MAKASSAR, UNHAS.TV - Badan Pimpinan Daerah Indonesian Housekeepers Association Sulawesi Selatan (BPD IHKA Sulsel) mendorong industri perhotelan segera menerapkan pengelolaan lingkungan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dorongan itu disampaikan melalui seminar dan pameran bertajuk Housekeeping Strategic for Ecology Harmony di Aston Makassar Hotel & Convention Center, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan bertema “Green Smart and Clean” tersebut menyoroti peran strategis divisi housekeeping dalam mengurangi timbulan sampah, menghemat sumber daya, dan menekan biaya operasional hotel.
Pesertanya berasal dari kalangan general manager, profesional perhotelan, tim housekeeping, pemasok kebutuhan hotel, serta pelaku industri hospitality di Sulawesi Selatan.
Ketua BPD IHKA Sulawesi Selatan Yovie Abdul Ghoffar mengatakan perubahan pola pengelolaan sampah di hotel tidak dapat lagi ditunda.
Menurut dia, seminar itu diselenggarakan untuk memperluas pengetahuan para pengelola hotel mengenai pemilahan dan pengolahan limbah sesuai dengan kebijakan pemerintah.
“Saya berharap seminar ini memberikan pengetahuan tentang bagaimana sampah dikelola. Hotel-hotel harus secepatnya menerapkan pengelolaan sampah sesuai aturan pemerintah,” kata Yovie.
Selain seminar, kegiatan tersebut menghadirkan pameran produk pendukung operasional housekeeping.
Sejumlah mitra menampilkan linen, handuk, bahan pewangi, tisu, peralatan kebersihan, perlengkapan laundry, serta berbagai kebutuhan hotel. Yovie menyebut dukungan juga datang dari instansi pemerintah yang membidangi pariwisata dan lingkungan hidup.
Seminar menghadirkan aktivis lingkungan dan penggerak komunitas Mashud Azikin serta General Manager MaxOne Hotel Makassar M. Yusuf Sandi.
Keduanya membahas hubungan antara keberlanjutan lingkungan, efisiensi usaha, dan perubahan preferensi konsumen dalam memilih akomodasi.
Mashud mengatakan kenyamanan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran kualitas sebuah hotel. Kepedulian terhadap alam, kata dia, mulai menjadi pertimbangan konsumen.
Karena itu, pelaku usaha hospitality perlu mengubah cara pandang terhadap limbah yang dihasilkan dari kegiatan operasional sehari-hari.
Menurut Mashud, hotel dapat memulai perubahan melalui langkah sederhana, yakni memilah sampah dari sumbernya. Pemilahan sejak dapur, kamar, restoran, dan area pelayanan akan memudahkan pengolahan lanjutan serta mengurangi biaya pengangkutan dan penanganan limbah.
Mengolah Limbah Menjadi Nilai Ekonomi
Salah satu pokok bahasan seminar ialah pengelolaan limbah organik secara terpadu. Sampah makanan dan bahan organik dari hotel dapat diolah menggunakan teknologi sederhana, antara lain eco enzyme, budidaya maggot, dan pembuatan kompos.
Metode tersebut dinilai mampu mengubah limbah yang semula menjadi beban operasional menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali.
Eco enzyme, misalnya, dapat dibuat melalui fermentasi limbah organik tertentu dan digunakan sebagai bahan pendukung pembersihan.
Mashud menyebut sedikitnya dua hotel di Makassar telah memanfaatkan eco enzyme untuk membersihkan lantai dan toilet serta membantu pengelolaan limbah pada instalasi pengolahan air limbah.
“Kalau hotel mengelola limbah dan memilah sampah dari sumbernya, biaya pengelolaan dapat dikurangi. *Eco enzyme* juga dapat menjadi alternatif yang murah dan efisien,” ujar Mashud.
Budidaya maggot turut diperkenalkan sebagai salah satu cara mengolah sisa makanan. Larva lalat tentara hitam dapat mengurai sampah organik sekaligus menghasilkan bahan pakan.
Adapun kompos dapat dimanfaatkan untuk taman hotel atau disalurkan kepada masyarakat dan kelompok pertanian.
Penerapan sistem tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan. Pengurangan volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir juga dapat membantu hotel menekan biaya operasional, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan, dan membangun citra usaha yang bertanggung jawab.
Bagi peserta, forum ini juga menjadi ruang untuk bertukar praktik pengelolaan lingkungan antarpelaku hotel. Pameran yang menyertai seminar mempertemukan kebutuhan operasional dengan penyedia teknologi, perlengkapan, dan produk kebersihan.
Kolaborasi tersebut diharapkan memudahkan hotel memilih solusi yang efisien, aman, serta dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan sehari-hari di seluruh unit.
BPD IHKA Sulawesi Selatan berharap konsep Green Smart and Clean tidak berhenti pada seminar. Yovie meminta hotel-hotel di Makassar mulai menyusun prosedur pengelolaan sampah, melatih pekerja, serta membangun kerja sama dengan pemerintah dan mitra pengolah limbah.
Menurut dia, housekeeping memiliki posisi penting karena berhubungan langsung dengan penggunaan bahan pembersih, linen, air, energi, dan pengelolaan sampah. Perubahan di bagian ini dapat memberi dampak luas terhadap kinerja lingkungan sebuah hotel.
Melalui kegiatan tersebut, IHKA Sulawesi Selatan menargetkan tumbuhnya kesadaran bahwa hotel yang bersih bukan hanya hotel yang tampak rapi bagi tamu, melainkan juga tempat usaha yang mampu mengelola sisa operasional secara bertanggung jawab.
Langkah itu diharapkan mempercepat transformasi industri perhotelan Sulawesi Selatan menuju praktik usaha yang lebih hijau, hemat, dan berkelanjutan.
(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)
BPD Indonesian Housekeepers Association Sulawesi Selatan menggelar seminar dan pameran bertajuk Housekeeping Strategic for Ecology Harmony di Aston Makassar Hotel & Convention Center, Sabtu (1/8/2026). BPD IHKA Sulsel mendorong industri perhotelan smenerapkan pengelolaan lingkungan yang lebih efisien dan berkelanjutan. (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)








