News
Opini

Boedi Oetomo: Kebangkitan Itu Belum Selesai

Oleh: Muliadi Saleh (Esais Reflektif dan Arsitek)


Kebangkitan bangsa ini tidak lahir dari dentuman senjata.

Ia tumbuh pelan tapi pasti.

Dari ruang-ruang kecil kesadaran pendidikan.

Dari diskusi sederhana anak-anak muda yang gelisah melihat bangsanya tertinggal. 


Momentum itu bernama Boedi Oetomo. 


Didirikan pada 20 Mei 1908, organisasi ini menjadi penanda penting lahirnya kesadaran nasional di Indonesia.

Banyak sejarawan menyebutnya sebagai titik awal kebangkitan modern bangsa Indonesia.

Bukan karena kekuatan politiknya yang besar saat itu, tetapi karena gagasannya yang melampaui zaman. 


Boedi Oetomo hadir ketika rakyat pribumi hidup dalam tekanan kolonialisme.

Akses pendidikan terbatas.

Kemiskinan meluas.

Stratifikasi sosial dibuat begitu tajam. 


Kolonialisme bekerja bukan hanya melalui penguasaan wilayah, tetapi juga melalui pengendalian pengetahuan.

Bangsa yang tidak terdidik akan lebih mudah dikendalikan.

Karena itu, pendidikan menjadi inti dari gerakan kebangkitan nasional. 


Di sinilah letak keistimewaan Boedi Oetomo.

Ia tidak memulai perjuangan dengan kemarahan semata.

Tetapi dengan pembangunan kesadaran. 


Kesadaran bahwa bangsa ini harus berdiri di atas kemampuan sendiri.

Kesadaran bahwa martabat manusia tidak boleh terus diinjak penjajahan. 


Kesadaran seperti itu sangat relevan hingga hari ini.

Sebab penjajahan modern sering hadir dalam bentuk yang lebih halus.

Ketergantungan ekonomi.

Disinformasi digital.

Budaya konsumtif.

Dan melemahnya daya kritis masyarakat. 


Kita hidup di zaman ketika teknologi berkembang sangat cepat. Namun kualitas percakapan publik justru sering dangkal.

Informasi melimpah. Tetapi literasi dan kebijaksanaan tidak selalu tumbuh seiring. 


Akibatnya, ruang sosial mudah dipenuhi kemarahan, fitnah, dan polarisasi. 


Dalam konteks itu, spirit Boedi Oetomo seharusnya dibaca ulang.

Bahwa kemajuan bangsa tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik.

Jalan raya bisa dibangun cepat.

Gedung bisa menjulang tinggi.

Tetapi tanpa kualitas manusia, peradaban mudah rapuh. 


Bangsa ini membutuhkan kebangkitan baru.

Kebangkitan ilmu pengetahuan.

Kebangkitan etika publik.

Kebangkitan budaya membaca.

Juga kebangkitan empati sosial. 


Karena bangsa yang kehilangan empati akan mudah kehilangan arah. 


Di tengah dunia yang semakin bising, kita justru membutuhkan lebih banyak manusia yang berpikir jernih. Lebih banyak generasi yang mencintai ilmu pengetahuan.

Lebih banyak pemimpin yang bekerja dengan nurani. 


Para pendiri  Boedi Oetomo telah menunjukkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan kesungguhan. 


Mereka menanam gagasan.

Dan gagasan itu kemudian tumbuh menjadi sejarah. 


Mungkin karena itulah kebangkitan nasional sebenarnya belum selesai.

Ia bukan sekadar peringatan tahunan.

Melainkan pekerjaan panjang untuk terus membangun manusia Indonesia yang cerdas, beradab, dan bermartabat. 


Sebab sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa tinggi pertumbuhan ekonominya.

Tetapi juga dari seberapa kuat ia menjaga akal sehat dan nuraninya.