Oleh: Yusran Darmawan*
Di tengah sorak-sorai kemenangan Brasil yang membahana memenuhi stadion, seorang lelaki Jepang berjalan perlahan menuju tribun penonton. Langkahnya tenang. Wajahnya menyimpan kesedihan, tetapi tidak kepanikan.
Di hadapan ribuan pendukung Jepang yang datang dari berbagai penjuru dunia, Hajime Moriyasu lalu membungkukkan badan. Sebuah ojigi.
Tak ada pidato yang menggelegar. Tak ada gestur dramatis. Hanya satu gerakan sederhana yang justru berbicara lebih keras daripada ribuan kata.
Selama 95 menit sebelumnya, dunia menyaksikan Jepang memberikan salah satu penampilan terbaiknya. Mereka berhadapan dengan Brasil, negeri yang selama puluhan tahun menjadi sinonim sepak bola indah.
Di bawah arahan Carlo Ancelotti, Brasil dipaksa bekerja keras sejak menit pertama hingga penghujung pertandingan.
Jepang tidak datang untuk bertahan. Mereka menekan, menyerang, dan berlari tanpa mengenal lelah. Disiplin bertahan mereka nyaris sempurna. Transisi menyerang dilakukan dengan cepat dan berani. Berkali-kali Brasil dibuat kehilangan ritme.
Selama hampir satu setengah jam lebih, Samurai Biru seolah sedang "menikam" raksasa Amerika Selatan itu dengan organisasi permainan yang nyaris tanpa cela.
Gol kemenangan Brasil akhirnya lahir pada menit-menit terakhir. Sepak bola memang sering kali kejam. Ia tidak selalu memberi hadiah kepada tim yang paling berani.
Usai pertandingan, Moriyasu tidak mencari kambing hitam. Ia memilih memikul seluruh beban sebagai seorang pemimpin. Ia mengaku malam itu menjadi salah satu malam paling menyakitkan dalam kariernya. Ia meminta maaf kepada rakyat Jepang karena gagal membawa mereka melangkah lebih jauh.
Namun pada saat yang sama ia mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki sedikit pun alasan untuk menyalahkan para pemain. Mereka telah memberikan energi, keberanian, dan hati mereka. Mereka membuat dunia percaya bahwa Jepang mampu berdiri sejajar dengan salah satu bangsa terbesar dalam sejarah sepak bola.
Penghormatan juga datang dari kubu lawan. Ancelotti mengaku sengaja tidak merayakan kemenangan Brasil secara berlebihan. Baginya, sepak bola juga tentang rasa hormat. Ia melihat sendiri bagaimana Jepang membuat Brasil menderita selama 95 menit. Tim itu, katanya, telah memberikan segalanya. Dalam situasi seperti itu, kemenangan tidak layak dirayakan dengan kesombongan.
Betapa indahnya ketika rasa hormat lahir dari dua arah. Yang kalah tidak kehilangan martabat. Yang menang tidak kehilangan kerendahan hati.
Namun yang paling membekas justru terjadi beberapa detik setelah peluit panjang berbunyi. Moriyasu berjalan menuju tribun. Ia membungkuk. Mengapa satu gerakan sederhana itu begitu menyentuh jutaan orang di seluruh dunia?
Sebab ojigi bukan sekadar etiket. Ia adalah filsafat hidup bangsa Jepang.
Banyak orang mengira tradisi itu lahir pada zaman samurai. Memang benar. Para samurai menjadikan membungkuk sebagai penghormatan kepada lawan, guru, dan tuannya.
Namun ketika zaman feodal berakhir, ketika pedang-pedang disimpan di museum, dan ketika Jepang memasuki era modern, ojigi tidak ikut menghilang. Ia turun dari medan perang ke ruang kelas. Ia berpindah dari istana ke kantor. Ia hadir di stasiun kereta, restoran, toko, rumah sakit, bahkan sekolah-sekolah.
.webp)
Jepang berubah menjadi salah satu negara paling maju di dunia tanpa pernah merasa perlu meninggalkan kebiasaan untuk membungkukkan badan di hadapan sesama manusia.
Barangkali karena mereka memahami sesuatu yang sering dilupakan dunia modern: kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan. Ia justru tanda kekuatan.
Berabad-abad lalu, Laozi menulis dalam Tao Te Ching bahwa semua sungai mengalir menuju laut karena laut bersedia berada di tempat yang lebih rendah daripada semuanya. Justru karena kerendahan itulah laut menjadi tujuan bagi seluruh aliran air.
Kebesaran lahir bukan karena selalu berdiri paling tinggi, melainkan karena bersedia merendahkan diri. Moriyasu memperlihatkan filosofi itu malam itu.
Selama pertandingan, Jepang berbicara lewat permainan. Setelah pertandingan selesai, sang pelatih berbicara lewat sikap.
Ia tidak sedang mempermalukan dirinya ketika melakukan ojigi. Ia sedang menunjukkan bahwa seorang pemimpin pertama-tama harus mampu menundukkan egonya sendiri.
Dunia hari ini justru bergerak ke arah yang sebaliknya. Media sosial dipenuhi orang yang tidak pernah mau mengakui kesalahan. Politik dipenuhi mereka yang selalu merasa benar. Kemenangan sering dirayakan dengan mengejek lawan. Kekalahan segera disertai tudingan, pembelaan, dan pencarian kambing hitam.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh ego, satu gerakan membungkuk terasa seperti datang dari peradaban yang lain.
Seorang pemikir Jepang pernah menjelaskan bahwa inti Bushido bukanlah kemampuan mengalahkan musuh, melainkan kemampuan mengalahkan diri sendiri. Keberanian sejati bukan hanya maju ke medan perang, tetapi juga menerima kekalahan dengan kehormatan.
Barangkali karena itulah Jepang berkali-kali mampu bangkit sepanjang sejarahnya.
Dalam bukunya Upheaval: Turning Points for Nations in Crisis, Jared Diamond menjelaskan bahwa salah satu kekuatan terbesar Jepang adalah kesediaannya menerima kenyataan, belajar dari kegagalan, lalu memperbaiki diri tanpa kehilangan disiplin.
Dari Restorasi Meiji hingga kehancuran akibat Perang Dunia II, Jepang berulang kali menunjukkan bahwa kekalahan tidak pernah menjadi akhir perjalanan. Kekalahan adalah ruang belajar untuk kemenangan berikutnya.
Mungkin itulah makna terdalam ojigi. Ia bukan sekadar membungkukkan badan. Ia adalah kesediaan membungkukkan kesombongan.
Malam itu Jepang memang kalah dari Brasil. Papan skor akan mencatat kemenangan Brasil. Statistik akan mengingat siapa yang lolos ke babak berikutnya.
Tetapi ingatan manusia sering kali bekerja dengan cara yang berbeda.
Yang akan terus dikenang bukan hanya gol kemenangan Brasil. Yang akan hidup jauh lebih lama adalah seorang pelatih Jepang yang berjalan menuju tribun, lalu membungkukkan badan di hadapan para pendukungnya.
Di situlah Hajime Moriyasu mengajarkan sesuatu yang jauh melampaui sepak bola. Skor akan selalu berubah. Rekor akan selalu dipecahkan. Piala akan berpindah dari satu tangan ke tangan lain.
Tetapi dunia tidak selalu mengingat siapa yang menang. Dunia lebih lama mengingat siapa yang tetap membungkuk ketika ia kalah.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan knowledge strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.




-300x164.webp)



