Sport

Bola Mati Mematikan, Arsenal Tekuk Chelsea 2-1 dan Amankan Puncak

MENANG - David Raya berteriak suka cita setelah Arsenal menang 2-1 atas Chelsea di Emirates Stadium, Minggu (1/3/2026) malam. (the sun/getty)

LONDON, UNHAS.TV - Arsenal memetik kemenangan penting dalam laga panas melawan Chelsea untuk menjaga jarak di puncak persaingan gelar Liga Primer Inggris, Minggu (1/3/2026) malam.

Dalam pertandingan keras dan jauh dari kata indah itu, tim asuhan Mikel Arteta menang 2-1 lewat dua gol dari situasi bola mati—senjata utama yang kembali menjadi penentu.

Kemenangan ini membuat Arsenal kembali unggul lima poin atas Manchester City, meski telah memainkan satu laga lebih banyak. Di tengah tekanan perburuan gelar, tiga poin atas rival sekota menjadi suntikan napas yang krusial.

Arsenal memang tak memiliki mesin gol sekelas Erling Haaland. Namun efektivitas mereka dari set-piece menjadi pembeda.

Dua gol ke gawang Chelsea seluruhnya lahir dari sepak pojok. Bek tengah William Saliba membuka skor lewat sundulan, sebelum Jurrien Timber memastikan kemenangan melalui tandukan dari situasi serupa.

Ironisnya, Arsenal sempat “mencetak” tiga gol dari sepak pojok. Gol penyeimbang Chelsea terjadi setelah bola mengenai kepala Piero Hincapie dan masuk ke gawang sendiri.

Namun, dominasi Arsenal dalam bola mati kembali terlihat nyata. Sejauh musim ini, mereka telah mengoleksi 16 gol Liga Primer dari sepak pojok, tiga dari tendangan bebas, dan dua dari lemparan ke dalam.



Statistik pertandingan Arsenal vs Chelsea. (the sun)


Laga berjalan panas. Chelsea tampil lebih menyerang dibanding pertemuan sebelumnya di semifinal Piala Liga. Pelatih Liam Rosenior patut mendapat kredit atas keberanian timnya.

Namun disiplin menjadi masalah. Pedro Neto menerima dua kartu kuning dalam rentang empat menit babak kedua dan harus meninggalkan lapangan lebih cepat.

Arsenal unggul lebih dulu saat sepak pojok Bukayo Saka disambut duel udara di tiang jauh. Bola kemudian melewati garis, dengan sentuhan terakhir dari pemain Chelsea yang tak mampu menghindar. Meski demikian, Chelsea merespons cepat.

Kontroversi VAR

Kontroversi sempat muncul ketika bola mengenai lengan Declan Rice di kotak penalti Arsenal. VAR memutuskan tak ada pelanggaran. Keputusan itu memicu protes keras dari kubu tuan rumah.

Beberapa detik berselang, dari sepak pojok berikutnya, umpan silang Reece James membentur kepala Hincapie dan bersarang di gawang sendiri. Skor imbang.

Babak kedua menjadi milik Chelsea. Tanpa bek andalan yang absen, mereka tetap mampu menekan. David Raya tampil sigap menghalau peluang Enzo Fernandez dan Neto. Arsenal sempat kehilangan ritme, kekurangan ide, dan terlihat gugup.

Pergantian pemain menjadi titik balik. Masuknya Gabriel Martinelli memberi energi baru. Ketika Arsenal memperoleh sepak pojok lagi, mereka kembali memaksimalkannya.

Umpan Rice disambut sundulan Timber yang tak mampu dihalau kiper Robert Sanchez. Gol itu memicu protes karena dugaan pelanggaran di kotak penalti, namun wasit bergeming.

Situasi makin sulit bagi Chelsea setelah Neto diganjar kartu kuning kedua akibat tekel keras pada Martinelli. Bermain dengan sepuluh orang, mereka tetap berusaha menyamakan kedudukan.

Di masa tambahan waktu, Arsenal nyaris kehilangan segalanya. Raya melakukan penyelamatan krusial atas bola kiriman Alejandro Garnacho yang melintas tanpa tersentuh siapa pun.

Beberapa detik sebelum laga usai, tendangan salto Pedro kembali dimentahkan Raya. Bola liar sempat disambar Liam Delap dan masuk ke gawang, tetapi bendera asisten wasit terangkat menandai offside.

Peluit panjang berbunyi. Arsenal bertahan. Kemenangan ini mungkin tak memesona, bahkan cenderung “jelek” secara permainan terbuka. Namun efektivitas mereka dalam situasi bola mati kembali menjadi pembeda.

Jika Arsenal akhirnya mampu menjaga konsistensi hingga akhir musim dan mematahkan dominasi City, musim ini akan dikenang bukan karena permainan indah, melainkan karena kecerdikan memaksimalkan detail kecil. Dalam perburuan gelar yang ketat, detail itulah yang sering menentukan segalanya. (*)