diteliti, sebanyak 72 persen mahasiswa Unhas mengalami gangguan mental emosional dengan gejala penurunan energi, keluhan somatik, depresi, kecemasan, dan gangguan kognitif.

Pada sisi lain, pemantauan yang dilakukan Rumah Sakit Pendidikan Unhas melalui program Mantap Jiwa juga menemukan fakta memprihatinkan, dari 600 mahasiswa yang menjadi obyek pantauan pada rentang waktu 2023, terdapat 144 mahasiswa (24 persen) pernah mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup. Sebanyak 67 mahasiswa bahkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya.  

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia, Pengembangan Talenta, dan Kesejahteraan Prof DR Farida Patittingi SH MHum menegaskan, Unhas menyadari betapa kesehatan mental perlu mendapat perhatian lebih khusus, terlebih setelah melihat makin meningkatnya jumlah orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. 

"Pimpinan Unhas bertekad menghadirkan SDM yang sehat, bukan hanya fisik tetapi juga mental. Itu pula yang menjadi dasar dimunculkannya Unhas Prime," kata Prof Farida saat membuka peringatan World Mental Health Day 2026 Unhas di Gedung Ipteks, Kampus Tamalanrea, Makassar, Sabtu (10/10/2026) pagi. Hari Kesehatan Mental Sedunia kali ini bertema: Lived expreience heard: real voices, real change" yang menegaskan bahwa diperlukan keterlibatan banyak pihak untuk bersedia mendengarkan keluhan orang-orang yang sedang mengidap gangguan kesehatan mental.

"Hal pertama dari wujud perhatian kita pada kesehatan mental adalah mau mendengarkan mereka. Mendengarkan setidaknya mengurangi beban mental mereka. Unhas sendiri punya Pusat Layanan Psikologi. Bahkan Rektor Unhas telah meluncurkan program Unhas Prime yang dikembangkan sebagai pendekatan lebih menyeluruh terhadap kesehatan sivitas akademika: fisik, mental, dan spritual," ujarnya.

Direktur Kesejahteraan dan Kinerja Universitas Hasanuddin (Unhas)  Dr Nur Arifah SKM MA menegaskan, peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026 di Unhas diikuti lebih dari 150 peserta dari perwakilan fakultas di Unhas. Sejumlah kegiatan di peringatan tersebut tidak hanya jalan santai sembari sosialisasi mengenai kesehatan mental. Juga terdapat sesi berbagi pengetahuan, emotion play, serta pojok art therapy. 

Emotion play adalah tindakan yang menggunakan pendekatan imajinasi untuk memunculkan jenis ekspresi dan emosi terdalam di lingkungan yang aman. Adapun pojok art therapy adalah terapi gambar untuk menggambarkan situasi emosi.(*)