Oleh: Anwar Mattawape (Sekretaris Umum IKATEK Unhas)
Malam tahun baru itu saya habiskan dengan berjalan pelan di Nanjing Road. Udara musim dingin menyentuh wajah, dingin tetapi bersih, seolah ikut menenangkan langkah.
Di kiri dan kanan, etalase toko memantulkan cahaya LED yang tak sekadar terang, melainkan teratur, seperti barisan pikiran yang rapi. Hitung mundur tahun baru muncul di layar-layar raksasa, tetapi tak disambut teriakan histeris.
Orang-orang berhenti sejenak, mengangkat ponsel seperlunya, lalu kembali berjalan. Manusia mengalir seperti arus yang tahu ke mana harus pergi. Terlihat barisan tentara tanpa suara mengarahkan massa yang jumlahnya jutaan.
Mereka diam dalam barisan tapi mengarahkan, mereka terlibat dalam keramaian tapi tetap sebagai tugas seolah pengawal bangsa.
Jalan ini bukan sekadar pusat belanja atau ikon pariwisata, melainkan semacam panggung raksasa tempat watak sebuah kota, bahkan sebuah bangsa, dipertontonkan tanpa perlu pidato.
Di sini, perayaan tidak mengambil alih keseharian; ia menyatu dengannya. Tidak ada hiruk pikuk berlebihan. Tidak ada euforia yang meluap-luap. Yang terasa justru ritme: cepat, terukur, dan sadar arah. Seolah waktu dihormati, bukan dihabiskan.
Di sela langkah, detail-detail kecil berbicara lebih keras daripada slogan. Petugas kebersihan menyapu dengan gerak nyaris tak terlihat. Pegawai toko tetap melayani dengan presisi meski malam hampir berganti hari.
Keluarga berjalan beriring, orang tua sedikit di belakang, memberi ruang pada anak-anaknya. Semua bergerak, bukan tergesa, bukan santai, melainkan tepat.
Dari situ, saya mulai menyadari bahwa ada beberapa hal penting yang dapat disaksikan di Shanghai, bukan lewat seminar, laporan kebijakan, atau buku teks, melainkan lewat cara orang berjalan, bekerja, dan merayakan waktu.
Yang pertama adalah kerja keras. Di tengah suasana perayaan, toko-toko tetap beroperasi dengan presisi. Pegawai ritel melayani tanpa kehilangan fokus. Petugas kebersihan bergerak nyaris tanpa terlihat, memastikan jalan tetap bersih meski ribuan kaki melintas.
Kerja keras di sini bukan sesuatu yang dipamerkan, melainkan dijalani sebagai kebiasaan sehari-hari. Disiplin tidak terasa sebagai tekanan dari atas, melainkan sebagai kesepakatan sosial: semua bergerak cepat karena semua tahu tujuan.
Namun kerja keras itu tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh keluarga sebagai unit moral yang kuat. Di sepanjang trotoar, saya melihat orang tua berjalan sedikit di belakang anak-anaknya, memberi ruang, bukan bayang-bayang.
Keluarga tidak hadir sebagai alat untuk memotong jalan, tetapi sebagai sumber dorongan agar anak melangkah lebih jauh. Tanggung jawab pada keluarga justru menjadi alasan untuk bekerja lebih sungguh-sungguh, bukan untuk meminta perlakuan istimewa.
Dari keluarga, nilai itu mengalir mulus ke pendidikan. Di Shanghai, pendidikan terasa bukan sekadar fase hidup, melainkan jalan panjang yang terus ditempuh.
Percakapan di kafe-kafe sekitar Nanjing Road sering berputar pada studi lanjutan, keterampilan baru, riset, atau peluang inovasi. Sistemnya ketat dan kompetitif, bahkan melelahkan. Tetapi di sanalah harga diri dibentuk: bukan dari siapa orang tua kita, melainkan dari seberapa jauh kita mengasah kemampuan.
Pendidikan inilah yang kemudian menjelaskan mengapa inovasi tumbuh begitu cepat. Shanghai memancarkan wajah masa depan: digital, efisien, dan adaptif, tanpa memutus hubungan dengan masa lalu.
Tradisi tetap dihormati, bukan sebagai romantisme, tetapi sebagai fondasi etis. Inovasi tidak diposisikan sebagai pemberontakan terhadap budaya, melainkan kelanjutannya dalam bentuk baru.
Di antara semua itu, ada satu benang halus yang menjahitnya menjadi satu sistem nilai: rasa malu. Konsep mianzi—wajah, reputasi, kehormatan—hidup dalam gestur kecil sehari-hari.
Orang menghindari konflik yang tidak perlu, menjaga kesopanan, dan berhati-hati agar tidak mempermalukan diri sendiri maupun orang lain. Rasa malu ini bukan sesuatu yang melumpuhkan, tetapi mekanisme sosial yang mendorong orang untuk bertanggung jawab dan menjaga kualitas diri.

Nilai-nilai inilah yang pada akhirnya menguatkan sistem meritokrasi. Sejak berabad-abad lalu, dari ujian kenegaraan era Dinasti Han hingga kebijakan modernisasi pasca-1978, kemampuan dan prestasi menjadi dasar seleksi.
Tentu sistem ini tidak tanpa cela—ketimpangan dan potensi korupsi tetap ada—namun arah besarnya jelas: privilese diraih melalui kompetensi dan kredibilitas. Budaya kekeluargaan tidak dihapus, tetapi juga tidak diberi hak untuk mengalahkan prestasi.
Malam itu, ketika hitung mundur berakhir dan tahun berganti, tidak ada ledakan euforia. Orang-orang tersenyum singkat, saling mengangguk, lalu kembali melangkah. Seolah ada kesepakatan diam-diam: perayaan sudah cukup. Tugas berikutnya menunggu.
Di sanalah saya memahami Shanghai, sebuah kota yang merayakan masa depan dengan cara yang tenang, disiplin, dan sangat percaya pada kemampuan manusia untuk terus memperbaiki diri.
Saat meninggalkan Nanjing Road, satu harapan ikut terbawa pulang. Bahwa suatu hari, kota-kota di Indonesia pun bisa berlari dengan ritme serupa: cepat namun tertib, modern tanpa tercerabut dari akar budaya.
Bukan dengan jalan pintas, melainkan dengan kesediaan untuk bekerja keras, menghormati pendidikan, dan memberi tempat terhormat pada kompetensi. Shanghai, pada malam tahun baru itu, mengajarkan bahwa masa depan tidak cukup dirayakan. Ia harus diperjuangkan, hari demi hari, dengan ketekunan yang sunyi.
undefined

-300x200.webp)



-300x201.webp)


